Langkah maju bagi hubungan AS dan Indonesia?

Brian D. Hanley
HMINEWS.COM, Jakarta– Presiden AS Barack Obama pekan lalu berkunjung ke Indonesia untuk melakukan sebuah lawatan bersejarah. “Barry”, begitu ia akrab disapa di sini, menghabiskan masa kecilnya di Jakarta, ibukota Indonesia.

Kunjungan Obama menjadi kesempatan bagi Amerika Serikat untuk melihat kemajuan Indonesia dalam hal kewarganegaraan, politik, ekonomi, sosial dan budaya, dan untuk mendorong perhatian pemerintah dan masyarakat sipil pada tugas penting melestarikan perdamaian di Indonesia, di Asia Tenggara dan di tempat lain.

Indonesia, yang merupakan negara demokrasi yang baru tumbuh dan punya sejarah panjang moderat sekular, adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, dengan lebih dari 250 juta penduduk yang menghuni sekitar 17.000 pulau. Indonesia telah cukup lama menikmati masa damai dan stabilitas. Namun, masih diperlukan banyak upaya untuk memantapkan perdamaian di daerah-daerah yang pernah atau masih berkonflik, dan untuk melawan ekstremisme yang menggunakan kekerasan.

Kunjungan Obama – yang sempat beberapa kali ditunda – telah membangkitkan banyak emosi. Sebagian orang Indonesia memprotes operasi militer AS yang masih berlanjut di Irak dan Afghanistan, dan derita rakyat Palestina, yang tak hanya dipandang sebagai kesalahan Israel tapi juga kesalahan kebijakan AS. Selain itu, para pembela HAM berang dengan kenyataan bahwa Amerika Serikat menjalin kembali hubungan militer dengan Kopassus, yang banyak anggotanya dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran HAM selama beberapa dasawarsa di seantero Indonesia dan bekas koloninya, Timor-Leste.

Meskipun masalah-masalah ini penting dan perlu ditanggapi, Obama memang tak perlu menjadikannya hal yang mendominasi agenda yang akan berpengaruh buruk pada kunjungan pentingnya ini, karena sebagian besar orang Indonesia juga ingin meretas jalan baru untuk kemajuan hubungan AS-Indonesia.

Dengan berfokus pada masalah-masalah kerjasama ekonomi, pelestarian lingkungan, tata pemerintahan yang baik, pemberantasan kemiskinan, dan upaya melawan terorisme, Obama bisa membangun suasana kondusif dan memajukan agenda globalnya yang ambisius. Terjebak dalam pendekatan pandangan negatif tidak akan banyak berguna, sebab pandangan positif telah terbukti jauh lebih efektif.

Obama juga harus mempertimbangkan Indonesia sebagai panggung penting untuk berhadapan dengan dunia Muslim, melanjutkan tawaran damai yang disampaikannya di Kairo tahun lalu.

Dengan bicara pada rakyat Indonesia dan warga dunia, Obama punya kesempatan membangkitkan kembali harapan akan dunia yang lebih damai, harapan yang mendorongnya meraih kursi presiden, pada saat dunia sangat membutuhkannya. Tidak ada masalah domestik atau perubahan dalam pemerintahan – besar atau kecil – yang mengganggu Obama untuk bisa membuktikan komitmennya untuk menjembatani perpecahan antara dunia Muslim dan dunia Barat, dan antara Timur dan Barat, Utara dan Selatan.

Obama juga harus mendorong Indonesia dengan bersahaja dan rendah hati tidak saja untuk terus melaksanakan kewajiban-kewajiban internasionalnya, tapi juga untuk menjadi yang terdepan dalam mendorong toleransi agama dan memajukan demokrasi, HAM dan kebebasan – di tingkat regional maupun global. Asia Tenggara bisa menjadi tempat yang baik untuk memulai, dan Indonesia telah menunjukkan keteladanan dengan mendorong demokrasi di Myanmar. Selain itu, Indonesia juga bisa berperan bagi Thailand dan Filipina, saat mereka disibukkan dengan berbagai pemberontakan dan serangan sporadis yang membuat politik tak stabil.

Di luar perannya di ASEAN, Indonesia harus didorong untuk menjadi pemain strategis dalam memajukan perdamaian dan keamanan internasional di wilayah lain. Dukungan dan dorongan Indonesia bisa menjadi salah satu kunci menyelesaikan masalah pelik terkait ambisi nuklir Iran, karena banyak yang memandang Indonesia sebagai teman bicara Muslim yang tak memihak dan adil. Diplomasi itikad baik yang proporsional di PBB harus diupayakan oleh pihak-pihak yang peduli, dengan Indonesia memainkan peran utama.

Demikian pula, Indonesia bisa menjadi tulang punggung untuk melanjutkan kembali proses perdamaian Timur Tengah, yang lagi-lagi menemui jalan buntu. Isyarat yang baik terhadap Israel, seperti hubungan diplomatik dan ekonomi, bisa menjadi dorongan bagi jalan baru untuk maju bagi semua pihak yang terlibat.

Peran penting Indonesia sebagai pihak yang juga berkepentingan di tingkat dunia semestinya tidaklah diabaikan, dan Amerika Serikat harus mempererat hubungan dengan mitra dan sekutunya di G20 ini. Inilah saatnya untuk keluar dari paradigma kolonialisme, paternalisme dan imperialisme, dan menjalin dialog dan kerjasama multilateral. Untuk itu, menemukan titik temu akan menjadi kepentingan bersama, dan warga dunia bisa hidup damai dengan dipandu oleh penghormatan terhadap kedaulatan hukum.

Banyak orang Indonesia yang telah terpikat oleh Obama sejak ia memasuki kampanye untuk menjadi presiden. Mari membangun hubungan yang kuat, positif dan personal ini dan memulai sejarah perubahan melalui pergaulan yang terbuka, jujur dan konstruktif.

###

* Brian D. Hanley adalah Direktur Wilayah Asia, Search for Common Ground. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM.