Tiga Hal Yang Membuat SBY Menangis

HMINEWS- Ternyata seorang presiden juga memiliki rasa kemanusiaan yang sama dengan kebanyakan orang. Selama masa pemerintahannya, 2004-2009, SBY menitikan air mata sebanyak tiga kali. Air mata SBY yang pertama, jatuh ketika dia menonton film Ayat-Ayat Cinta.

“Tangis pertama Pak SBY muncul pada saat nonton Ayat-ayat Cinta. Pak SBY mengatakan, saya terharu dan meneteskan air mata,” ujar wartawan Kompas, Wisnu Nugroho saat peluncuran bukunya yang berjudul “Pak Beye dan Kerabatnya” di Gramedia Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (26/11/2010).

Saat-saat SBY meneteskan air matanya tersebut, diceritakan Wisnu yang pernah aktif meliput di Istana itu dalam bukunya. Air mata kedua SBY, kata Wisnu, terlihat ketika SBY bersedih mendengar kabar derita para korban lumpur Lapindo. Ketika itu, SBY menerima MH Ainun Nadjib yang mengajak korban lumpur Lapindo mendatangi kediaman SBY di Cikeas. “Pak Beye ternyata sama seperti kita, terenyuh juga. Sayangnya air mata jatuh itu tidak jadi kebijakan yang membuat lebih baik,” kata Wisnu.

Setelah mendengar derita para korban lumpur Lapindo tersebut, lanjut Wisnu, SBY langsung memanggil bos PT Lapindo Brantas, Nirwan Bakrie ke istana. Alih-alih teredam kemarahannya, SBY, kata Wisnu malah bertambah marah kepada Nirwan. Karena, Nirwan membuat SBY menunggu cukup lama. “Ini sejarah pertama di Istana, dimana presiden harus menunggu tamu. Dan SBY marah betul. Pertama harus menunggu, kedua menagih janji yang dinyatakan tapi tidak diberi, memberi ganti rugi Lapindo,” papar Wisnu.

Saking marahnya, SBY tidak banyak berkata pada Nirwan. Dengan mimik menahan marah, lanjut Wisnu, SBY berkata pada Nirwan dengan suara yang dipelankan, “Aceh saja bisa selesai, mengapa ini tidak?!” hardiknya.

Lantas, kapan ketiga kali SBY menangis? Sayangnya Wisnu tidak mengungkapnya dalam peluncuran bukunya hari ini. Jika penasaran, Anda dapat membaca buku “Pak Beye dan Kerabatnya” yang sudah tersedia di pasaran.

Dalam buku tersebut, dipaparkan kisah emosional yang mewarnai hubungan SBY dengan kerabatnya, termasuk para pengusaha. Salah seorang pengusaha yang digambarkan dekat dengan SBY adalah Tommy Winata. Dalam buku karangan Wisnu, Tommy disebut dengan “Pak Tewe”.[]kcm/dni