Perbicangan Imam Mesjid Istiqlal dengan Obama

HMINEWS.COM- Kunjungan 25 menit Presiden Amerika Serikat Barrack Hussein Obama ke Masjid Istiqlal, Jakarta menyisahkan sedikit kenangan manis pada Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.

Alilah yang menyambut kedatangan Obama dan istrinya Michelle Rabu pagi pukul 08.25 WIB itu. Pria inilah yang menemani pasangan itu berjalan-jalan mengenali mesjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.

“Pertama kali Obama langsung mengucapkan asalamualaikum. Lalu saya menjawab “waalaikum salam dan selamat datang di tanah air Anda yang kedua,” kata Imam.

Imam Ali hanya seorang diri menemani Obama. Dia mengenakan setelan jas berdasi dan kopiah tak lepas dari kepalanya. Sang imam berada di tengah, diapit Obama dan Michelle, di bawah pantauan ketat “Secret Service” yang mengikuti mereka dari belakang. Sementara para tamu dan wartawan hanya diijinkan cukup sampai lantai dasar saja.

“Seharusnya saya di sebelah kanan, tapi beliau yang mengapit ya bagaimana lagi. Hanya saya saja dan para tamu negara menunggu di lantai dasar,” kenang Ali.

Bagaikan pemandu wisata, Imam mengenalkan Obama tentang setiap sudut kompleks mesjid luas yang dibangun ketika jaman Soekarno itu. Tidak hanya itu, dengan telaten Ali Mustafa menerangkan makna Istiqlal serta setiap hal yang disimbolkannya.

Masjid Istiqlal adalah masjid terbesar ke dua di dunia setelah Masjidil Haram dan Istiqlal, katanya kepada Obama dan Michelle.

“Masjid Istiqlal adalah sebuah simbol kemerdekaan Islam di Indonesia yang melarang umat manusia untuk menindas satu sama lainnya,” kata Ali Mustafa.

Kubah Perak

“Ini bagus sekali, saya suka ini,” kata Obama menunjuk kubah perak berdiameter 45 meter dan bertuliskan kaligrafi ayat Kursi. Obama menanyakan arti tulisan kaligrafi “Laa ilaaha illallah” yang ada di dalam masjid.

“Ya saya kasih tahu bahwa artinya ‘tiada tuhan selain Allah,” kata Imam Ali Mustafa.

Sekeluarnya dari kubah besar yang dikelilingi 12 tiang masjid, Obama beranjak ke pelataran selatan lantai utama, antara bedug dan menara Istiqlal.

Imam menjelaskan, bedug adalah alat seni tradisional Indonesia yang sudah biasa digunakan orang Indonesia sebelum Islam masuk ke negeri ini. Lalu setelah Islam masuk ke Indonesia, sambung Ali Mustafa kepada Obama, bedug digunakan untuk mengajak orang menunaikan ibadah sholat.

“Kedatangan Islam di Indonesia tidak menghabiskan budaya lokal dan Islam dapat berkerjasama dengan budaya setempat,” kata Imam Ali kepada Obama.

Mereka bertiga terus berjalan di sepanjang dinding pelataran selatan bertutupkan kain merah dan putih.

“Obama tidak sempat memukul bedug hanya melihat-lihat saja,” katanya Ali Mustafa kepada ANTARA News. Perjalanan lalu diteruskan ke arah menara Istiqlal.

Ali menerangkan bahwa menara bertinggi 66,66 meter seperti itu adalah perlambang jumlah ayat suci dalam Alquran, sementara menara besi setinggi 30 meter adalah personifikasi dari jumlah juz dalam Alquran.

Ali Mustafa mengungkapkan, aaa satu perbincangan menarik Obama ketika presiden negara adidaya itu berada di menara Istiqlal, yaitu bagian gedung Istiqlal yang dekat jaraknya ke Gereja Katedral di seberang mesjid.

“Jarak yang dekat antara masjid dan gereja menandakan hubungan yang harmonis antara umat beragama di Indonesia,” papar Ali Mustafa kepada Obama.

Imam menguraikan hal itu sebagai salah satu contoh keharmonisan kehidupan beragama di Indonesia. Ali juga berkata kepada Obama bahwa pengurus Masjid Istiqlal kerap menyediakan lahan pakir di halaman luar Istiqlal untuk para Jemaat Gereja Katedral ketika merayatakan Natal dan perayaan-perayaan besar kristiani lainnya.

“Berhubung lahan parkir gereja terbatas, kami sediakan halaman luar Istiqlal untuk parkir mobil para jemaat,” kata Ali Mustafa, disambut anggukan Obama dan Michelle.

“Ya, ini adalah contoh kerjasama yang baik antar umat beragama,” kata Obama menyambung paparan Ali Mustafa sambil menganggukan kepala diiringi senyum yang tidak henti.

Obama, kata Ali Mustafa, berjanji akan membantu sebuah perkumpulan muslim di Amerika yaitu Indonesian Muslim Association in America (IMAAM).

Obama juga menanyakan pertanyaan non formal seperti asal Imam Ali.

“Anda dari mana Imam Ali?” tanya Obama.

“Saya dari Jawa Tengah, tempat gunung Merapi meletus,” kata Imam Ali. Spontan Obama tertawa terkesan menghadapi kebetulan ini.

“Insya allah”

Seperti umumnya kunjungan kenegaraan, di ruangan VIP Istiqlal Imam Ali memberi Obama satu plakat Istiqlal, sebuah buku profil Istiqlal dan dua buah buku karangannya sendiri.

Kedua buku itu berjudul “Islam di Amerika” dan “Islam Between War and Peace”.

Sementara White House dan Obama menyerahkan satu map merah berbungkus karton warna emas berlambangkan negara AS di tengahnya.

Map itu berisi satu kopi naskah deklarasi kemerdekaan AS (Declaration of Independence), sebuah naskah yang ditandatangani Kongres dan para pendiri negara paling berpengaruh di dunia itu, pada 4 Juli 1776.

“Lihat ya, ini langsung dikirim dari gedung putih buat saya Imam mesjid Istiqlal,” kata Imam Ali dengan bangganya memperlihatkan kepada wartawan.

Di atas meja kecil depan ruangan VIP Obama menulis selembar surat dengan tangan kirinya tentang kesan dan pesannya terhadap Istiqlal dan Islam.

Salah satu kesan dalam suratnya itu adalah harapan dia bahwa kedatangannya ke Istiqlal dapat memberikan pemahaman hidup yang harmonis di setiap negara yang penduduknya saling berbeda keyakinan.

Saat Obama akan segera mengakhiri kunjungannya ke Istiqlal dan bergegas pergi ke Universitas Indonesia, Ali Mustafa menyampaikan satu pesan khusus untuknya.

“Anda memegang peran besar dalam menjaga perdamaian dunia,” kata Ali.

Obama menjawab, “Insya Allah.” Dia lalu masuk ke “Cadillac One,” mobil kepresidenan AS yang membawanya ke sejumlah tempat di Jakarta yang dikunjunginya itu.

Dalam kunjungan ke Istiqlal, Presiden AS ke-44 ini tidak menyampaikan pidato terbuka kepada publik.

Ali Mustafa mengatakan Obama tidak memberikan pesan apapun kepada umat Islam, tapi kunjungannya ke Istiqlal secara tidak langsung membawa pesan positif terhadap umat Islam.

“Obama adalah sosok yang cerdas, terbuka dan berpikiran postif,” kata Ali tentang Obama.

Tidak terlihat

Masjid Istiqlal hari itu dihiasai spanduk ucapan ‘selamat datang’ berlatarkan umbul-umbul merah putih saja.

Junaidi, petugas kebersihan Masjid Istiqlal, mengatakan memang tidak ada hiasan apapun untuk siapapun yang datang ke Istiqlal.

“Kami hanya merapihkan pohon-pohon dan kebersihan sekitar Istiqlal,” kata Junaidi.

Junaidi menceritakan bahwa persiapan itu tenaga para pekerja, karena jam kerja harus ditambah.

“Untuk persiapan ini, ada teman saya yang harus bekerja sampai 24 jam, bahkan menginap,” kata Zunaidi.

Sementara Muhammad Rozi, murid Madrasah Tsanawiyah Istiqlal mengaku bangga Obama mendatangi Istiqlal.

“Semoga Indonesia dan AS bisa bersatu dalam ekonomi dan politiknya,” kata si kecil Rozi.

Tapi teman kelasnya, Muhammad Hatami, mengaku kecewa karena beberapa ruas jalan harus demi pengamanan Obama.

“Saya tadi terlambat masuk kelas, gara-gara jalanan ditutup jadi harus mutar,”kata Hatami.

Zunaidi, Rozi dan Hatami menyesal tidak bisa melihat langsung Obama.

“Saya saja yang pegawai tidak boleh masuk,” kata Zunaidi.

“Obamanya kok tidak kelihatan ya, berbeda dengan Presiden Austria,” sambung Hatami.

Selepas kepergian Presiden AS Barrack Obama, memang giliran Presiden Austria Heinz Fischer yang menelusuri sudut-sudut Masjid Istiqlal. Dan berbeda dari Obama, kepala negara di Eropa Tengah ini masuk ke mesjid tanpa pengawalan ketat sehingga siapapun bisa melihat dan menyapanya.[]antara/dni