Merkel: Multikulturalisme Jerman Gagal Total

Lewis Gropp
HMINEWS.COM, Jerman – Kanselir Jerman, Angela Merkel, baru-baru ini menyatakan bahwa multikulturalisme telah “mati”. Pernyataan ini tidak sesuai kenyataan, karena kata “multikulturalisme” berarti berfungsinya koeksistensi berbagai budaya dalam sebuah komunitas. Itu artinya multikulturalisme adalah konsep yang universal dan tak dibatasi waktu. Dan di dunia yang semakin mengglobal, konsep ini lebih absah lagi dibandingkan sebelumnya karena tidak ada lagi yang namanya masyarakat atau negara yang homogen secara etnis.

Komentar Merkel lebih dimaksudkan untuk “menyenangkan” kalangan konservatif di akar rumput partainya sendiri. Yang tak kalah pentingnya, suara-suara anti-Islam dan kebencian terhadap imigran tengah meningkat di kalangan rakyat pemilih. Dalam bukunya, Germany is Doing Away with Itself, yang diterbitkan musim panas lalu, mantan politisi dan anggota dewan Deutsche Bank, Thilo Sarrazin, membuka perdebatan publik tentang multikulturalisme ketika ia menyatakan bahwa tingginya angka imigrasi ke Jerman mengarah pada kemunduran peradaban yang berbahaya, dan dapat merusak gen orang Jerman yang berkualitas tinggi.

Memang mustahil untuk menyangkal bahwa imigrasi yang tak terkendali telah menciptakan masalah-masalah integrasi di Eropa di masa lalu. Jerman, dan Eropa pada umumnya, mempunyai masalah-masalah integrasi yang mengkhawatirkan. Banyak komunitas imigran, misalnya, memisahkan diri dari masyarakat arus utama, merasa terkucil dalam banyak hal lantaran penguasaan bahasa Jerman yang sangat lemah. Karena masalah besar bahasa ini, para guru di sebagian sekolah tidak bisa lagi mengatur kelas karena para siswa tidak mengerti apa yang disampaikan.

Ada banyak pemuda imigran yang tinggal di Jerman yang menjauhkan diri dari masyarakat karena merasa diasingkan dan menjadi lebih rentan pada pemikiran ekstremis. Ini mungkin bisa menjelaskan rencana pemboman kereta api yang gagal pada 2006 yang melibatkan dua pemuda Lebanon yang telah tinggal di Jerman selama beberapa tahun. Meskipun perlu juga untuk dicatat bahwa hanya segelintir imigran yang bersedia melakukan aksi-aksi teror.

Debat ini memalukan, mengingat Jerman bisa menjadi salah satu negara termakmur di dunia terutama justru karena para imigran Turki yang merupakan para pekerja keras, yang ditarik ke Jerman sejak 1960-an. Tanpa mereka, Jerman tidak akan menjadi negara sekaya sekarang. Para pembuat kebijakan di Berlin sadar akan masalah-masalah ini, dan tak ada yang bisa mengklaim sekarang bahwa koeksistensi dalam sebuah masyarakat yang pluralistik bisa terwujud tanpa nilai-nilai dasar yang berlaku untuk semua orang.

Lembaga-lembaga politik sadar bahwa masalah-masalah integrasi yang kita hadapi sekarang bisa dijelaskan secara sosial-politik dan bukanlah masalah genetika atau agama. Pandangan menggelikan yang disampaikan Sarrazin bisa langsung ditolak hanya dengan melihat sekilas ke seberang Atlantik: menurut sebuah survei Pew Survey pada 2007, di Amerika Serikat para imigran Muslim (dua pertiga Muslim Amerika dilahirkan di luar negeri) lebih terintegrasi dan secara ekonomi lebih berhasil ketimbang para imigran lainnya, dan mereka pun mengenyam tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Faktor lain yang mungkin memicu pernyataan Merkel adalah bahwa krisis ekonomi di Jerman, seperti halnya di Eropa secara lebih luas, telah menebarkan iklim ketidakpastian. Pada masa-masa yang tak menentu, orang menjadi panik – dan orang-orang panik cenderung berperilaku lebih agresif.

Namun, tatanan demokrasi tidaklah berakar pada kemakmuran ekonomi melainkan pada ide. Ide-ide seperti hak-hak yang setara dan kebebasan beragama. Dan, di bawah Merkel, pemerintah Jerman telah berbuat banyak untuk mendorong nilai-nilai ini. Pada periode legislatif terakhir misalnya, Menteri Dalam Negeri Wolfgang Schäuble dengan tegas menyatakan bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Dan presiden Jerman yang baru, Christian Wulff, menegaskan kembali pesan ini dalam pidatonya pada 3 Oktober di Hari Jerman Bersatu, yang memperingati saat bersatu kembalinya Jerman pada 1990.

Namun, kritik yang Wulff terima dari partainya dan masyarakat umum ternyata cukup kuat, dan ini memperlihatkan adanya anggapan masyarakat luas bahwa ia telah mengecilkan nilai-nilai budaya Barat.

Yang terjadi sebetulnya adalah sebaliknya. Melalui pesan ini, Wulff juga menekankan bahwa orang Kristen di Turki, seperti orang Muslim di Jerman, berhak mendapat perlakuan yang sama. Dan mereka yang mengklaim bahwa dunia Barat harus tetap berdiri di atas akar-akar Kristennya, dan menolak mengakui Islam, pada kenyataannya justru mengingkari demokrasi dan kebebasan beragama.

Jadi, multikulturalisme tidak mati. Karena sebuah negara yang didasarkan pada nilai-nilai demokrasi yang fundamental seperti kebebasan beribadah, menunjukkan kekuatan sejatinya bukan dengan menolak melainkan dengan meneguhkan keragaman budayanya.

Itulah yang terjadi, dan akan senantiasa demikian.

###

* Lewis Gropp adalah jurnalis lepas di Cologne, Jerman. Ia membidangi isu-isu agama dan sastra dunia, dan menjadi redaktur Qantara.de, sebuah majalah daring yang meliput masalah-masalah terkait dengan Barat dan dunia Muslim. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM.