illustrasi

HMINEWS.COM- Banyaknya  aksi demo akhir-akhir ini mengundang banyak petanyaan dikalangan akyivis. Pasalnya terenduskan kabar bahwa akhir-akhir ini telah beredar kabar tentang adanya demo bayaran. Hal ini jelas menandakan bangsa ini sedang sakit. Banyak anak muda yang tidak bisa bekerja secara profesional akhirnya mereka mencari uang dengan jalan singkat melalui demo bayaran.

Demikian diungkapkan Ketua Umum PBHMI M Chozin Amirullah kepada okezone. Menurut dia, hal tersebut diperparah dengan banyaknya kalangan aktivis yang sudah luntur idealismenya dan berprofesi sebagai broker demo. “Tentu HMI sangat menentang itu,” kata Chozin saat berbincang dengan Okezone di Jakarta belum lama ini.

Lantas apa perbedaan antara demo yang dilakukan murni karena semangat perjuangan dan idealisme dengan demo bayaran? Bedanya sudah jelas, yang satu demo karena diorder, satunya lagi karena memang ada idealisme yang diperjuangkan dan salah satunya melalui demo.

“Untuk membedakan mudah, kalau demo bayaran biasanya pesertanya tidak paham dengan substansi persoalan yang didemokan. Dari mimik mukanya saja ketahuan, mereka bukan terdiri dari orang-orang yang bisa berpikir secara cerdas dan hanya mengekor koordinator lapangannya,” paparnya.

Sementara demonstran yang berangkat dari idealisme, lanjut Chozin, lazimnya benar-benar paham akan permasalahan yang didemokan. “Mereka terdiri dari orang-orang yang bisa berpikir. Dilihat dari isunya, biasanya demo bayaran sangat sektoral dan tidak menyentuh persoalan rakyat,” sambungnya.

Sedangkan demo dengan idealisme, tambah Chozin lebih memperjuangkan persoalan-persoalan riil di masyarakat. Dia pun tidak menampik adanya mahasiswa yang ikut dalam kelompok ini, meski jumlahnya tak banyak. “Jelas ada, tetapi untuk kalangan mahasiswa sesungguhnya tidak banyak. Biasanya demo bayaran dilakukan bukan oleh mahasiswa, tetapi oleh orang-orang yang tidak jelas pekerjaannya,” kata Chozin.

Pendemo bayaran ini menurutnya sengaja mendapatkan penghasilan dari demo tersebut. Ironisnya, yang suka meng-order para demonstran bayaran ini seringkali justru berasal dari pengusaha, penguasa, dan bahkan pejabat yang ingin meraih posisi tertentu.

Kalaupun ada mahasiswa yang berprofesi sebagai demonstran bayaran, biasanya sudah senior dan sudah malang melintang di dunia pergerakan. “Dia paham benar jalur-jalur untuk berhubungan dengan pengusaha atau penguasa lalu digunakan kesempatan tersebut untuk meraih keuntungan pribadi. Yang seperti ini adalah aktivis gadungan, pengkhianat amanah pergerakan mahasiswa dan kaum muda,” paparnya.

Lalu, wajarkah demo bayaran di era reformasi sekarang ini? “Tidak wajar, memalukan, dan merusak citra gerakan mahasiswa,” tandasnya.[]okz/dni