Ani SBY Capres 2014, Bagaimana Sikap PKS?

HMINEWS- Di mata kaum hawa,  Partai Keadilan Sejahtera (PKS)  masih diskriminatif, bias gender dan  ‘alergi’ dengan kepemimpinan wanita.  Payah, PKS belum bisa mendukung Ani Yudhoyono jika diusung sebagai calon presiden di Pemilu 2014. Mestinya PKS  bersikap legowo  atas kemunculan Ani Yudhoyono. Bukankah itu kemodernan dan kebesaran jiwa PKS sendiri jika menerima kepemimpinan perempuan?

PKS mustinya bersikap sejuk  atas tampilnya Ani SBY ke panggung politik dan kans Ani cukup besar untuk menang jadi capres 2014. Dengan sikap ini, kita khawatir, jika publik  berbicara tentang peran partai terhadap kemajuan perempuan Indonesia, partai  yang  disebut  publik menghambat karier perempuan di ndonesia adalah PKS. Publik  mungkin menilai partai ini bukan hanya diskriminatif terhadap perempuan, tetapi juga melecehkan keberadaan perempuan, sebagai istri dan ibu.

Bagaimana tidak melecehkan? Coba lihat, mulai presiden partai, Tifatul Sembiring hingga Sekjennya Anismata,  hampir semua melakukan Poligami. Ironisnya, saat masalah poligami dipertanyakan, dengan enteng salah satu orang DPP PKS mengatakan, bahwa pengurus PKS memang diperbolehkan melakukan poligami, dengan alasan kenyataannya , jumlah perempuan Indonesia lebih banyak dibandingkan laki-laki. Tentu saja, di luar alasan Islam memang mmbolehkan Poligami.

Coba bayangkan betapa naifnya, orang-orang yang duduk di Partai yang notabene katanya berjuang untuk rakyat, tapi malah melecehkan perempuan. Bukankah perempuan itu bagian dari rakyat? Nah, kalau sampai orang-orang dari PKS yang menghalalkan dan malah menganjurkan poligami , menjadi pemimpin di negeri ini, betapa menderitanya kaum perempuan di Indonesia, karena bisa jadi Undang -Undang yang dulu melarang pegawai negeri/ABRI menikah lagi itu, akan dihapus oleh PKS dan diubah untuk “boleh menikah lebih dari satu”.

Tak hanya itu, PKS juga partai yang tidak menghargai arti “cinta sejati” dan bahkan cenderung mengabaikan perasaan anak-anaknya. Lihat apa yang dilakukan pendiri PKS, Hidayat Nur Wahid. Belum kering tanah kuburan istrinya, sudah menikah lagi, bahkan belum hitungan setahun istri barunya sudah melahirkan. Coba bayangkan, pernah beliau ini menghitung bagaimana perasaan keluarga istri pertamanya yang sudah meninggal dan anak-anaknya yang baru kehilangan ibunya? Apapun alasannya, para kaum lelaki PKS ini sepertinya lebih mementingkan pemuasan syahwad, ketimbang menghargai perasaan manusia. Orang seperti inikah yang akan kita jadikan pemimpin? Keteladanan apa yang bisa kita tiru?

Di luar melakukan pelecehan kepada perempuan Indonesia, PKS juga tidak menghargai eksistensi wanita untuk berkarier. Coba saja salah satau alasan PKS tidak mendekat PDIP hanya karena pemimpinanya perempuan, Megawati.

Soal mengapa PKS tidak setuju dengan eksistensi perempuan sebagai pemimpin ditanyakan dalam wawancara di sebuah televisi, Hodayat Nur Wahid dengan santai mengatakan, “kalau masih ada lelaki, mengapa perempuan?”. Masyaallah, kalau semua orang PKS punya pendapat yang demikian, betapa tidak adilnya sikap PKS ini terhadap perempun yang memang punya kemampuan dalam memimpin,baik di politik, ekonomi, atau apapun juga. Ini sama dengan kita kaum perempuan dibawa ke zaman Jahiliyah, karena perempuan hanya akan dianggap sebagai konco wingking (teman di belakang), pembantu dan pemuas nafsu.

Wahai perempuan Indonesia.  inikah partai yang akan Anda dukung? Dari partai inikah kita akan memiliki pemimpin di negeri ini? Kalau jawaban kita “iya”, betapa bodohnya kalian semua

Dalam kaitan ini, Dewan Syariah DPP Partai Keadilan Sejahtera sampai sekarang untuk kepala negara memutuskan,’’ DPP PKS belum membolehkan perempuan,” ujar anggota FPKS Anshori Siregar,Jakarta, Senin (22/11/2010).

Menurutnya, PKS bisa menerima jika istri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu diposisikan sebagai calon wakil presiden. “Untuk selain kepala negara boleh. Tapi kalau kepala negara nggak bisa mendukung. Makanya dulu Megawati nggak mau kita,” ujarnya.

Selain itu, Anshori tak begitu yakin Partai Demokrat sebagai partai binaan SBY, bakal mencalonkan Ani, meski tingkat popularitasnya saat ini kian naik. ” Partai Demokrat dan SBY sudah bilang tidak akan mencalonkan istrinya. Kalau berubah, berarti SBY menjilat ludahnya sendiri,” tutupnya.[]rima/dni