Rizal Ramli

HMINEWS.COM- Ekonom senior sekaligus tokoh nasional Rizal Ramli mencatat, baru dua tahun menjadi Presiden AS, Barack Obama dalam waktu relatif singkat mampu menyediakan asuransi kesehatan bagi 30 juta orang miskin di Amerika, dan  Obama juga berhasil menghentikan spekulasi ugal-ugalan oleh  lembaga-lembaga  keuangan  di AS.

Obama juga  mampu meredam spekulasi-spekulasi finansial di AS yang membahayakan ekonomi Amerika. Sementara enam tahun SBY justru menghadapi kontroversi atas jual obral Krakatau Steel yang menimbulkan heboh nasional.

Bahkan dalam era Obama, Rizal menyatakan, selain menjaga stabilitas harga, bank sentral AS yakni The Fed bakal all out untuk menciptakan lapangan kerja (sebagai mandat kedua dari UU Fed).

Menurut mantan menko perekonomian itu,  langkah Fed itu berbeda dengan UU bank sentral Indonesia yang dibuat masa  Presiden BJ Habibie dan dirancang IMF,  dimana fungsi BI hanya stabilitas harga dan nilai tukar.
”Saya melihat,  semua itu dilakukan sengaja, dirancang agar tidak ada fungsi BI untuk menciptakan lapangan kerja,”kata Rizal, PhD lulusan Boston Unversity,AS.

Menurutnya, Gubernur Fed  Bernanke dan Obama juga tidak peduli,bahwa  kebijakannya mencetak US$ 600 billion akan mengakibatkan negara-negara lain banjir ”hot money” (uang panas) ,  mengakibatkan pula mata uang mereka terlalu kuat, ekspor mereka mandeg, atau ekonomi mereka akan roller-coaster.

”Itulah contoh nasionalisme ala Amerika, sementara kalangan intelektual picik Indonesia mencaci nasionalisme sebagai tidak relevan dan cukup dimasukkan ke kantong kanan,”kata tokoh nasional yang dikenal sebagai pemikir ekonomi konstitusi ini.

Dalam hubungan internasional, menurut Rizal,  setidaknya Obama juga berhasil meyakinkan Dunia Islam untuk memberi kesempatan bagi Amerika dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestinah dan Irak serta Aghanistan. Memang, katanya, kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia ditandai dengan jatuhnya popularitas Obama di dalam negeri Amerika di satu sisi dan di sisi lain, di tengah bencana bertalu Wasior,Mentawai dan Merapi di Indonesia. Namun demikian kunjungan ini diharapkan mendorong hubungan dagang, pendidikan, kebudayaan dan keamanan antara kedua negara.

Kunjungan Obama ke Indonesia, negara tempat ia melewati empat tahun masa anak-anaknya, dilakukan setelah dua jadwal perjalanan sebelumnya dibatalkan karena masalah di dalam negeri. Pada Maret ia berjuang menggolkan peraturan perawatan kesehatan dan pada Juni, saat ia menghadapi pembersihan kebocoran besar minyak BP (British Petroleum) di Teluk Meksiko. Penundaan tersebut mengecewakan dan kunjungan kali ini sempat diragukan terkait abu vukanik dari Gunung Merapi. Indonesia merupakan tujuan penting bagi Obama karena bermacam alasan pribadi dan strategis, kata beberapa pembantunya. Indonesia yang terus bangkit penting sebagai sekutu AS, bahkan sekalipun kegembiraan sehubungan dengan terpilihnya Obama telah pudar sejak ia menjadi presiden hampir dua tahun lalu. Di mata AS, Indonesia adalah negara demokrasi dan ekonomi yang sedang muncul, anggota G-20 dan negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia.

Rizal menyambut positif  langkah Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani “Kemitraan Menyeluruh”, yang mereka sepakati tahun lalu. Kesepakatan itu mencakup masalah keamanan, ekonomi dan hubungan orang per orang, kata Jeffrey Bader, Penasehat Obama Urusan Asia. Obama, yang berencana kembali ke Indonesia tahun 2011 untuk pertemuan puncak Asia, juga direncanakan membahas rencana bagi kunjungan Presiden Yudhoyono ke Amerika Serikat.

Amerika Serikat hanya mengekspor barang seharga 6 miliar dolar AS ke Indonesia setiap tahun, sehingga menjadikannya pasar terbesar ke-37 bagi Amerika, menurut keterangan dari Kamar Dagang AS.
Rizal melihat, kunjungan Obama ke Jakarta untuk berdialog dengan SBY  merupakan lanjutan lawatannya ke Dunia Islam menyusul kunjungan ‘’Transatlantik” Presiden Barrack Obama ke Turki pada 6-7 April 2009. Kemudian dilanjutkan pula oleh Obama dengan melakukan kunjungan ke kawasan Timur Tengah yakni, Arab Saudi dan Mesir pada 3-4 Juni 2009.

Kali ini, menurut pers, kunjungan Obama ke Jakarta menimbulkan antusiasme mahasiswa dan rakyat yang ‘jenuh dan bosan’’ dengan kinerja  kebinet (KIB II)  yang lamban dan pencitraan SBY yang dinilai pers berlebhan. Ini perlu direnungkan oleh istana.