Oleh Nabila Ramdani

Saya diundang ke Qatar awal November lalu untuk ikut dalam acara Doha Debate tentang pelarangan burqa di negara saya baru-baru ini. Ini sangat penting buat saya karena saya pemudi Muslimah yang lahir dan besar di Prancis, dan banyak menulis tentang isu-isu Arab dan Muslim di media.

Doha Debate adalah mimbar bebas di Qatar yang menyinggung isu-isu dunia paling kontroversial dan hangat yang menghadirkan dua pembicara yang pro dan dua pembicara yang kontra terhadap sebuah mosi, yang diakhiri dengan voting para hadirin.

Topik yang dibahas kali ini, pelarangan burqa, sangatlah penting bagi hubungan Muslim-Barat, dan Doha Debate bisa dikatakan adalah panggung penting untuk menyampaikan berbagai pandangan tentang topik ini. Acara debat yang diadakan oleh Qatar Foundation ini disiarkan oleh sejumlah stasiun televisi, termasuk BBC World News, dan disaksikan hingga lebih dari 300 juta pemirsa di 200 negara.

Penonton yang menyaksikan langsung di studio di mana acara ini dibuat mungkin sebanding antara yang Muslim dan yang non-Muslim, yang datang dari negara-negara Timur Tengah dan Eropa.

Yang bicara sebagai pihak yang pro bahwa ”Prancis berhak melarang burqa” adalah Jacques Myard, anggota senior dari partai konservatif berkuasa Prancis, yakni Partai Persatuan untuk Gerakan Rakyat (UMP), dan sekutu dekat Presiden Nicolas Sarkozy. Myard sering disebut sebagai arsitek pelarangan burqa karena dialah yang menyampaikan rancangan undang-undangnya ke komite parlemen yang kemudian merekomendasikan pelarangan burqa.

Di samping Myard, ada Farzana Hassan, seorang penulis dan aktivis hak-hak perempuan yang tinggal di Kanada tapi keluarganya berasal dari Pakistan.

Dalam pembukaan debat, Myard menegaskan bahwa negaranya adalah negara sekuler. Ia menambahkan bahwa “Bagi mayoritas orang Prancis, burqa berarti menempatkan perempuan dalam status inferior. Mereka yang menolak untuk menunjukkan wajahnya di muka publik berarti memisahkan diri dari komunitas nasional.”

Sementara itu Hassan berpendapat bahwa sebagian orang telah melakukan pemboman bunuh diri dan perampokan bank dengan mengenakan burqa, sehingga burqa pun berimplikasi pada keamanan masyarakat. Ia juga berpendapat bahwa burqa bertentangan dengan Islam karena merendahkan posisi perempuan.

Saya berada di pihak yang berseberangan, yang berpandangan bahwa Prancis tidak sepatutnya melarang burqa. Dalam tanggapan saya, saya menjelaskan bahwa saya selalu diajari untuk menghargai orang lain dalam Republik Prancis, yang merupakan negara demokratis, dan bukan negara otokratis dan intoleran.

Bagi saya, pelarangan itu tak ada sangkut pautnya dengan persatuan, dan justru bertujuan menstigma sekelompok kecil perempuan, dan juga komunitas Muslim.

Saya sangat yakin bahwa argumen-argumen untuk mendukung pelarangan burqa tidak punya dasar yang jelas: tidak ada data statistik yang mengaitkan burqa dengan ancaman keamanan masyarakat. Lagipula, sebuah negara sekuler tidaklah berkaitan dengan ketaatan beragama pribadi. Pasal pertama dalam Konstitusi Prancis memastikan bahwa republik sekuler ini “akan menghargai semua keyakinan”. Bagi saya, inilah konteks di mana pelarangan burqa seharusnya ditempatkan.

Namun, yang paling saya tentang adalah argumen bahwa kaum laki-laki memaksa kaum perempuan untuk mengenakan burqa. Tidak ada bukti atas adanya penindasan semacam itu. Di samping itu, pikiran bahwa pelecehan laki-laki akan berhenti karena korbannya tidak bisa lagi mengenakan burqa di muka umum tidaklah logis.

Yang juga berada di pihak yang menentang ide itu dalam debat ini adalah Mehdi Hasan, redaktur senior bidang politik majalah New Statesman yang bermarkas di London. Hasan berpendapat bahwa mereka yang mengenakan burqa di Prancis hanyalah segelintir perempuan, dan bahwa melarang mereka memakai apa yang mereka inginkan hanya akan membuat mereka tambah merasa terkucil dari masyarakat Prancis arus utama.

Di akhir debat, pemirsa di studio diminta melakukan voting dengan menggunakan peranti tombol sentuh elektronik. Tim saya menang dengan dukungan 78 persen — salah satu yang tertinggi dalam sejarah Doha Debate.

Meski ada perbedaan pendapat yang jelas tentang pelarangan burqa, kedua pihak menegaskan bahwa tujuan terpenting mereka adalah masyarakat yang aman dan nyaman di mana semua anggota masyarakat bisa mewujudkan potensi mereka sebagai warga yang setara.

Malam itu sungguh mengasyikkan, dan menunjukkan bagaimana debat yang beradab bisa mengurai argumen-argumen dalam sebuah masalah yang sangat pelik. Meski mungkin acara ini tak punya pengaruh pada kebijakan Prancis, debat ini memperlihatkan bahwa orang-orang tak harus saling bersepakat untuk menunjukkan kesadaran bahwa ada sisi lain dari setiap pendapat. Saya sangat percaya bahwa dialog terbuka dan pertukaran pendapat secara damai bisa membantu mendorong kesalingmengertian yang lebih luas.

###

* Nabila Ramdani adalah jurnalis kelahiran Paris yang tinggal di London yang meraih Penghargaan Perempuan Muslim Eropa Paling Berpengaruh (EMWI) 2010. Artikel ini adalah kerjasama HMINEWS dengan Kantor Berita Common Ground (CGNews).