Kita adalah Rajutan Benang Identitas Warna-Warni

Alia Hogben
HMINEWS.COM, Kanada – Saya pastilah orang yang lambat belajar. Baru-baru ini saja saya sadar kalau ternyata identitas saya majemuk, karena selain sebagai orang Barat, saya juga adalah orang India, orang Birma, dan Muslim. Karena saya pernah tinggal di negara-negara lain, saya juga telah banyak menyerap agama-agama dan budaya-budaya lain, tapi saya belum benar-benar sadar kalau hidup 50 tahun di Kanada telah membuat saya menjadi orang Barat, dan bangga dengan capaian-capaian Barat.

Salah satu alasan mengapa saya kurang memperhatikan identitas yang satu ini adalah karena saya dilihat oleh orang lain dengan cara tertentu. Bersama teman-teman saya yang Muslim, saya lebih dikenali karena agama saya ketimbang identitas yang lain.

Penulis Lebanon-Prancis, Amin Maalouf, dalam bukunya, In the Name of Identity (edisi asli Prancisnya berjudul Les Identités Meurtrières), menunjukkan bahwa mereka yang mempunyai identitas yang majemuk sering dipinggirkan karena orang lain melihat mereka hanya melalui salah satu aspek identitas mereka.

Ia menulis tentang identitasnya sendiri selaku orang Arab Kristen, orang Lebanon yang lama tinggal di Prancis, dan bagaimana selama bertahun-tahun identitasnya telah berubah mencakup semua pengalamannya. Ia mencatat bahwa orang umumnya mempunyai banyak identitas, tapi ketika salah satu identitas ini diserang, kita pun menjadi lebih sering mengidentifikasi diri dengan identitas itu – misalnya agama.

Mengenalkan diri dengan afiliasi tunggal, bukanlah sikap yang baik karena bisa mengarahkan kita pada sikap merasa hanya tergolong dalam satu kelompok saja, dan menolak identitas-identitas yang lain yang juga kita miliki. Para imigran baru harus menerima kenyataan bahwa negara barunya punya sejarah, adat dan nilai-nilai sendiri, dan meskipun masa depan sebuah negara bukan sekadar perpanjangan dari sejarahnya, masa lalu tetaplah penting.

Maalouf membandingkan sejarah dunia Muslim dan Barat, dan menyimpulkan bahwa Muslim pada masa lalu – dengan budaya mereka yang berkembang – mempunyai kepercayaan diri dan toleransi, dan ketika ini hilang, mereka pun kini merasa terancam.

Pada beberapa abad terakhir, telah ada revolusi di Barat – sains, teknologi, industri, intelektualitas dan moralitas. Ada banyak sebab mengapa revolusi ini terjadi di Barat dan tidak di tempat lain, tapi yang jelas akibatnya adalah adanya dominasi Barat.

Maalouf mengatakan bahwa belahan dunia yang lain mungkin mengakui kemajuan Barat tapi mereka mengakuinya dengan sedikit keengganan, kegalauan dan krisis identitas yang parah. Ia mengamati bahwa tidak banyak yang memperhatikan pengaruh masyarakat terhadap agama ketimbang sebaliknya. Karena sejarah yang berbeda, ia berpikir bahwa, ketika Eropa memodernkan Kristen, sebagian besar dunia Muslim terhambat oleh kolonialisme dan lambat berkembang.

Namun, ia menyatakan, “Tidak ada doktrin yang merupakan kekuatan yang membebaskan: semuanya pernah disalahgunakan atau berubah arah; semuanya bersimbah darah – komunisme, liberalisme, nasionalisme, sekularisme dan setiap agama besar. Sikap fanatik tidak dimonopoli oleh satu orang saja.”

Maalouf menyajikan penjelasan mengenai munculnya para fundamentalis di dunia Arab. Ia mengingatkan kita bahwa Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, yang dianggap sebagai pahlawan besar, adalah musuh utama kelompok-kelompok agama yang punya agenda politik, dan reaksinya terhadap tuntutan mereka yang menginginkan peran di pemerintahanlah yang membuat orang-orang malah berpaling ke radikalisme agama.

Selaku orang Arab, Maalouf percaya kalau orang-orang Arab dulunya tidak untuk menyokong fundamentalisme agama sampai ketika semua jalur yang lain terblokir, dan bahwa gerakan-gerakan Islam sekarang adalah produk zaman kita, bukan bagian dari sejarah Muslim.

Pertanyaan pentingnya adalah mengapa sekian banyak orang, terutama di negara-negara mayoritas Muslim, lebih kuat dalam menegaskan identitas agama mereka ketimbang identitas-identitas yang lain?

Bagi Muslim, identitas ini melampaui batas-batas ras, kesukuan dan kebangsaan, dan keuniversalan umat beriman memberi mereka rasa nyaman.

Maalouf tidak menolak terbentuknya sebuah “suku global”, tapi menginginkan suku ini terbuka buat semua manusia. Suku global ini harus menghargai hak-hak asasi manusia yang universal, yang membuat kita bisa hidup sebagai warga sepenuhnya – bebas dari penganiayaan, punya akses pada pengetahuan, memilih kegemaran dan keyakinan kita, menghormati kebebasan orang lain, dan menjalani hidup yang layak dan terhormat.

Maalouf benar bahwa kita seharusnya merayakan semua identitas kita, termasuk mengidentifikasi diri sebagai bagian dari suku manusia global, dan menyadari bahwa identitas individu dan kelompok itu cair dan bisa berubah seiring pengalaman baru. Semoga.

###

* Alia Hogben adalah Direktur Eksekutif Canadian Council of Muslim Women (CCMW). Artikel ringkasan ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM  seizin pengarang