Filosofi Haji dan Pesan Kemanusiaan

Ismail Amin

HMINEWS.COM- Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata Ka’bah?. Bagi yang belum pernah melihat atau mendapatkan informasi tentang Ka’bah kecuali bahwa Ka’bah sebagai arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika berinteraksi ‘intim’ dengan Tuhannya, adalah wajar jika membayangkan Ka’bah adalah sebuah bangunan yang megah dan indah.

Itupula yang saya bayangkan tentang Ka’bah di usia belum balighku dulu. Saya bayangkan Ka’bah berupa istana megah, sebuah karya arsitektur yang indah, dibangun dengan cita rasa estetika yang tinggi, penuh dengan ornamen-ornamen mahal, bisa jadi terbuat dari emas, berlian atau pecahan-pecahan intan permata, yang penuh dengan warna-warni yang menyejukkan mata.

Tapi ternyata tidak ! yang kita saksikan dari Ka’bah hanyalah bangunan kubus yang sama sekali tidak memiliki keindahan arsitektural, seni atau kualitas yang biasa kita saksikan pada bangunan-bangunan yang diklaim sebagai keajaiban dunia, tidak ada warna-warni sama sekali. Bangunan ini hanya terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun dengan cara yang sederhana, dengan kapur putih sebagai penutup celah-celahnya.

Dan di dalam bangunan persegi itu, pernah kubayangkan ada bongkahan sesuatu yang selama ini dikejar-kejar manusia sebut saja, emas, intan permata, atau mutiara manikam. Sekali lagi semuanya terbantahkan, ternyata didalamnya tidak ada-apa, sama sekali kosong ! Tidak ada sesuatupun juga.

Bisa jadi ketika melihatnya timbul pertanyaan dan keraguan benarkah bangunan ini pusat agama, shalat, cinta, hidup dan kematian kita? Benarkah Kubus yang yang tanpa dekorasi ini adalah arah kaum muslimin menghadapkan wajahnya di dalam shalatnya, benarkah dia pusat eksistensi, keyakinan, cinta dan kehidupan manusia bahkan ke arah ini pula kaum muslimin yang mati dikuburkan? Apa yang dicari oleh mereka yang berseliweran disekelilingnya, yang seolah melupakan segala yang dimilikinya, ditempat itu mereka menumpahkan perasaan, tangis dan air mata, bersimpuh penuh pengharapan, merendahkan diri serendah-rendahnya, menciumnya dengan penuh perasaan cinta dan sedari sana timbul kerinduan mendalam untuk kembali ?

Patut engkau ketahui, meskipun rumah Allah, Ka’bah tetap hanyalah bangunan. Hanyalah kumpulan batu gunung yang hitam pekat. Ka’bah bukanlah tujuan dari kedatanganmu. Kesederhanaan Ka’bah yang kamu lihat di hadapanmu mengingatkan akan tujuan perjalananmu. Ka’bah adalah penunjuk arah. Ada hal lain yang harus menjadi tujuan akhir perjalananmu.

Gerakan abadi yang kamu lakukan adalah gerakan menuju Allah, bukan menuju Ka’bah. Kamu datang untuk memenuhi undangan Allah. Setiap orang diantara kalian harus mengenakan pakaian yang telah ditentukan, kamu tidak memiliki dirimu lagi, kamu harus meleburkan diri dan tidak boleh memasuki rumah suci ini jika engkau masih terikat dengan dirimu, masih memikirkan dirimu sendiri.

Kesederhanaan Ka’bah menunjukkan betapa kemewahan dan kemegahan bukanlah tujuan hidupmu. Ka’bah adalah Baitullah, rumah Allah. Dibangun oleh Ibrahim atas perintah-Nya. Ketika kau menghadapnya sesungguhnya merupakan tamparan keras buatmu, buatmu yang membangun rumah dengan penuh ornamen mahal yang hanya akan membuatmu pongah.

Haji, Menghampiri Allah

Kota Mekkah disebut juga “Bait-Atiq”. Atiq berarti bebas. Kota ini tidak dimiliki siapapun juga, kecuali Allah. Tak seorangpun berhak menguasainya. Dengan beberapa ketentuan seorang muslim ketika bepergian atau melakukan perjalanan jauh dari rumahnya boleh menyingkat shalat-shalatnya atau menggabungkannya. Tetapi di kota Mekkah, darimanapun engkau datang dan betapapun jauhnya perjalanan yang engkau tempuh, shalatmu harus sempurna dan tidak boleh disingkatkan.

Sebab kedatanganmu karena memenuhi panggilan, kamu bukanlah tamu, Mekkah negerimu sendiri, kamu tidak sedang bepergian jauh, kamu melakukan perjalanan pulang ke negerimu. Kedatanganmu disambut layaknya seorang sahabat dan anggota keluarga Allah yang telah lama pergi, dan pulang kembali. Kembalilah engkau kepada-Nya, dengan penuh kecintaan dan kerinduan. Tidakkah engkau mendengar seruan Ibrahim: “Dan serulah manusia untuk melakukan ibadah Haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau dengan menunggang unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (Qs. 22 : 27). Simak baca juga : biaya umroh jogja di hasuna tour umroh wal hajj.

Hijir Ismail

Di sebelah barat Ka’bah ada sebuah tembok rendah yang berbentuk setengah lingkaran dan menghadap ke Ka’bah. Bangunan ini disebut Hijir Ismail. Hijir bisa berarti pangkuan juga bisa diartikan pakaian wanita sebelah bawah. Tersebutlah dalam riwayat, Hajar adalah perempuan Ethopia yang miskin. Ia sahaya dari Sarah istri Ibrahim. Hajar dinikahi Ibrahim untuk memperoleh anak. Lahirlah Ismail.

Kecemburuanlah yang membuat Sarah meminta Ibrahim untuk ‘mengusirnya’. Oleh Ibrahim, dibawalah Hajar dan Ismail, yang ketika itu masih bayi ke padang pasir yang luas, tidak terdapat apa-apa. Di atas pangkuan Hajarlah Ismail di besarkan. Hijir Ismail, adalah bangunan di samping Ka’bah, tempat Hajar membesarkan Ismail, dan di situ pula Hajar, ibunda Ismail dikuburkan.

Dan Allah memerintahkanmu agar ketika melakukan thawaf juga mengelilingi Hijir Ismail dan tidak hanya mengelilingi Ka’bah saja, jika tidak demikian ibadah haji yang kamu lakukan tidak diterima-Nya. Subhanallah, kuburan seorang sahaya perempuan hitam Afrika merupakan bagian dari Ka’bah, dan hingga kiamat nanti manusia-manusia senantiasa akan berthawaf mengelilinginya. Betapa anehnya, kepada hambanya yang terhina, terlemah dan terusir di antara makhluk-makhluk-Nya, Allah memberikan tempat di sisiNya. Dia datang, memerintahkan kepada Ibrahim untuk dibuatkan rumah, dan meminta dibangunkan di sebelah rumah Hajar.

Allah memilih menjadi tetangga seorang perempuan hitam yang terusir. Ketika kau mengetahui bahwa sesungguhnya ritual-ritual haji yang kamu lakukan adalah untuk memperingati Hajar, seorang budak perempuan hitam masihkah engkau merasa lebih tinggi dari manusia selainmu ? Masih beranikah sepulang dari ritual hajimu, kau membanggakan diri dan acuh terhadap kehidupan mereka yang terpinggirkan secara sosial ? Allah datang dan memilih bertetangga dengan seseorang yang senantiasa terhina, kalau kamu bisa jadi lain, kamu datang untuk menggusur mereka, karena bagimu mereka mengotori bangunanmu.

Wallahu ‘alam bisshawwab.

Ismail Amin

Mahasiswa Mostafa International University Islamic Republic of Iran. ’07