Menerawang Perilaku Beragama Para Pelacur

Setiap manusia menjalani lelaku keberagamaannya sesuai dengan jejak hidup yang melekat dalam diri. Jejak hidup membentuk identitas yang berpengaruh dalam menjalani masa depan yang ingin dicapai. Identitas manusia dalam beragama terbentuk oleh ruang dan waktu yang mengitari. Ruang dan waktu itu bersifat sangat fleksibel, bergantung pada cara manusia menyelami ruang dan waktu itu dalam identitas keberagamaannya.

Kalau identitas keagamaan terpaku dengan satu ruang dan waktu, maka model keberagamaannya sangat tekstual sekali. Mudah menjelekkan dan mengafi rkan pihak lain. Padahal, beragama di tengah modernitas sekarang ini butuh kepekaan sosial di tengah gejolak zaman. Kepekaan sosial ini sangat penting karena banyak model manusia yang ada di sekitar kita.

Buku bertajuk Agama Pelacur: Dramaturgi Transedental karya Prof Nur Syam mencoba mengupas model keberagamaan yang dilakukan para pelacur. Para pelacur bukanlah makhluk yang harus dipinggirkan. Mereka memunyai nurani yang melekat dan mendorong mereka untuk taat dalam beragama.

Hanya saja, model keberagamaan yang mereka praktikkan tidak biasa dengan model yang dijalankan manusia umumnya. Mereka membentuk identitas sendiri dalam jejak hidupnya. Penulis melihat model keberagamaan pelacur dalam dramaturgi transedental. Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri.

Identitas manusia bisa saja berubah-ubah bergantung dari interaksi dengan orang lain. Di sinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”.

Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat bergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan.

Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Para pelacur itu beragama menyesuaikan dengan konteks sosiologis lingkungannya. Cara beragamanya begitu transedental, tidak terjebak dalam naluri formal yang biasa dijalani.

Yang paling krusial bagi para pelacur adalah menggapai titik transedental, sehingga oleh penulis dikatakan sebagai dramaturgi transedental. Dalam dramaturgi transedental, pelacur memaknai ajaran agama disesuaikan dengan tingkat hidup dan suasana hati yang sedang menancap dalam diri mereka.

Peresensi adalah Muhammadun, Peneliti pada Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta.

Judul : Agama Pelacur: Dramaturgi Transedental
Penulis : Prof Dr Nur Syam
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Tahun : I, November 2010
Tebal : 365 halaman

sumber : rimanews