Jakarta, HMINEWS – Pemerintah berencana memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah nama. Kementerian Sosial (Kemensos) kini sedang menggodok sejumlah nama tersebut. Dalam daftar, tercantum nama mantan penguasa diktator Orde Baru Suharto.

Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Minggu (17/10/2010), menjelaskan bahwa ada 18 nama yang diusulkan masyarakat sebagai pahlawan nasional. Dari jumlah tersebut setelah dilakukan verifikasi, didapat 10 nama, yakni Ali Sadikin dari Jawa Barat, Habib Sayid Al Jufrie dari Sulteng, HM Soeharto dari Jawa Tengah,  KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari Jawa Timur. Juga ada Andi Depu dari Sulawesi Barat, Johanes Leimena dari Maluku, Abraham Dimara dari Papua, Andi Makkasau dari Sulawesi Selatan, Pakubuwono X dari Jawa Tengah, dan Sanusi dari Jawa Barat.

Menurut Dipo, nama-nama tersebut setelah diproses di Kemensos kemudian akan dibawa ke Dewan Gelar, Tanda Kehormatan, dan Tanda Jasa yang dipimpin Menkopolhukam. Di dewan ini, nama-nama itu akan diseleksi lebih jauh dengan berbagai kriteria. Baru kemudian diajukan kepada Bapak Presiden.

Masuknya nama mantan penguasa Orde Baru Suharto mendapat reaksi dari beberapa tokoh intelektual dan gerakan. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam memandang pencalonan Soeharto sebagai pahlawan nasional akan membuat masyarakat terbelah. Para pegiat HAM dan mereka yang pernah ditangkap, distigmatisasi dan bahkan disiksa dalam rezim Orde Baru, pasti tidak akan terima.

“Soeharto ini sangat kontroversial. Dia banyak membangun, tapi banyak juga merusak di Indonesia,” demikian kata Asvi sebagaimana dikutip oleh detikcom, Minggu (17/10/2010).

Sementara itu ketua umum PB HMI M Chozin juga menolak pencalonan Suharto sebagai penerima gelar pahlawan. “Sudah jelas daya rusaknya untuk negeri ini selam lebih dari 32 tahun, koq mau dikasih gelar pahlawan?”, demikian Chozin mempertanyakan. [] lk