Penerima "Anugerah Dharmawangsa" dari Yayasan Garuda Wisnu Kencana dan Newseum Indonesia. "Ibumi" untuk puisi, "Sutasoma" untuk prosa, dan "Sadur" untuk esei/kritik. (Henry Chambert-Loir, Cok Sawitri, AN Ismanto)

Jakarta, HMINEWS- Tepat 14 Oktober 2010 lalu HMINEWS mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara pencanangan Hari Aksara Nusantara. Sejumlah penulis, budayawan dan seniman yang dimotori oloh Yayasan Garuda Wisnu Kencana Indonesia berkumpul di Newseum Indonesia, Jl Veteran I/31, Monas, Jakarta Pusat.

Pencanangan hari aksara tersebut menandai seribu tahun lalu ketika para kawi, raja, dan rakyat untuk pertama kalinya duduk bersama bermalam-malam sejak 14 Oktober hingga 12 November 996M diikat dalam perayaan bersama mendengarkan naskah dibacakan, mengolah bahasa, dan memperkaya budi. Ya, itu terjadi pada masa raja Dharmawangsa di Kediri 1000 tahun yang lalu!

“Duli baginda, Dharmawangsa Teguh Anantawikramotunggadewa, beginilah sejauh saya ingat. Kita mulai membaca cerita ini pada hari ke-15 bulan gelap dalam bulan Asuji; harinya tungle, kaliwon, Rabu, pada waktu Pahang dalam tahun 918 penanggalan Saka. Dan sekarang ialah mawulu, wage, Kamis dalam wuku Madangkungan, pada hari ke-14 paro petang dalam bulan Karttika. Jadi waktunya genap satu bulan kurang satu hari. Pada hari kelima Baginda tidak menitahkan diadakannya suatu pertemuan, karena Baginda terhalang oleh urusan lain. Menterjemahkan cerita ini kedalam bahasa Jawa kuno minta waktu yang cukup banyak. Duli mengharapkan, agar pembawaaan tidak melampaui kesabaran Baginda dan tidak dianggap terlalu panjang.” Demikian kutipan beberapa kalimat sebagaimana dikutip dalam tulisan pengantar Taufik Rahzen untuk acara tersebut.

Anugerahkan penghargaan Dharmawangsa diberikan kepada karya sastra atau buku yang kreativitasnya berkembang dari kisah atau serat babad lampau dengan bahasa pengungkapan masa kini. Untuk karya Prosa, Anugerah Dharmawangsa diberikan kepada Sutasoma karya Cok Sawitri yang merekam kembali teks abad ke-13 dengan merekonstruksi ulang bagaimana moralitas kekuasaan bekerja dalam bentuk pengungkapan novel kontemporer.

Cok Sawitri (Foto: M Hanif/IBOE-GIM)

Sementara kategori Puisi diberikan kepada Ibumi: Kisah-Kisah Negeri di Bawah Angin yang merupakan upaya bersama yang dikerjakan kelompok Penyair Nusantara dengan mengembangkan penulisan puisi yang bersandar pada cerita-cerita rakyat pada ungkapan puitik semasa.

Adapun bidang Kritik atau Esei, Anugerah Dharmawangsa diserahkan kepada Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Buku yang disunting Henri Chambert-Loir ini dianugerahi lantaran upayanya lewat penjelajahan ekstensif atas sejarah praktik penerjemahan dan penyaduran naskah di Nusantara yang bukan saja mutu kajian, melainkan upaya kolaboratif yang dilakukannya

Pada kesempatan yang sama, Cok Sawitri bersama Ayu Laksmi mempertunjukkan musik Kakawin Sutasoma yang sekaligus menjadi doa akhir acara penganugerahan.

Dan inilah Sutasoma:

Sutasoma atau Porusadha merupakan karya agung dalam kesuasteraan Jawa Kuno yang digubah Mpu Tantular. Penyair ini hidup pada abad ke-14 di Majapahit semasa raja Rājasanagara (Hayam Wuruk) bertakhta. Ia termasuk keponakan raja dan menantu adik wanita sang raja.

Tantular sendiri adalah putera Mpu Bahula di Lemah Tulis, Pajarakan, Kediri. Sementara Mpu Bahula adalah putra Mpu Bharadah. Adapun Mpu Bharadah tak lain adalah adik Mpu Kuturan; nama yang sohor di kawasan Bali, dikenal sebagai pendeta pendamping Maharaja Sri Dharma Udayana Warmadewa, serta dikenal sebagai perancang pertemuan tiga sekte agama Hindu di Bali, yang disatukan di Samuan Tiga, Gianyar. Kuturan juga yang merancang keberadaan desa pakraman–desa adat serta Kahyangan Tiga–tiga pura desa di Bali, yang hingga kini diwarisi masyarakat.

Nama “Tantular” terdiri dari dua kata: tan (”tidak”) dan tular (”tular” atau “terpengaruhi”). Artinya ia orang yang “teguh”. Tantular adalah seorang penganut agama Buddha, namun terbuka terhadap agama lainnya, terutama agama Hindu-Siwa, yang menjadi ruh dari kakawin Sutasoma.

Tantular dalam karyanya itu memberitahu betapa bahayanya “Dharma Agama” bersekutu dengan “Dharma Negara” tanpa kesadaran pluralisme yang teguh. Jika pluralitas adalah kenyataan yang terberi, maka pluralisme adalah sebuah keyakinan bahwa perbedaan dalam keharmonian itu harus diperjuangkan.

Asas ini yang kemudian diwariskan Tantular kepada Nusantara. Bahkan salah satu bait dari kakawin Sutasoma diambil menjadi semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia di kemudian hari: “Bhinneka Tunggal Ika” atau berbeda-beda tapi satu jua. Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. [] iboekoe/lara