Pendidikan Indonesia Mencetak Kuli atau Pengusaha

HMINEWS.COM- Pendidikan itu ibarat suatu “azimat “ yang membebaskan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan (Azyumardi Azra).

Masalah kemiskinan masih menghantui kehidupan masyarakat Indonesia. Gejala ini  berdampak meluasnya pengangguran sebagai efek panjang kemiskinan itu sendiri. Repotnya angka pengangguran justru banyak dialami kaum muda. Para sarjana yang menganggur dari tahun ke tahun semakin meningkat. Data BPS menyebutkan, jumlah penggangguran terdidik akan dominan di masa mendatang. Berdasarkan survei BPS, pengangguran  di Indonesia semenjak tahun 2001 selalu bertambah 830.000 orang per tahun. Sehingga pengangguran terdidik yang terdapat pada tahun 2001 berjumlah 8,1% (8 juta jiwa) meningkat menjadi 10,3% (10,9 juta jiwa) pada Februari 2005 (Kompas 9/9/05)

Kerudung duka memang pantas disematkan kepada Kementerian Pendidikan Nasional. Tingginya angka pengangguran menandakan lemahnya kualitas SDM Indonesia. Kita selalu disibukkan bagaimana mendidik anak Indonesia menjadi pekerja, bukan sebagai pengusaha (entrepreneur). Kurikulum pendidikan Indonesia mengajarkan metode menghafal sehingga cenderung kaku. Inovasi pemikiran berjalan stagnan, bahkan dapat dikatakan lumpuh. Repotnya kualitas lulusan perguruan tinggi yang bekerja, belum dapat dikatakan terampil.

Selama ini sistem pendidikan Indonesia masih terfokus bagaimana menyiapkan ilmuwan dan pemikir. Orientasi pendidikan mengikuti sistem pendidikan AS yang menitikberatkan menguasai IPTEK. Ironisnya hanya 10% sampai 15% siswa yang dapat mengikuti kurikulum  memberatkan ini. Tak heran kualitas SDM Indonesia tak mengalami perbaikan. Berdasarkan survey matematika TIMSS-R di 38 negara Asia, Afrika dan Amerika menunjukkan Indonesia hanya mampu menempati peringkat 34. Hasil Survey PERC di 12 negara lebih parah lagi. Indonesia menempati peringkat terbawah, satu peringkat di bawah Vietnam. (Ratna Megawangi dkk, 2008)

Belakangan pemerintah justru menggencarkan SMK sebagai alternatif pilihan pendidikan. Promosi SMK Bisa digencarkan demi menyiapkan pekerja (buruh) bagi kebutuhan industri. Gagasan yang patut dipertanyakan, karena ada upaya melanggengkan kepentingan kapitalisme.              Paradigma kebijakan dan produk pendidikan liberalisme sudah terbukti gagal. Bukti terkuat, ekonomi liberalisme ala AS jatuh dalam jurang kehancuran. Ancaman kebangkrutan ekonomi melanda negera superpower tersebut.

Sekarang sudah waktunya bangsa Indonesia mandiri., tidak terus menginduk kepentingan asing. Program SMK Bisa sepantasnya mengarahkan siswa mandiri dan berjiwa wirausaha. Kalaupun mengarah pada siswa yang berjiwa terampil dan handal jangan setengah hati menerapkannya. Belajarlah dari Jepang bagaimana mencetak manusia (pekerja) terampil. Buatlah sistem pendidikan yang menyenangkan dan dinikmati siswa.  Tidak sebaliknya, mengekang dan membunuh kreativitas siswa dengan kurikulum padat. Tapi padatnya kurikulum tidak terpakai di dunia kekulum padat. Tapi padatnya kurikulum tidak terpakai di dunia kerja. Ada dua pilihan terbentang : mau jadi bangsa mandiri atau bangsa kuli? [] Inggar Saputra