Jakarta, HMINEWS.COM- Semakin naiknya grafik kekerasan, khususnya pada tahun 2010 ini, sangat mencemaskan. Pelbagai aksi kekerasan tiada henti yang belakangan ini mengisi pemberitaan di media-media disayangkan oleh AARIF Institute.

Masih segar dalam ingatan kita, kasus penusukan jemaah HKBP di Bekasi, konflik berbau etnis di Tarakan (Kaltim), dan kebrutalan aksi premanisme di Jalan Ampera (Jakarta). Negara seakan absen melindungi hak-hak sipil dan politik warga negaranya.

Kasus terakhir, pembakaran Mesjid Ahmadiyah dan penyerangan kampung Ahmadiyah di Cisalada, Ciampea, Kabupaten Bogor, pada 1 Oktober kemarin sangat menohok kita semua.

“Para elite lebih suka menjadikan isu agama dan kesukuan sebagai akar persoalan berbagai konflik dan tragedi kekerasan di Indonesia. Padahal tidak sepatutnya isu-isu tersebut dipermasalahkan. Ini bentuk pelarian tanggungjawab. Selama ini juga para pemimpin di tingkat pusat maupun lokal tidak pernah memberikan keteladanan bagi masyarakat di bawah, di antara mereka juga sering terjadi konflik dan pertikaian terutama pertikaian politik yang disulut oleh kepentingan ekonomi,” tutur Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute.

Di sisi lain, ketahanan masyarakat dalam menghadapi dinamika konflik semakin melemah. Menurut Fajar, modal sosial (social capital) kita teramputasi oleh kesenjangan pembangunan dan pendidikan. Ini yang menyebabkan masyarakat menjadi rumput kering, mudah terbakar konflik.

Oleh karen itu atas nama MAARIF Institute Fajar menghimbau agar berbagai fenomena kekerasan yang terjadi saat ini tidak digiring menjadi isu-isu yang terkait dengan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA). Karena persoalan politik dan kepentingan ekonomi begitu banyak bermain di dalamnya.

Fajar juga meminta penegak keamanan secara sigap, cepat, dan tanggap melakukan pencegahan terhadap berbagai potensi terjadinya konflik dan kekerasan horisontal di Indonesia dengan semaksimal mungkin. Pihak kepolisian agar segera menuntaskan berbagai aksi kekerasan yang telah terjadi saat ini.

Tarakhir Fajar meinta agar pemerintah dan para elite politik dihimbau untuk memberikan keteladanan dalam menciptakan perdamaian di bumi Indonesia. Jangan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang justru memprovokasi kelompok tertentu. [] lara