Kritik Nalar Ilmiah Positivistik

Oleh: Junaedi

HMINEWS.COM- Dominasi paradigma positivistik atau saintifik yang muncul bersama lahirnya pencerahan di Eropa beberapa abad lalu yang didasarkan pada gagasan “teori empiris” yang menurut Mulyadi Karta Negara telah melakukan dehumanisasi karena mereduksi realitas hanya pada tataran dunia fisik, melihat manusia hanya sebagaiu mahluk fisik semata. Hali ini   berbeda dengan pandangan dunia timur yang menempatkan manusia bukan hanya dalam konteks dunia fisik tapi juga dunia spritual dan metafisika, sayangnya dominasi modrn (positivistik) telah melanda masyarakat melalui globalisasi, menjangkiti manusia secara negatif yang menggiringnya pada sikap menapikan “dimensi mistisisme-spritual” atau “metafisika” (desakralisasi) mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan (dehumanisasi).

Tradisi yang bercorak saintifik itu mengakar dalam tradisi keilmuan/akademik dalam dunia edukasi hingga saat ini yang tentunya punya konstribusi dalam membangun masyarakat yang cenderung menghilangkan kebudayaan dan moral kehidupan, menjadikan yang penting semata-mata adalah yang tehnisdan instrumental, Akibat dari epistimologi rasionalitas intrumental yang menurut E. Fromm mengarahkan manusia pada depersonalisasi, kosong dan tak bermakna yang telah melanda jiwa manusia dan menyebabkan krisis pundamental. Manusia modern diselimuti suasana hidup yang penuh kemuakan,alienasi, dan menjamurnya sikap hidup yang hedonis.

Dengan demikian diskursus-diskursus perenial (keabadia) dapat dijadikan upaya alternatif dalam mengatasi kegersangan manusia untuk mengarungi bahtera kehidupan ini, sebagaimana dalam akar tradisi primordial, hikmah timur memandang bahwa manusia dibekali dengan nilai-nilai kesucian dan pencarian akan keadilan, cinta dan kebijk sanaan dalam kehidupan sehari-hari, karena perjalanan manusia adalah perjalanan menuju kesempurnaan dan keabadian (perenial).

Maulawi Rumi berpendapat bahwa perjalanan evolusi manusia menuju keabadian (Tuhan) diraih dengan dua macam; Secara sukarela dan terpaksa; keterpaksaan kembali kepada-Nya adalah kematian dan kefanaan raga yang tentunya dialami mahluk di alam ini dan kesukarelaan menuju keabadian dapat dilakukan oleh manusia dengan menempuh jalan penyucian jiwa dalam cahaya bimbingan dari orang yang di bimbing tuhan.

Aurobindo juga mengatakan bahwa keabadian-kesempurnaan dapat diraih dengan tiga tahap: Pertama Trasformasi jiwa dengan jalan membangkitkan spirit dan menciptakan hubungan antara spirit, materi, dan akal. Kedua Trasformasi spiritual yaitu membimbing dan mengendalikan kehidupan, Akal, dan tubuh agar jiwa dapat melakukan gerak transedental menuju pada tingkatan /maqam spiritual yang lebih tinggi. (Baca tasawuf di mata kaum sufi). Ketiga Transpormasi supra mental, yakni memiliki kesadaran abadi menjadikan manusia berbuat berdasarkan pengetahuan, bukan dengan kebodohan.

Jalan menuju perwujudan keabadian (perenialis) juga dikemukakan oleh Vivekananda yang terbagi kedalam empat perjalanan: Pertama Pencapaian melalui pengetahuan (yoga jhana) yang didasarkan pada pandangan bahawa perbudakan menyebabkan kebodohan. Kedua Jalan menuju kesetiaan dan pengenalan Tuhan (bhakti marga) yang mengubah bentuk emosi dan cinta yang biasa menjadi bentuk perasaan yang kuat membawa pada kesetiaan yang tertinggi dan cinta Tuhan. Ketiga Pencapaian melalui perbuatan (maga karma) yang dicapai dengan ketidak egoisan dan perbuatan baik Keempat Pencapaian melaui kejiwaan, (yoga raja) yakni pengalihan aktivitas tubuh dan akal menuju realisasi keabadian dengan mengendalikan akal dan tubuh melalui disiplin mental dan fisik

Mulla Sadra juga mengemukakan bahwa diperlukan empat perjalanan untuk menuju kesempurnaan:

Pertama perjalanan dari mahluk hakikat kebenaran, yaitu, Menghilangkan keterikatan pada sisi-sisi hewaniah, terjebak dalam napsu, keegoisan, keinginan duniawi dan memusatkan perhatian pada kebahagiaan spiritual, menghilangkan segala pikiran yang lain kecuali hanya tertuju pada hakikat dengan melakukan aktivitas religius, seperti ibadah kepda Tuhan, meditasi dan aktivitas spiritual lainnya.

Kedua Perjalanan dari hakikat menuju hakikat, yakni perjalanan yang membaur dn tenggelam dalam kesatuan tuhan.

Ketiga Perjalanan dari hakikat menuju mahluk, yakni tingkatan kesadaran kehidupan ketuhanan yang mampu mengenali kembali dunia yang lebih rendah, namun memiliki kemampuan melihat hakikat sekaligus mahluk lainnya. Keempat. Perjalanan dari satu mahluk kemahluk lainnya melalui hakikat kebenaran. Manusia mulai membimbing,mengajari, dan mendidik manusia lain untuk mengenali Tuhan dan melihat segala sesuatu melalui cahaya hakikat kebenaran.

Tulisan ini  dikirim Oleh Yayasan Al Muntazhar