Bukan Burung Biasa

Berapa gelintir orang lagi yang mampu mengingat apa yang terjadi pada tanggal 1 oktober beberapa dekade silam?

Pada tahun 1965 ketika PKI (Partai Komunisme Indonesia) di berangus oleh mantan Presiden ‘korup’ Soeharto menjadi awal dari pengertian Kesaktian Pancasila. Meski kontroversialnya peristiwa tersebut namun dengan gagalnya PKI mengganti Pancasila setidaknya perjalanan bangsa Indonesia saat ini masih di rel yang tentunya sedikit lebih baik daripada komunisme.

Memang kontroversi tentang pemberontakkan PKI menjadi diskusi baru pasca reformasi, namun sebagai sebuah landasan berfikir suatu bangsa, pancasila seyogyanya masih dapat dijadikan acuan sebagai identitas bangsa.

Kondisi sosial masyarakat yang berkembang kearah anarkisme dan cenderung memupus semua memori masa lalu. Keterpurukan identitas itulah yang membuat bangsa kita menjadi bulan-bulanan bangsa lain bahkan menjadi semacam lahan untuk dijadikan sapi perah bahkan oleh pesohor bangsanya sendiri.

Beberapa saat menjelang peringatan 1 oktober hari ini, kita disuguhi berbagai tontonan tentang dekadensi moral bangsa ini. Mulai dari artis cabul sampai penjabat cabul. Bahkan yang masih hangat di benak kita tentang kerusuhan yang menewaskan beberapa orang di jalan ampera Jakarta selatan beberapa hari menjaelang hari sakti ini.

Kesaktian Pancasila menguap seiring dengan ketidakmampuan Pemerintah dalam memaksimalkan sumber daya alam negeri ini yang hanya menguntungkan luar negeri. Bahkan amburadulnya administrasi Pemerintah memunculkan keraguan pada peran yang sedang dimainkan saat ini.

Tidak tuntasnya pemerintah mengurusi urusan perut rakyatnya,menjadi sebuah pengantar bagi persinggungan antar kelompok masyarakat, mulai dari konflik antar suku, agama bahkan samapai hal-hal yang remeh temeh antar individu menunjukkan lemahnya sistem yang ada di negeri ini. Ketidakpercayaan masyakat terhadap pemerintah disalurkan melalui berbagai macam kerusuhan tersebut. Bahkan bukan tidak mungkin jika amarah seluruh rakyat telah membuncah, kerusuhan ’98 akan terulang kembali.

Sudah saatnya sekarang pemerintah berlaku adil, yaitu dengan menggunakan otaknya secara benar, membuat keputusan sesui haknya, bukan untuk kepentingan golongan dan atau pribadi saja.

Jika demikian mana yang benar, Ketidak saktian Pancasila apa Ketidak Becusan para penyelenggara Negara, atau kedua-duanya? Wallahu’alam. [Ayat Muhammad]