Dulu Soeharto Nekad ke Belanda !

HMINEWS.COM- Pada detik-detik akhir keberangkatan dimana semua sudah berada di Bandara Halim Perdana Kusuma, secara mendadak dan sepihak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membatalkan rencananya. Padahal, semua barang pribadi milik presiden sudah masuk pesawat.

Dengan dasi hijaunya dan tangan yang terus bergerak-gerak, presiden pun bicara kepada seluruh rakyat Indonesia tentang alasan batalnya lawatan kenegaraan ke Belanda  yang merupakan undangan langsung dari Ratu Betrix, dimana undangan ini sudah disiapkan jauh-jauh hari yaitu  sejak empat tahun lalu. SBY batal karena ada pengadilan yang tuntutannya menangkap Presiden saat tiba di Belanda.

“Bagi saya kalau ada kepala negara yang berkeunjung ke negara lain ada unjuk rasa itu biasa. Tetapi, yang tidak bisa saya terima adalah ketika Presiden Republik Indoensia berkunjung ke Den Haag atas undangan Ratu Belanda dan Perdana Menteri Belanda dan pada saat itulah digelar sebuah pengadilan yang antara lain untuk memutus tuntutan ditangkapnya presiden Republik Indoensia,” kata SBY dalam konfrensi persnya soal tuntutan untuk menangkap Presiden SBY itu dipercayai dimotori organisasi Republik Maluku Selatan (RMS). SBY pun keder.

Alhasil, setelah Presiden Soeharto belum ada satupun presiden Indonesia yang pernah melawat ke Belanda dalam rangka kunjungan kenegaraan. Cuma Soeharto yang berani, padahal saat itu ia baru menjabat tak lebih dari empat tahun. Soeharto berhasil mencairkan hubungan diplomatis antara Indonesia dan Belanda yang sempat kikuk.

Rabu, 2 September 1970, Presiden Soeharto dan rombongannya bertolak ke Belanda. Bukannya tanpa ancaman, lawatan itu juga mendapat presure dari organisasi pemuda Ambon. Keberangkatan yang harusnya 1 September itu pun ditunda 24 jam. Rupanya Kediaman Resmi Taswin Natadiningrat Duta Besar Indonesia untuk Belanda di Den Haag sudah diduduki sekumpulan pemuda Ambon.

Soeharto tak ciut nyalinya dan tetap memutuskan berangkat. Keesokan harinya pesawat Garuda Indonesia Airways (GIA) yang mengangkut rombongan Presiden dan Nyonya Tien Soeharto beserta 36 rombongan tiba di wilayah udara Belanda. Kedatangan pesawat itu langsung dikawal delapan pesawat tempur Starfighter AU Belanda untuk mendarat di bandar udara militer Ijpenburg yang tak jauh dari Kota Den Haag.

Sebanyak 12 kali dentuman meriam menyambut Soeharto dan rombongan. Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard, Perdana Menteri De Jong, dan anggota kabinet menyambut rombongan. Dari situ Soeharto dan rombongan diangkut dengan helikopter.

Saat Soeharto datang, selama satu hari pemerintah menetapkan Den Haag sebagai kota tertutup. Demonstrasi anti Soeharto pun digelar oleh organisasi Republik Maluku Selatan (RMS). Namun Sohartio berhasil melakukan pertemuan dengan pemerintah Belanda kala itu, meski hanya satu hari berada di Belanda.

Itu cerita 40 tahun lalu. Ancaman, bahkan pendudukan Kantor Kedubes Indonesia sudah terjadi. Tapi Soeharto tak gentar dan tetap melawat ke Belanda. Pemerintah Belanda pun menjamin keamanan 100 persen si pengunjung, bahkan sampai menutup kota Den Haag yang sibuk itu.

Sebuah ancaman pengadilan yang katanya bakal memutuskan menangkap Presiden SBY jadi alasan. Apa Pemerintah Belanda tak memberi jaminan? Atau apakah pembatalan SBY ini memang rekomendasi dari pemerintah Belanda? Belum terjawab, karena sampai saat ini belum ada rilis resmi dari pemerintah Belanda. cuma SBY saja yang bersuara.

15 tahun lalu, Ratu Beatrix, Pangeran Claus dan Pangeran Van Oranje datang ke Indonesia. Bahkan mereka  sempat pesiar ke Keraton Yogyakarta, Borobudur, dan berenang di Laut Bunaken. Tak ada tuntutan atau ancaman. Mereka menikmati indahnya panorama dan hebatnya karang laut Bunaken dengan santai dan sambil berfoto-foto.

Kita tunggu, siapa kira-kira Presiden Republik Indonesia yang bakal berfoto santai dengan latar kincir angin Belanda yang terkenal. Apakah masih SBY? Atau penerusnya! []rima/det./OZ/qian