Kembalinya Musharraf, Akankah Menguntungkan Pakistan?

Qurat ul ain Siddiqui
HMINEWS.COM, Pakistan – Mantan presiden Pakistan, Pervez Musharraf, baru-baru ini di Inggris mengumumkan rencananya untuk kembali ke pentas politik dengan meluncurkan secara resmi sebuah partai politik baru, Liga Muslim Seluruh Pakistan (APML). Meski meminta maaf atas kesalahan-kesalahan politiknya pada masa lalu – terutama diumumkannya Peraturan Rekonsiliasi Nasional yang kontroversial, yang memberikan amnesti kepada para politisi dan birokrat yang dituduh korupsi atau melakukan kejahatan-kejahatan lainnya – dan berjanji membawa Pakistan keluar dari kekacauan saat ini, masih perlu dilihat apakah, bila diberi kesempatan, ia bisa membantu Pakistan mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya.

Pakistan kini dihadapkan pada kemiskinan yang parah, penanggulangan banjir, perang di dalam negeri melawan para ekstremis, pemerintahan yang tak efektif dan berbagai masalah serius lainnya. Mengingat Musharraf pernah memerintah Pakistan selama lebih dari delapan tahun, dari Oktober 1999 hingga Agustus 2008, kembali ke ranah politik Pakistan dengan latar belakang militer dan rekam jejak yang tak terlalu bersih sebagai kepala negara harus dimulai dengan memulihkan kredibilitasnya di mata rakyat Pakistan, dan meyakinkan mereka bahwa ia bisa memberi solusi untuk membawa Pakistan kembali ke “jalan yang benar”.

Tingkat kepuasan terhadap presiden Pakistan sekarang, Asif Ali Zardari, telah merosot hingga ke angka terendah, 32 persen, yang mencerminkan kekecewaan publik terhadap pemerintah yang sekarang. Ini boleh jadi memberi Musharraf awal yang pas untuk kembali ke pentas politik Pakistan. Namun, popularitasnya di kalangan rakyat tidak jelas, begitu pula peluangnya untuk berhasil.

Apa yang perlu diketahui oleh para pemilih sebelum pemilu 2013 mendatang adalah apa yang Musharraf dan APML bisa benar-benar tawarkan kepada rakyat Pakistan.

Musharraf menyatakan bahwa tujuan partainya adalah menempatkan Pakistan “di jalur demokrasi”, jalur yang tidak “artifisial” atau “pura-pura”, merujuk janji-janji muluk yang pernah dilontarkan oleh para kandidat presiden sebelum-sebelumnya. Tapi pernyataan umum seperti ini tidaklah cukup untuk menarik perhatian para pemilih di Pakistan. APML perlu menawarkan solusi-solusi spesifik terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Ekonomi adalah satu wilayah penting yang akan membutuhkan langkah-langkah perbaikan jangka panjang, khususnya setelah banjir baru-baru ini memorakporandakan hasil panen di Pakistan dan membuat banyak lahan pertanian tak akan bisa digunakan dalam beberapa tahun mendatang.

Sebagai pesaing politik baru, APML harus mengembangkan kebijakan ekonomi yang tidak hanya membantu para petani dan pemilik lahan memetik panen lagi, tapi juga menyertakan pembaruan yang komprehensif untuk memperbaiki sistem keuangan Pakistan dan meningkatkan pendapatan dari pajak di Pakistan.

Saat ini kurang dari dua persen dari 180 juta penduduk Pakistan membayar pajak penghasilan mereka. Pembaruan-pembaruan lebih lanjut perlu menyertakan pengalihan alokasi anggaran dari pertahanan ke pendidikan, layanan kesehatan dan pembangunan.

Tidak saja Musharraf harus berupaya mengatasi masalah-masalah berat yang mengancam eksistensi Pakistan, dia juga harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan seputar pencalonannya. Keinginan Musharraf untuk maju menjadi perdana menteri pada pemilu mendatang akan ditentang habis-habisan oleh dua partai politik besar Pakistan, Partai Rakyat Pakistan (PPP) dan Liga Muslim Pakistan-Nawaz (PML-N), yang para pemimpinnya telah sering mencemooh sang mantan jenderal dan ambisi-ambisi politiknya. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani mencela rencana politik Musharraf, dan mengatakan bahwa Ketua Mahkamah Agung akan “menyambut”nya saat dia kembali ke Pakistan. Gilani merujuk pada kasus-kasus yang telah mulai diproses di pengadilan Pakistan terhadap Musharraf.

Memang ada kemungkinan ditempuhnya tindakan hukum terhadap Musharraf, termasuk dakwaan menyangkut pembunuhan pemimpin nasionalis Balochistan, Akbar Bugti dan terkait hilangnya Atiq-ur Rehman, ilmuwan Pakistan yang bekerja untuk Komisi Energi Atom Pakistan. Namun, Musharraf menyatakan “unsur-unsur politik” merekayasa kasus-kasus ini untuk mencegahnya kembali berkuasa.

Meski ada kendala-kendala di atas, orang yang menyebut dirinya “optimis sejak lahir” ini toh meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang dibuatnya pada masa lalu dan menjanjikan rakyat Pakistan “sebuah kontrak sosial baru” untuk masa depan yang lebih cerah. Jelas dia bertekad memimpin kembali Pakistan.
Kembalinya Musharraf bisa membantu meragamkan lanskap politik Pakistan, mendorong rekonsiliasi politik, mungkin saja membangkitkan ekonomi dan menguatkan kebijakan anti-teror yang tegas, serta tidak saja memulihkan kredibilitasnya sendiri, tapi juga memulihkan Pakistan.

* Qurat ul ain Siddiqui adalah seorang jurnalis di Karachi, Pakistan. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM.