Petisi 28: Kami Tak Gentar Dengan Protap Polri

HMINEWS.COM- Meski dibayang-bayangi protap Polri yang baru, Petisi 28 mengaku tak gentar dan akan tetap akan melakukan aksi demonstrasi pada tanggal 20 Oktober nanti, sebagai kritik atas pemerintahan SBY yang dinilai telah gagal dalam mengemban misi konstitusi.

“Itu bukan sebuah ancaman. Kami tidak akan terpengaruh apalagi takut, tindakan represif seperti itu sudah biasa kami peroleh sebagai aktivis sejak jaman orde baru dulu,” ujar anggota Petisi 28, Haris Rusli, Sabtu(16/10/2010) pagi.

Seperti sudah ramai diberitakan sekelompok organisasi pemuda dan masyarakat akan melakukan aksi besar-besaran memperingati satu tahun kepemimpinan SBY-Boediono pada 20 Oktober mendatang.

Mereka antara lain Petisi 28, Gerakan Indonesia Bersih, Bendera dan lainnya setidaknya akan menyampaikan empat pernyataan sikap sekaligus tuntutan yaitu menyatakan bahwa rezim pemeritahan SBY gagal, turunkan harga, tangkap dan sita harta koruptor, tegakkan demokrasi dan berpihak pada rakyat serta usir para penjajah asing yaitu para pengusaha asing dan neokapitalisme.

Kepolisian bahkan menyatakan akan memberlakukan aturan protap pengananan aksi anarkisme yang baru bila dalam aksi tersebut terjadi aksi-aksi kekerasan yang membahayakan keamanan dan ketertiban secara luas.

Menanggapi itu, Haris berpendapat, aksi massa juga akan dipengaruhi dari luar bukan hanya dari internal massa itu sendiri bahkan termasuk dari petugas keamanan sendiri.

“Provokasi kan datangnya bukan hanya dari internal pendemo sendiri tapi juga dari faktor luar seperti juga dari perlakukan petugas keamanan. Apakah mereka terlalu represif atau bagaimana,” ujar dia. Lalu apakah aksi pada tanggal 20 mendatang akan bebas dari aksi anarkis, Haris tidak bisa menjamin, “semua sangat tergantung bagaimana kondisi di lapangan,” katanya.

Namun yang pasti katanya, apa yang akan dilakukan aparat Kepolisian termasuk memberlakukan protap baru itu ditegaskan Haris tidak akan menghalangi apalagi membatalkan aksi gerakan massa yang menurut Haris akan dilakukan secara berkesinambungan hingga Januari 2011 mendatang.

“Apakah dengan protap tembak ditempat atau lebih keras apapun tidak bisa hentikan kemarahan masyarakat yang jauh lebih besar karena kebijakan pemerintahnya yang tidak memihak masyarakat. Tindakan keras aparat justru akan membuat lebih banyak masyarakat yang bergabung,” ujar Haris memperingatkan.[]dni/inilah/rima