Danau Hoan Kiem- jantung kota Hanoi

Saya tiba di Hanoi pada hari Minggu,  3 Oktober 2010 siang hari dengan pesawat Singapore Airlines. Semua pasti sudah tahu bagaimana maskapai ini melayani para penumpangnya, sehingga perjalanan selama kurang lebih empat jam dengan transit di Changi itu benar-benar tidak terasa. Sang pilot pun berhasil mengelabui saya dengan mengatakan bahwa suhu di Hanoi mencapai 1 derajat yang membuat saya agak “bergidik” sendiri, karena sudah hampir setahun saya tidak merasakan Winter. Custom and Immigration di Bandara No Bai sangat mudah, mengantri di bagian pendatang lalu tinggal menuju loket petugas yang ditutupi kaca. Sama sekali tidak ada proses wawancara, pengambilan sidik jari seperti di bandara Amerika Serikat. Ini menyenangkan buat saya, tiba di negeri asing tanpa harus berdebar-debar. Klaim bagasi saya pun berjalan tanpa hambatan, lalu begitu tiba di pintu keluar, saya sudah disambut oleh Dr. Max Huy, wakil direktur Institute of Linguistics, Vietnam, salah satu center bagian dari Vietnam Academy of Social Sciences, dan supirnya yang sedang memampangkan nama saya: Nelly Martin, teacher from Indonesia.

Lalu dimulailah pertualangan saya di hari itu juga. Hanoi sedang berada di musim terbaiknya: musim Semi, jadi udaranya tidak panas dan tidak dingin. Setelah beristirahat di hotel selama kurang lebih 3 jam, saya pun dijemput oleh Dr. Huy untuk menukar uang dan makan malam. Di jalan raya, saya terperangah dengan “kemerahan” kota ini. Di jalan raya dipasang umbul-umbul dan spanduk besar bertuliskan: Thang Long Hanoi 1000 nam: Hanoi merayakan hari jadinya yang ke seribu di bulan dan tahun ini. Wah cukup tua ya. Selain di jalan raya, di gang kecil dan setiap rumah memasang bendera Vietnam yang bergambar bintang. Suasananya cukup meriah. Lalu, Dr. Huy mengajak saya keliling kota Hanoi dengan naik motor. Luar biasa motor dan lalu lintas di kota ini. Banyak sekali pengendara motor, mulai dari orang berseragam kantor sampai dengan wanita berpakaian seksi :). Saya pun berkali-kali tergoda untuk mengambil foto mereka, yang hanya mengenakan baju super mini dan modis saat mengendarai motor, tetapi saya urungkan. Setelah hampir 3o menit diajak berkeliling jalan-jalan utama di kota Hanoi, kami pun menuju Taman Lenin, di mana patung Lenin berdiri dengan gagahnya di taman itu. Tamannya luas, bersih dan ramai. Banyak masyarakat yang memanfaatkannya sebagai tempat bermain anak, memadu kasih atau sekedar menghabiskan waktu dengan duduk-duduk. Karena perayaan 1000 tahun juga maka sebuah layar raksasa terdapat di ujung taman, juga berbagai jenis bunga dan tulisan mengenai hari besar ini tertanam rapih di depan patung. Di depannya, puluhan motor berderet-deret terparkir. Tepat di seberang jalan, kita dapat menyaksikan megahnya the flag tower, di mana bendera Vietnam berkibar dengan gagahnya.

Puas menikmati indahnya taman Lenin, saya pun dibawa ke Banh Dinh square, salah satu jalan utama di kota Hanoi. Di sepanjang boulevard ini terdapat beberapa bangunan penting, seperti: Museum Ho Chi Minh, Istana Presiden, dll. Kota ini pun menjelang malam, di musim semi ini, udara baik sekali sehingga menambahkan kecantikan kota tua ini. Perayaan seribu tahun Hanoi telah menyulap kota ini menjadi sedemikian cantik, dengan segala lampu-lampu penghias kota, yang tetap menampilkan warna khasnya: merah dan emas, juga bunga kebangsaan: bunga lotus.

Lalu lintas kota ini cukup ruwet, terutama saat jam sibuk di pagi dan sore hari. Selain macet, para pengguna jalan bisa dengan seenaknya berpindah jalur dan berputar di jalan raya yang besar itu. Sungguh pengalaman yang unik sekaligus menegangkan buat saya, saat motor murid saya dengan seenaknya pindah jalur di tengah-tengah tumpukan kendaraan tanpa lampu sen. Kebisingan pun menjadi hal yang sangat biasa, karena pengendara suka sekali membunyikan klaksonnya, seperti sedang ada karnaval. Dan yang paling mencengangkan adalah beberapa perempatan besar tidak memiliki lampu lalu lintas! Bayangkan betapa riuh dan tidak amannya, tetapi di luar dugaan setiap pengemudi nampak begitu lihai berkelit satu sama lain. Juga, setiap pengendara motor patuh memakai helm (sayangnya masih helm catok) kalau tidak mau didenda sebesar 200.000 Vietnam Dong. Namun, Hanoi banyak memiliki taman-taman kota dan danau yang indah. Sehingga saat murid saya sedang menaklukan buasnya lalu lintas, saya dapat menikmati indahnya danau dan taman kota dengan lampu-lampunya. Sungguh pemandangan yang indah.

Bangunan-bangunan penting

Di hari kedua kunjungan saya, saya berkesempatan mengunjungi Museum Ho Chi Minh dan One Pillar Pagoda. Sesuai dengan namanya, museum ini memang diperuntukkan bagi Ho Chi Minh- sang pahlawan yang menjadi tokoh paling penting dalam sejarah Vietnam. Ditemani salah satu murid saya yang berbahasa Inggris sangat fasih, saya pun menikmati “kesederhanaan dan kejeniusan” Ho Chi Minh. Di museum ini terdapat segala sesuatu tentang Ho Chi Minh, mulai dari segala korespondensinya dalam bahasa Inggris, Rusia, Perancis, Cina, yang ditulis tangan dengan amat rapih dan bagus sekali. Buku-buku pemikirannya, karya sastranya, hadiah-hadiah dari segala penjuru dunia dan replika bagaimana Ho Chi Minh hidup, memimpin dan berjuang dapat dinikmati oleh para pengunjung. Tuan, rekan saya ini, jelas sekali adalah seorang pengagum Ho Chi Minh, karena dengan semangatnya menceritakan bagaimana sang tokoh ini begitu talentanya dalam mempelajari dan menguasai beberapa bahasa secara otodidak. Bukan hanya menguasai  tetapi juga membuat karya sastra dalam beberapa bahasa tersebut. Selain itu, dia juga menceritakan bagaimana Ho Chi Minh hidup dalam kesederhanaan, bahkan saat ia telah menjadi seorang presiden. Hal inilah yang membuatnya menerima puluhan silverware dari berbagai negara, termasuk Indonesia, karena beliau selalu menjamu tamu dengan perangkat minum seadanya.

Setelah selesai, kami pun melangkahkan kaki menuju one pillar pagoda. Pagoda ini dibangun pada jaman kerajaan Ly Thai Long, yang memimpin sejak tahun 1028 sampai dengan 1054. Pagoda ini memiliki banyak patung Buddha dan masih dikunjungi oleh rakyat Vietnam terutama pada minggu pertama hitungan bulan lunar (kalender Cina) untuk meminta kesejahteraan, kesehatan dan keberuntungan. Jadi, jangan salah mempresepsikan bahwa rakyat Vietnam yang komunis tidak beragama. Di dalam pagoda itu juga masih hidup beberapa monk atau biksu. Saya sempat mengabadikan salah satu dari mereka yang sedang menikmati makan siang. Makan siang yang sederhana.

Di kali lain pun, saya berkesempatan mengunjungi beberapa pagoda lain, di beberapa tempat di kota ini. Patung-patung Buddha yang besar-besar dengan ornamen merah dan emas menjadi pemandangan yang sangat lumrah. Di meja sajian selalu terdapat: apel dan berbagai jenis makanan lainnya.

Bangunan tua lainnya yang dikunjungi adalah The Temple of Literature. Ini adalah universitas pertama dan tertua di Vietnam. Bangunan ini dibangun pada tahun 1010 sebagai tempat belajar confucius bagi para elite, kaum birokrat dan petinggi Vietnam saat itu. Semua nama lulusannya diabadikan  di batu kura-kura yang banyak sekali dijumpai di dalam kompleks. Di tengah batu kura-kura itu, terdapat danau, yang disebut sebagai Lake of Literature. Sebuah simbol tentang ilmu pengetahuan yang luas.

Selain itu saya juga berkesempatan mengunjungi salah satu pagoda terbesar di Vietnam, museum Etnografi yang menyimpan kekayaan budaya dan leluhur berbagai etnik di Vietnam, dan juga mengunjungi tower of the giant turtle yang berada di danau yang terkenal karena keindahannya. Danau Hoan Kiem. Danau yang menjadi jantung kota Hanoi. Danau ini cantik dan tenang sekali. Di air yang menggenang kita bisa menyaksikan bangunan-bangunan tua nan cantik yang terfleksi di danau itu. Di dekat sini juga terdapat sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai jenis oleh-oleh untuk buah tangan bagi para pelancong. Para pedagang menyediakan mulai dari gantungan kunci, tas khas vietnam, sutra yang terkenal, pembatas buku dengan harga yang sangat terjangkau.

Dengan dilatarbelakangi lagu-lagu Hanoi yang terdengar melalui pengeras suara di setiap sudut, saya pun mengakhiri jalan-jalan sore saya dengan menyantap sepiring pepaya muda yang diiris tipis dengan taburan beberapa lapis daging sapi dan potongan kacang. Rasanya enak dan segar. Ternyata inilah rahasia langsingnya tubuh wanita Vietnam: mereka selalu mengonsumsi banyak sayuran bersamaan dengan lemak dan karbohidrat yang mereka cerna. Juga, saya diperkenalkan dengan teh (Dilmah, dalam bahasa Vietnam) yang mengandung berbagai macam khasiat: salah satunya, untuk kulit dan pencernaan. Dan jangan lupa, kalau sudah sampai Vietnam, harus mencicipi pho (mie kuah dengan irisan daging sapi segar) dan menggulung sendiri spring roll Anda! :). Untuk kaum vegetarian dan muslim, ada beberapa restoran yang menyediakannya dengan ikan atau hanya dengan sayuran.

Itulah sekelumit pengalaman saya di Hanoi! Kota indah yang memadukan bangunan moderen dan tradisionalnya.

Oktober, 2010.

NM