HMINEWS.COM – Mahasiswa Jambi terlibat bentrok dengan polisi di depan rumah walikota jambi, 4 orang terluka, satu diantaranya pingsang, yaitu andri rivai dan 3 lainnya, Hamdi Irawan, Syahrani, dan Andi sedang menjalani visum.

Menurut Abd. Hamid yang dikonfirmasi via telpon, aksi yang berujung bentrok ini bermula karena ketidak konsistenan pemkot jambi terhadap perda yang diterbitkannya.

seperti diketahui, terjadi kerusakan parah di jalan Jambi menuju Jakarta, dan Jambi menuju pelabuhan. Kerusakan ini diakibatkan karena banyak mobil-mobil truk pengangkut batu bara yang kelebihan muatan. Karena kerusakan yang sudah sedimikian parah, jalan tersebut menjadi tidak layak lagi untuk dilalui kendaraan, Sehingga mobil-mobil besar bermuatan berat itu mengalihkan jalur mereka ke dalam kota.

Karena masyarakat gerah, akhirnya Pemkot kota Jambi pun membuat perda yang melarang mobil-mobil besar tersebut melintas di dalam kota. Tapi pada kenyataannya, mobil-mobil tersebut tetap melintas dan pemerintah kota jambi terkesan diam.

Inilah yang menjadi alasan mahasiswa yang tergabung dalam HMI Cabang Jambi mengambil tindakan. Mereka menyetop mobil-mobil besar yang melintas dan menyanderanya. Mereka memulai aksinya pada jam sepuluh malam, dan pada pagi harinya mereka telah menyandera 32 truk bermuatan besar.

“Kami menelpon pak walikota (Bambang Priyanto) pukul 6 pagi untuk menyerahkan mobil-mobil tersebut sebagai bukti, dan ajudannya mengatakan bahwa pak walikota sedang sakit. Lalu kami mengirimkan informasi pemberitahuan melalui SMS ke pak Pimen (Dinas Perhubungan), tapi tidak ada tanggapan” terang Abd. Hamid.

“Karena kesal dan merasa pihak yang berwenang menangani masalah ini terkesan tidak peduli, kami akhirnya melakukan melakukan aksi tutup jalan. Kami berharap dengan menimbulkan sedikit kemacetan, pemerintah bisa peduli” lanjut Abd. Hamid.

“Akhirnya polisi datang pukul 10 pagi dan mendesak kami sampai kepinggir kota. Mereka juga membiarkan mobil-mobil truck tersebut pergi tanpa diproses secara hukum, padahal jelas-jelas mereka telah melanggar perda” terang Abd. Hamid lagi

“Jadi 1 mobil truck yang masih tersisa kami bawah ke depan rumah pak walikota. Mobil itu kami bawah agar pak walikota melihatnya, jadi pada saat polisi mau membawa truck tersebut, saya berbaring di depan ban depan mobil untuk mencegah para polisi membawa mobil tersebut”

“Disitulah awal mula bentroknya” lanjutanya ”teman-teman berusaha mencegah polisi yang mau menyinkirkan saya. Dan satu teman yang diculik pada saat kericuhan tersebut menambah suasana bertambah keruh. Akhirnya polisi memukuli kami, dan mengakibat 4 kawan kami terluka dan sampai sekarang masih dirumah sakit.

“M. Ridwan selaku Ketua Komisi politk PB HMI  yang dikonfirmasi juga via telpon, menyesalkan tindakan polisi tersebut. Menurutnya polisi tidak siap menjadi pengayom masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip negara demokrasi. Kemajuan mereka (polisi) sangat lambat, sementara perubahan yang terjadi di masyarakat begitu dinamis. Harusnya polisi punya manajemen yang profesional dan terlatih menangani masalah-masalah seperti ini, sehingga tidak berujung bentrok ketika menangani aksi unjuk rasa.

Menurtnya pula “aksi mahasiswa ini kan bermula dari ketidak patuhan Pemkot kota Jambi terhadap Perda yang mereka terbitkan sendiri. Jadi jangan salahkan mahasiswa, kalau mau tidak ada yang memprotes, atau kalau merasa bahwa pelarangan truk melintas di dalam kota menggangu jalur distribusi ekonomi karena tidak jalur alternatif yang tersedia, jangan terbitkan dulu Perda-nya. tunggu sampai semuanya siap”.[]Nsr