Anak-anak Somalia

Hussein Yusuf
Washington, DC –
Amerika Serikat memang telah terlibat di Somalia sejak awal 1980-an, yang pertama pada masa Perang Dingin dan kemudian pada 1992 ketika kelaparan melanda negara itu dengan meluncurkan misi kemanusiaan Operation Restore Hope. Namun, dalam dasawarsa terakhir Amerika Serikat menjadi semakin terlibat, dengan secara aktif mendukung Pemerintah Federal Transisi sebagai sarana untuk menciptakan perdamaian di Somalia, yang sekarang dirundung meningkatnya kekerasan terkait dengan keberadaan kelompok-kelompok ekstremis Al-Shabaab and Hizbul Islam.

Meski kekerasan meningkat di Somalia, daerah semi-otonom Puntland di Somalia timur laut, dan Somaliland di Tanduk Afrika, ternyata mampu menjamin keamanan para penduduknya dibandingkan daerah-daerah lain, dan bisa menjadi pintu masuk untuk stabilitas yang lebih menyeluruh di Somalia.

Menyadari perlunya memperkuat dan mendukung daerah-daerah ini, Johnnie Carson, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Afrika mengumumkan minggu lalu bahwa pemerintah AS akan mendukung Puntland dan Somaliland dengan bantuan pembangunan dan memperkuat mereka dalam bingkai keterlibatan dua-jalur sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas untuk menjamin stabilitas di Somalia secara keseluruhan. Keputusan ini merefleksikan apa yang dinyatakan oleh banyak rakyat Somalia sebagai cara efektif dalam menstabilkan negara ini dalam jangka panjang.

Carson menjelaskan bahwa “jalur pertama dirancang untuk membantu Pemerintah Federal Transisi menjadi lebih efektif dan inklusif dan untuk membuatnya mampu memberikan berbagai layanan bagi rakyatnya.” Keterlibatan dengan daerah-daerah Puntland dan Somaliland adalah bagian dari jalur kedua, tambahnya.

Tujuan keterlibatan ini adalah menstabilkan Somalia dan melemahkan para ekstremis dengan memberdayakan aparat setempat untuk menjaga keamanan serta memastikan bahwa anak-anak muda mempunyai pekerjaan, sehingga mereka tidak lagi rentan dipengaruhi oleh Al-Shabaab dan kelompok-kelompok serupa. Carson juga menyatakan bahwa pemerintah AS akan terus mendukung Pemerintah Federal Transisi dan presiden Somalia sekarang, juga daerah-daerah dan suku-suku lain yang ingin melindungi wilayah mereka dari para ekstremis, yang telah disambut baik oleh Pemerintah Federal Transisi mengingat ancaman dari Al-Shabaab.

Pernyataan Carson datang pada saat yang tepat bagi Somalia, karena Al-Shabaab tengah mengonsolidasikan kontrolnya atas sebagian besar Somalia selatan, sementara aksi bom bunuh diri dan aksi teroris oleh Al-Shabaab tengah menjadi semakin brutal. Kekerasan tidak saja mengancam Somaliland dan Puntland, tapi juga Kenya, Ethiopia, Uganda dan Yaman. Tahun ini misalnya Al-Shabaab menjalankan aksi bom bunuh diri di Uganda yang menewaskan lebih dari 70 penonton Piala Dunia.

Keterlibatan dua jalur ini mengakui kerja keras dalam penciptaan perdamaian yang telah dilakukan di Somaliland dan Puntland, dan memperlihatkan pemahaman yang tepat terhadap apa yang diinginkan rakyat Somalia: kesempatan kerja bagi pemuda, bantuan pembangunan, infrastruktur yang membantu pemberian berbagai layanan dan kepolisian negara yang kuat untuk menjaga perdamaian.

Pada masa lalu, Amerika Serikat hanya fokus pada upaya memberikan bantuan kemanusiaan dan membantu upaya-upaya melawan terorisme; perubahan kebijakan ini memungkinkan Amerika Serikat tidak saja fokus pada tujuan-tujuan jangka pendek tersebut tapi juga memberikan fondasi bagi perubahan yang lebih panjang melalui pembangunan pertanian, infrastruktur, pembangunan ekonomi dan keamanan.

Dua daerah ini telah memiliki parlemen, presiden dan kepolisian sendiri, tapi mereka lemah dan membutuhkan dukungan pembangunan semacam ini dari Amerika Serikat, Uni Eropa dan Liga Arab. Keberhasilan penciptaan perdamaian secara adat di Somaliland dan Puntland adalah contoh yang bisa diikuti oleh daerah-daerah lain di Somalia. Menguatkan institusi-institusi mereka akan menangkis ancaman ekstremis yang berasal dari Somalia Tengah Selatan.

Penting artinya bagi Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk mendukung daerah-daerah lain yang ingin membangun pemerintahan sendiri. Ini akan membantu daerah-daerah tersebut untuk membuka kesempatan kerja dan membangun pasukan keamanan untuk mempertahankan wilayah dari kemungkinan diambil alih oleh ekstremis.

Mendukung daerah-daerah yang damai tersebut tidak berarti harus mengakui keduanya sebagai negara, dan pemerintah AS sangat jelas menyatakan bahwa keterlibatannya bukan merupakan pengakuan bagi Puntland dan Somaliland sebagai negara.

AS akhirnya mengambil langkah yang benar dengan mendengarkan apa yang diinginkan rakyat Somalia. Inilah saatnya Amerika Serikat masuk membawa dukungan konkrit dalam bentuk pembangunan ekonomi, infrastruktur dan keamanan untuk mengentaskan penderitaan rakyat, memahami karakter terorisme di Somalia, dan memastikan bahwa sistem pemerintahan demokratis – dan perdamaian – bisa bersemayam di Somalia.

* Hussein Yusuf adalah mahasiswa doktoral dalam bidang resolusi konflik di Institute for Conflict Analysis and Resolution, George Mason University. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM.