Terinspirasi oleh Indonesia

Karim Raslan
HMINEWS.COM-
Pada saat menyiapkan penerbitan buku saya, Ceritalah: Indonesia – meskipun hanya sebuah kumpulan artikel dan esai tentang Indonesia dari beragam aspeknya – saya pun merenung ulang. Hal itu membuat saya berpikir sejenak dan meninjau kembali arah hidup saya.

Bagi saya, orang Malaysia yang tinggal di Indonesia, proses memilih artikel untuk buku itu membuat tambah sedih lantaran berbagai peristiwa belakangan ini, termasuk kejadian Agustus lalu ketika pemerintah Malaysia menangkap tiga pegawai Indonesia di perairan yang masih diperselisihkan, yang kembali meningkatkan ketegangan antara Indonesia dan Malaysia.

Saya lalu bertanya pada diri sendiri: apa yang saya lakukan di sini? Apa peduli saya? Akankah saya diacuhkan? Jika dipertimbangkan semua, ada baiknya juga buat saya. Saya sering kali ditanya mengapa saya, seorang pengacara kelahiran Malaysia dan besar di Inggris yang beralih menjadi penulis, tertarik – bahkan terobsesi – dengan Indonesia.

Saya pertama kali mengunjungi Indonesia pada 1995. Saat itu saya terkejut melihat Jakarta, yang begitu besar dan hampir tak masuk akal. Begitu saya mulai menjelajahi republik ini, saya pun mulai memahami dan menikmati keragaman yang saya temukan di sekitar saya. Apalagi saya datang dari Malaysia, di mana isu-isu budaya, bahasa dan agama ditekan oleh pemerintah Melayu-Muslim yang reaksioner.

Saya sungguh terpesona dengan rasa identitas orang Indonesia, kenusantaraan. Saya tambah kagum ketika tahu bahwa identitas itu juga bisa mencakup orang yang sering merantau seperti saya. Menjadi Indonesia adalah sebuah sikap, sebuah identifikasi diri yang lebih terikat dengan bangsa daripada dengan asal-usul suku. Identitas ini bergerak dan berkembang; tidak monolitik. Identitas ini telah, bisa dan akan berubah.

Negara kepulauan ini telah juga menjadi sebuah sumber inspirasi yang kaya, dan saya cukup beruntung bisa bertemu dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat. Di Jakarta, Bali, Palembang, Pontianak dan banyak sekali tempat lain, saya telah bertemu para pengamen, petani kelapa sawit, penjual bakso, bankir dan guru sekolah. Mereka telah menceritakan hidup mereka ke saya, dan memberikan bahan yang kaya bagi artikel-artikel dan buku-buku saya.

Bertemu orang-orang dari seluruh penjuru Indonesia dan mendengarkan cerita mereka juga telah membantu saya memahami identitas saya sendiri secara lebih baik, dan membuat saya lebih sadar tentang apa yang menjangkiti Malaysia, dan mengapa perjalanan Malaysia untuk menjadi sebuah bangsa tetap menjadi impian yang tak terwujud dibandingkan Indonesia. Malaysia terbebani dengan sebuah rasa identitas nasional yang sangat sempit. Kami terbagi-bagi berdasarkan ras dan agama, dan sekat-sekat – yang dikuatkan oleh penafsiran konstitusi yang pilah-pilih – tampaknya tak bisa ditembus.

Namun, di Indonesia, identitas bersifat terbuka dan bergerak. Kemampuan untuk menjadi sangat merdeka dan pada saat yang sama juga mau menerima dimiliki masyarakatnya meski mereka melewati masa kediktatoran dan ketegangan sektarian selama beberapa dasawarsa.

Tentu, Indonesia telah banyak berubah sejak saat itu. Kebrutalan dan korupsi pemerintahan Orde Baru Suharto – yang didominasi militer dan ditandai dengan pelemahan masyarakat sipil – telah membuka jalan bagi demokrasi yang murni meskipun kisruh, dan masyarakat sipil yang terlalu cepat dewasa yang tumbuh subur sekarang.

Indonesia bahkan berada di puncak kejayaan dan tidak saja siap untuk menjadi sangat makmur tapi juga memberi sumbangsih khas bagi pertemuan peradaban-peradaban dunia yang tampaknya saling bertentangan. Dan dengan melalui itu semua, individualisme compang-camping – perlawanan terhadap yang diterima dan yang disepakati – yang diyakini oleh wartawan senior, penyair dan pengarang Goenawan Mohamad sebagai inti karakter Indonesia, menjadi berlaku.

Tentu tidak semua hal baik-baik saja di Indonesia.

Indonesia baru-baru ini diwarnai beberapa insiden diskriminasi agama. Penyerangan terhadap dua pemuka gereja Huria Kristen Batak Protestan di Bekasi, Jawa Barat, yang diduga dilakukan oleh anggota sebuah kelompok Muslim garis keras baru-baru ini, memperjelas bahwa Indonesia juga masih harus meniti jalan panjang untuk mengintegrasikan rakyatnya yang beragam.

Selain itu, kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono tengah memasuki babak kritis. Dalam beberapa bulan mendatang akan tampak apakah dia bisa membawa negaranya menjadi negara maju – sebuah tantangan berat bagi pemimpin yang kadang emosional ini.

Dengan latar belakang inilah, dipadu dengan perasaan, gagasan dan kemungkinan, saya memutuskan menyusun Ceritalah: Indonesia.

Buku kelima saya sejak kembali ke Asia Tenggara ini lain dari yang lain karena inilah buku pertama saya yang sepenuhnya bicara tentang Indonesia. Buku ini akan beredar di toko-toko buku dalam waktu dekat. Tapi ini bukanlah akhir dari kegiatan menulis saya.

Buku ini tidak akan menjadi buku terakhir saya tentang negeri yang luar biasa dan mengagumkan ini. Saat kehidupan di Indonesia terus mengalami pasang surut, dan saat Indonesia muncul di panggung dunia, saya berharap bisa menuturkan lebih banyak lagi cerita tentang negara yang membuat saya sungguh jatuh hati ini.

* Karim Raslan adalah seorang kolumnis yang membagi waktunya antara di Malaysia dan Indonesia. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM seizin penulis.