HMINEWS.COM- Satu negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Satu Haluan, Bhineka Tunggal Ika, Satu Tekad, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Bangkitlah Pemuda, Jangan Diam

Seusai Demo 20 Oktober 2010, Mahasiswa, Pemuda dan aktivis sosial yang peduli pada sejarah bangsa kembali akan melakukan Demo Lebih Besar lagi yang rencananya dilaksanakan tanggal 28 Oktober 2010. Hari itu dikenal sebagai Hari Peringatan Sumpah Pemuda yang secara essensial mempunyai makna tekad sebuah bangsa untuk merdeka. Peringatan Sumapah Pemuda 2010 tahun ini, akan menjadi relevan jika dibarengi tekad Pemuda Indonesia, dengan Sumpah Pemuda yang berisi tekad untuk kembali sebagai bangsa yang berdaulat penuh, tanpa campur tangan kekuanan asing dalam semua bidang kehidupan berbangsa.

Hal ini perlu ditekankan mengingat Ibu Pertiwi semakin bersedih, air mata berlinang membanjiri setiap sudut negeri ini dengan kisah dominan kemiskinan dan kemelaratan. Bangsa kaya raya, Nuswantara negeri agung yang gemah ripah loh jinawi, kini justru menjadi bangsa kuli di negeri sendiri. Berikut catatan yang perlu diketahui oleh kita semua, agar kita benar-benar memahami realita, termasuk dalam mensikapi tekad para soehartois yang ingin menjadikan bosnya sebagai pahlawan nasional, sebuah gelar yang hanya berhak untuk diberikan kepada mereka yang benar 2 “heroik” dalam hidupnya.

Terjerat Kekuatan Barat

Keterlibatan AS dalam kupdeta militer yang merangkap di tahun 1965 di Indonesia sudah banyak ditulis. Bung Karno (BK) yang mempunyai visi jauh kedepan sudah menetapkan bahwa Indonesia adalah non blok, mandiri (berdikari), dan tidak mau tergantung pada utang luar negeri (“Go to hell with your aids!”). Sayang sekali, Soeharto dkk. melakukan konspirasi dengan USA (via CIA) menusuk bangsanya sendiri. Negara-negara sahabat Bung Karno, sperti RRC dan India, yang mempunyai prinsip serupa dengan BK dan tidak mempunyai pengkianat negara semacam Soeharto Cs., saat ini sudah menjadi bangsa yang sehat, normal, bahkan adidaya! Presiden SBY baru-baru ini terpaksa mengulangi langkah BK lagi dengan mengunjungi RRC dan India.

Dalam buku yang ditulis John Pilger dan yang juga ada film dokumenternya, dengan judul The New Rulers of the World, antara lain, dikatakan: “Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat kesenjangan antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar”.

Sejak 1967 Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elite bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa. Sejak itu, Indonesia dikepung oleh kekuatan Barat yang terorganisasi dengan sangat rapi. Instrumen utamanya adalah pemberian utang terus-menerus sehingga utang luar negeri semakin lama semakin besar. Dengan sendirinya, beban pembayaran cicilan utang pokok dan bunganya semakin lama semakin berat. Kita menjadi semakin tergantung pada utang luar negeri.

Sumpah Pemuda

Ketergantungan inilah yang dijadikan leverage atau kekuatan untuk mendikte semua kebijakan pemerintah Indonesia. Tidak saja dalam bentuk ekonomi dan keuangan, tetapi jauh lebih luas dari itu. Utang luar negeri kepada Indonesia diberikan secara sistematis, berkesinambungan, dan terorganisasi secara sangat rapi dengan sikap yang keras serta persyaratan-persyaratan yang berat. Sebagai negara pemberi utang, mereka tidak sendiri-sendiri, tetapi menyatukan diri dalam organisasi yang disebut CGI.

Setelah keuangan negara dibuat bangkrut, Indonesia diberi pinjaman yang tidak boleh dipakai sebelum cadangan devisanya sendiri habis total. Pinjaman diberikan setiap pemerintah menyelesaikan program yang didiktekan oleh IMF dalam bentuk LoI demi LoI. Kalau setiap pelaksanaan LoI dinilai baik, pinjaman sebesar rata-rata USD 400 juta diberikan. Pinjaman ini menumpuk sampai jumlah USD 9 miliar, tiga kali lipat melampaui kuota Indonesia sebesar USD 3 miliar. Karena saldo pinjaman dari IMF melampaui kuota, Indonesia dikenai program pemandoran yang dinamakan Post Program Monitoring.

Yang paling akhir menjadi kontroversi adalah sikap beberapa menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu terhadap uluran tangan spontan dari beberapa kepala pemerintahan beberapa negara Eropa penting berkenaan dengan bencana tsunami. Baru kemarin media massa penuh dengan komentar minor mengapa tim ekonomi pemerintah utang lagi dalam jumlah besar sehingga jumlah stok utang luar negeri keseluruhannya bertambah? Ini sangat bertentangan dengan yang dikatakan selama kampanye presiden dan juga dikatakan oleh para menteri ekonomi sendiri bahwa stok utang akan dikurangi. Berdasar pengalaman, saya yakin bahwa kartel IMF yang memaksa kita berutang dalam jumlah besar supaya dapat membayar utang yang jatuh tempo. Buat mereka, yang terpenting memperoleh pendapatan bunga dan mengendalikan Indonesia dengan menggunakan utang luar negeri yang sulit dibayar kembali.

Mafia Berkeley

Mafia Berkeley adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB). Mereka mempunyai atau menciptakan keturunan-keturunan. Para pendirinya memang sudah sepuh, yaitu Prof Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh. Sadli, J.B. Soemarlin, Adrianus Mooy, dan masih sangat banyak lagi. Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani, Moh. Ikhsan, Chatib Basri, dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada seluruh departemen dan menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala biro.

Ciri kelompok itu ialah masuk ke dalam kabinet tanpa peduli siapa presidennya. Mereka mendesakkan diri dengan bantuan kekuatan agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era Orde Lama, Emil Salim sudah anggota penting dari KOTOE dan Widjojo Nitisastro sudah sekretaris Perdana Menteri Djuanda. Widjojo akhirnya menjabat sebagai ketua Bappenas dan bermarkas di sana. Setelah itu, presiden berganti beberapa kali. Yang “kecolongan” tidak masuk ke dalam kabinet adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. Namun, begitu mereka mengetahui, mereka tidak terima. Mereka mendesak supaya Gus Dur membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti kita ketahui, ketuanya adalah Emil Salim dan sekretarisnya Sri Mulyani.

Mereka berhasil mempengaruhi atau “memaksa” Gus Dur bahwa mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat koordinasi bidang ekuin. Tidak puas lagi, mereka berhasil membentuk Tim Asistensi pada Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang saja, yaitu Widjojo Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka harus ikut mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam perundingan Paris Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali di luar struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk opini publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim ekonomi yang ada. Padahal, kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek kalau kita pelajari statistiknya sekarang.

Yang mengejutkan adalah Presiden Megawati yang mengangkat Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun sebagai Menko Perekonomian. Aliran pikir dan sikap Laksamana Sukardi sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia, walaupun dia bukan anggotanya. Ada penjelasan tersendiri tentang hal ini. Presiden SBY sudah mengetahui semuanya. Toh tidak dapat menolak dimasukkannya ke dalam kabinet tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti Sri Mulyani, Jusuf Anwar, dan Mari Pangestu, seperti yang telah disinaylir oleh beberapa media massa.

Peranan Menara Gading dalam Konspirasi Destruktip

Setelah dr. Mahar Marjono sukses mengemban tugas Soeharto dalam “mempersingkat” hidup Bung Karno (meninggal pada usia sekitar 66 th.), maka Mahar Marjono diangkat menjadi Rektor UI. Dengan ini, maka konspirasi tiga serangkai: USA-Militer-UI mulai terjadi. Untuk menguasai SDM top Indonesia, maka dibentuklah mafia Berkeley (yang sipil, yang notabene para oknum akademisi UI) dan mafia West Point (yang militer, yang notabene para oknum petinggi TNI AD/Polisi).

Sejarah dan pendidikan Indonesia mengalami kegelapan disaat Rektor UI dijabat oleh jendral TNI AD yaitu Nugroho Notosusanto. Hari lahir Pancasila diabaikan, sejarah nasional dijungkir balikan: nama2 jalan besar diseluruh kota besar di Indonesia harus memakai nama jendral AD (Yani, Tendean, dst), peran BK diminimalkan, peran militer di blow up, peran inteligensia/kecerdasan disempitkan, dan wawasan almamater (pembungkaman kampus) dilaksanakan.

Para pelacur intelektual  sungguh banyak, mereka ini telah ikut serta menenggelamkan Indonesia, sudah saatnya mereka mengalami hukuman sosial dengan membeberkan dosa-dosa terselubung mereka! Prof. Ismail Suni, Yusril, Jimmly Asidiqi, Miranda Gultom, Anwar Nasution, Nazarudin, dst., adalah termasuk para konspiran. Pada umumnya, mereka ditokohkan terlebih dahulu melalui televisi sebagai intelektual yang kritis (politik kambing putih); kemudian setelah beberapa bulan dan telah mempunyai reputasi nasional, maka mereka diselundupkan/disusupkan dan diangkat menjadi pejabat penting regim ORBA (dan bablasannya) dalam pemerintahan (eselon 1, 2, atau menteri). Konspirasi destruktip USA-Militer-UI yang berhasil menusuk Bung Karno dari belakang (kupdeta yang merangkak) menjadikan Indonesia hingga kini terjebak dalam berbagai krisis dan sulit kembali menjadi bangsa yang sehat sehat.

Dalam perkembangannya, Soeharto dan regim penerusnya tidak hanya menggunakan UI, melainkan juga memanfaatkan para pelacur intelektual dari: ITB, UGM dan IPB dan berbagai kampus untuk melahirkan pelacur pelacur Intelektual . Melalui program NKK, Normalisasi Kehidupan Kampus pada zaman Daoed Joesoef, melalui program SKS , sistem kredit semester , pengebirian lembaga-lembaga kemahasiswaan, telah berhasil menjauhkan Mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan dari realitas kehidupan bangsanya. Meskipun mahsiswa-mahasiswa yang kritis, tetap melakukan kontrol dan menghadapi “kadal Ijo” julukan militer yang sangat represif, namun nasib para idealis ini harus teramputasi dengan masuk daftar black list yang tidak memungkinkan mereka berkiprah membangun bangsa melalui birokrasi, sipil, militer. Sehingga bangsa ini kehilangan birokrat, teknokrat dan militer yang idealis karena sistem screening. Saat ini, para penghuni menara gading, para oportunis suhartois justru mengendalikan birokrasi, sipil, militer dan hasilnya bisa kita lihat.

Jangan Terjebak

Ada beberapa isue yang sangat strategis yang perlu kita hadapi dengan kritis dan tidak terjebak emosi. Blow Up Calon RI 1 untuk 2014 yang dictrakan oleh kelompok tertentu, yang kedua adalah Keberanian Para Loyalis Soeharto yang tetap ada di Golkar dan yang telah berdiaspora ke berbagai partai politik yang mengusulkan “Bosnya” menjadi Pahlawan Nasional tepat di hari ke 1000 (nyewu) kematiannya sekaligus tepat 1 tahun Pemerintahan SBY.

Sistem akselerasi, pemberlakuan sistem kredit semester (SKS) bagi anak-anak SMA akan semakin menjauhkan remaja-remaja bangsa Indonesia sebagai penerus kepemimpinan bangsa dari peduli pada kehidupan bangsa. SKS pada siswa SMA merupakan pengamputasian idealisme remaja sejak dini. Kita semakin sulit menemukan siswa-siswa yang punya kepemimpina ideal untuk berbangsa karena semakin langka organisasi-organisasi pelajar di luar sekolah tempat menggemleng kepemimpinannya. Sementara di sekolah mereka kian ditekan dengan belajar melalui akselerasi dan SKS.

Jika mereka (Soehartois, mafia Barclay dan Pelacur 2 Intelektual) tetap menjadi antek-antek neokolonial dengan tidak peduli pada masa depan bangsa, maka sudah seharusnya semua pemuda, semua aktivis dan semua komponen bangsa perlu segera mengambil langkah yang benar, untuk kembali menjadi bangsa yang besar !

disusun dari berbagai sumber

Darwono Tuan Guru

mantan aktivis kampus Jama’ah Shalahuddin UGM, HMI MPO Yogyakarta, Pekerja soial Bidang pengembangan Masyarakat.