STOP! Kekerasan Atas Nama Islam

Suhadi Cholil
HMINEWS.COM, Yogyakarta– Bila Anda membaca surat kabar Indonesia hari ini, tak akan ada banyak berita yang menghilangkan mitos bahwa Islam adalah agama kekerasan. Tapi, dengan melihat lebih saksama pada bagaimana Muslim menanggapi kekerasan semacam itu, akan tampaklah kenyataan yang berbeda.

Misalnya, beberapa hari sebelum Ramadan lalu, ada berita-berita tentang sekelompok kecil Muslim di Jawa Barat yang menyerang para pengikut Ahmadiyah. Para penganut Ahmadiyah menganggap diri mereka juga Muslim, namun mereka meyakini bahwa Imam Mahdi telah muncul lewat sosok Mirza Ghulam Ahmad, tokoh dari India abad ke-19. Mereka dipandang oleh Muslim arus utama sebagai kelompok sempalan.

Tapi segera setelah muncul berita itu, Slamet Effendi Yusuf, tokoh Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Muslim terbesar di Indonesia, meminta para tokoh Muslim untuk menggunakan dialog yang persuasif dan pendekatan yang damai dalam menangani perbedaan-perbedaan antara komunitas mereka dan Ahmadiyah.

Kejadian kekerasan lainnya terjadi tak lama setelah Idul Fitri, ketika beberapa Muslim di Bekasi, Jawa Barat, menikam dua pemimpin dan menyerang jema’at Huria Kristen Batak Protestan dalam suatu unjuk rasa ketika Forum Perjuangan Warga Mustikajaya dan beberapa organisasi Islam lainnya memprotes rencana orang Kristen setempat untuk membangun sebuah gereja.

Menanggapi peristiwa itu, Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, organisasi Muslim terbesar kedua di Indonesia, mengecam aksi-aksi kekerasan terhadap orang Kristen, dan menegaskan bahwa pemerintah harus menjamin kebebasan beragama bagi semua warga negara.

Dan pada 22 September, para anggota sebuah jaringan teroris yang belum lama telah membuat berita dengan serangkaian aksi perampokan bank atas nama Islam, menembak dan menewaskan tiga aparat polisi di Medan, Sumatra Utara. Buronan tersangka teroris, Abu Tholut, yang diduga mendalangi perampokan-perampokan itu, mengklaim bahwa setiap harta yang bukan milik kelompok itu dianggap rampasan perang (sya’i) dan boleh dirampas untuk mendukung perjuangannya.

Tapi Said Agil Siraj, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, angkat suara menentang aksi-aksi itu dan menyatakan bahwa “tidak ada kekerasan dalam agama, dan tidak ada agama dalam kekerasan.” Pernyataan-pernyataan seperti ini, karena datang dari pemimpin Muslim, sangat mendelegitimasi tindakan-tindakan teror yang dilakukan atas nama Islam.

Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan sebuah fatwa yang melarang terorisme pada 2004. MUI berpendapat bahwa aksi-aksi seperti aksi kelompok Abu Tholut mengancam kedaulatan nasional dan perdamaian internasional karena menebarkan ketakutan di masyarakat. Itulah mengapa MUI memandang terorisme sebagai kejahatan yang dilarang dalam Islam.

Dalam sejarahnya, Muslim Indonesia sebenarnya adalah masyarakat yang damai dan telah menunjukkan apresiasi atas keragaman. Di beberapa tempat di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Surakarta dan Malang, masjid dan gereja sering terletak bersebelahan, dan para penganut agama yang berbeda hidup berdampingan secara rukun.

Mayoritas Muslim Indonesia menolak kekerasan, seperti ditunjukkan oleh Lembaga Survei Indonesia. Pada 2006, salah satu survei mereka mendapati bahwa sebagian besar – lebih dari 80 persen – Muslim Indonesia tidak setuju dengan pemikiran bahwa bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang adalah sebentuk perang suci; hanya kurang dari delapan persen yang mengatakan setuju (sisanya mengatakan tidak yakin atau tidak menjawab).

Suara-suara tokoh Muslim di Indonesia sangatlah jelas dalam menolak kekerasan atas nama agama. Namun, terus terjadinya kekerasan menandakan bahwa sebagian Muslim Indonesia masih saja tidak mengerti kalau akar Islam adalah perdamaian.

Saya percaya kejadian-kejadian ini menjadi peringatan bagi para pemimpin Muslim dan seluruh umat. Kita harus bekerja lebih keras untuk membuat prinsip hidup tanpa kekerasan dan perdamaian terwujud dalam masyarakat kita. Itu termasuk dengan mendidik para murid di sekolah-sekolah umum, di madrasah-madrasah dan pondok-pondok pesantren tentang perdamaian agar kita bisa menumbuhkan generasi masa depan yang mengerti bahwa setiap tindakan kekerasan bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Namun, lebih penting lagi, kita perlu berhenti menggunakan kekerasan dan belajar menggunakan dialog untuk mengatasi perbedaan-perbedaan kita.

###

* Suhadi Cholil adalah staf pengajar di Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM.