Indonesia Melawan Teror Lewat Komik

Tasa Nugraza Barley
Jakarta – Menyebut kata “terorisme” saja sudah cukup untuk menebar ketakutan di hati orang di seluruh dunia. Kata ini mengingatkan kita bahwa ancaman radikalisme masih ada, dan tak peduli seberapa banyak teroris yang ditangkap, sepertinya selalu ada orang-orang baru yang menggantikan mereka. Mungkin ini karena tidak ada bagian masyarakat yang lebih rentan terkena pengaruh radikalisasi ketimbang remaja. Pikiran mereka masih gampang dipengaruhi, dan ini menjadikan selalu saja ada teroris baru, tak peduli seberapa banyak yang telah ditangkap atau terbunuh.

Namun, sebuah organisasi di Indonesia bernama Lazuardi Birru tengah mencoba memutus siklus negatif ini dengan menggunakan cara-cara kreatif untuk mengarahkan perlawanan langsung ke akar masalah. Lazuardi Birru, yang didirikan dua tahun lalu, adalah organisasi nirlaba di Jakarta yang diabdikan untuk mendorong anti-kekerasan dan pluralisme.

Sepanjang tahun lalu, para penulis, ilustrator dan desainernya telah menciptakan sebuah komik atau novel grafis setebal 130 halaman yang ditujukan untuk anak-anak muda Indonesia yang dilihat sebagai sasaran potensial dari radikalisasi. September lalu, Lazuardi Birru meluncurkan komik, Ketika Nurani Bicara.

“Komik ini dibuat untuk menekankan pentingnya perdamaian, pemahaman yang benar tentang jihad, dan kesadaran akan adanya gerakan-gerakan yang mendorong kekerasan atas nama agama pada anak-anak muda Indonesia,” kata Dhyah Madya, ketua Lazuardi Birru.

Komik ini mengisahkan peristiwa bom Bali di Kuta tahun 2002. Pemboman ini adalah aksi terorisme paling mematikan dalam sejarah Indonesia, yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga Australia dan 38 warga Indonesia.

Cerita dalam komik ini dituturkan dari sudut pandang tiga tokoh utama: Ali Imron, salah satu teroris yang terlibat dalam pemboman itu; Haji Agus Bambang Priyanto, orang yang membantu menyelamatkan orang-orang setelah pemboman; dan Hayati Eka Laksmi, yang suaminya tewas dalam pemboman itu.

Masing-masing cerita yang digambarkan di buku tersebut adalah kisah nyata dan dikumpulkan melalui serangkaian wawancara dengan tokoh-tokoh tersebut.

Dhyah mengatakan bahwa timnya harus bekerja keras melewati hambatan birokrasi sebelum mereka akhirnya bisa mewawancarai Ali Imron di penjara. Ali Imron dikenal sebagai salah seorang otak di balik pemboman itu, tapi karena insyaf dan mau bekerja sama dengan polisi, ia hanya diganjar hukuman penjara seumur hidup. Ceritanya dimulai dengan pemboman. Kemudian, para pembaca diceritakan bagaimana Ali Imron direkrut, bagaimana ia merencanakan pemboman dan, akhirnya, tentang hidupnya setelah ia tertangkap.

Dhyah mengatakan bahwa novel grafis ini didasarkan pada kisah nyata dan diteliti secara cermat. “Semua hal di buku ini akurat dan didasarkan pada pengalaman nyata para tokohnya,” katanya. Ia menambahkan bahwa timnya menghabiskan satu tahun untuk melakukan wawancara dan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyusun buku ini.

Dalam salah satu adegan, Ali Imron meneteskan air mata selama proses pengadilan, menangis setelah mendengar kesaksian Hayati tentang betapa sulit hidupnya sepeninggal suaminya: “Saya benar-benar minta maaf karena terlibat dalam pemboman,” isaknya. “Saya telah sadar bahwa pemboman itu bukanlah jihad, karena jihad yang benar dalam Islam adalah sesuatu yang sangat keramat dan suci.”

Lazuardi Birru telah mencetak lebih dari 10.000 eksemplar komik itu dan berencana mengedarkan sebagian besar di antaranya secara gratis ke masjid-masjid, pesantren-pesantren, kampus-kampus dan perpustakaan-perpustakaan umum di seluruh 33 provinsi. Sisanya diedarkan melalui toko buku. Masyarakat juga bisa mengunduh versi e-booknya dari situs Lazuardi Birru (www.lazuardibirru.org) dalam beberapa bahasa, termasuk Sunda, Jawa, Melayu dan Arab.

Bambang mengatakan bahwa ia berharap dimasukkannya ceritanya dalam komik tersebut dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak muda Indonesia yang lain, dan membantu mereka “mengerti dan mempelajari bagian penting dalam sejarah negara kita.” Ia mengatakan bahwa para remaja juga “harus hati-hati ketika belajar agama, karena ada banyak kelompok agama garis keras yang berpikir bahwa mereka selalu benar dan paling tahu tentang Tuhan.”

Hayati, yang hadir di acara peluncuran komik itu, juga punya nasihat buat remaja Indonesia: “Jika ingin membela Islam, lakukanlah dengan benar, bukan dengan cara-cara yang membahayakan seperti pemboman di Bali karena Islam adalah rahmat buat semua. Jadi kita tidak boleh melukai orang lain seperti itu.”

Elga S., seorang siswa sekolah menengah, mengatakan,“Ketika Nurani Bicara adalah bacaan yang bagus buat remaja, khususnya mereka yang tidak sepenuhnya memahami Islam. Komik ini menceritakan pada kita tentang jihad yang sesungguhnya.”

Ali Imron muncul dalam sebuah video yang diputar saat makan siang. Dalam rekaman video itu, ia mengatakan bahwa ia tidak ingin melihat anak muda Indonesia yang lain mengikuti jalannya. “Saya berharap anak muda tidak mudah dipengaruhi oleh ajakan-ajakan jihad yang disalahartikan,” katanya dari balik jeruji penjara di mana ia menghabiskan sisa masa hidupnya.

* Tasa Nugraza Barley adalah seorang bloger dan jurnalis. Artikel ringkasan ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM  seizin The Jakarta Globe.