Selasa 12 Oktober 2010 KAHMI Nasional (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) mengadakan Halal Bil halal dan Ulang tahunnya yang ke 44, sebuah umur yg sudah relatif dewasa bila diibaratkan umur manusia. Acara diselenggarakan di Hotel Sahid Jaya dengan Pembicara utama Prof DR Mahfud MD. Prof Mahfud memulai ceramahnya dengan penjelasan mengenai pilar negara yang harus menjadi acuan bagi warganya. Pancasila, UUD 45 dan pluralisme yang dikenal dengan ke bhinekaan.

Ada ke prihatinan mendalam mengenai kekerasan demi kekerasan yang berlangsung dalam masyarakat kita, dominasi mayoritas terhadap
minoritas dan lemahnya wibawa hukum. Wibawa demokrasi hasrus lah sejajar dengan wibawa hukum, namun berbagai persoalan hukum saat ini nenjadikan bangsa ini terseret dalam arus konflik sosial yang berkepanjangan, pluralisme
atau ke bhinekaan merupakan modal sosial bangsa ini yang harus dijaga dialam
demokrasi.

Sejenak saya terkenang dengan awal masuknya saya kedalam organisasi ekstra
kampus bernama HMI ini, ketika Islam menjadi mimpi bersama. Ada berbagai
penjelasan yang membangun emosi keislaman dari para senior pada saat itu,
bahwa umat Islam mengalami penindasan dari regim Soeharto. Negara ini akan
makmur bila Syariat Islam ditegakkan di bumi nusantara dan Republik Indonesia
berubah nama menjadi Republik Islam Indonesia. Dan segenap penjelasan lain
mengenai tujuh kata dalam Piagam Djakarta yang harus dikembalikan sebagaimana
teks aselinya.

Bila ceramah Prof Mahfud MD dilakukan ditahun tahun tersebut maka sudah dapat
dipastikan berdasarkan doktrin yang saya terima dan mimpi tentang negara Islam
dari para Senior, akan menjadikan Prof Mahfud mendapat bulan bulanan Kritik
pedas dengan umpatan sekuler, tidak Islami, Thogut, komparador asing dan
sebagainya.

Karena demokrasi dan kebhinekaan bukanlah alasan untuk tidak menjadikan Islam
sebagai landasan negara, dimana semua hukum harus bersumber dari Al Qur’an dan
siapa yang memutuskan hukum bukan berdasarkan hukum Allah maka dia termasuk
kafir.

Sangat simplistik dalam melihat persoalan, tegas dalam ber ideologi dan tanpa
kompromi. Ada ungkapan yang selalu terngiang pada saat itu ketika seorang
menteri di masa Orba berkata: ‘ bila tidak mau menjadikan Pancasila sebagai
dasar negara maka sebaiknya keluar dari bumi Indonesia.’ yang segera mendapat
jawaban: “Bumi ini milik Allah bila tidak ingin berhukum berdasar hukum Allah
silahkan keluar dari bumi yang Allah ciptakan.”

Malam ini setelah hampir tiga puluh tahun berlalu setelah akal sehat dan
realitas sosial berkata lain, setelah sekian puluh buku mengenai Afghanistan,
Arab Saudi, Iran dan lainnya begitu terbuka untuk dibaca. Ketika kenyataan
pahit dari doktrin Islam ditafsirkan dan diperagakan di berbagai negara dengan
segenap permasalahannya.

Mimpi tentang negara Islam yang hanya bersandar pada dua kata, Negara dan
Islam, tanpa penjelasan mekanisme pelaksanaan dan jaminan bahwa otoritarianisme
tidak menjadi masalah ketika kekuasaan berada ditangan ulama, ketika tafsir
menjadi hukum yang baku walaupun berada dalam wilayah pikiran manusia yang
tentunya juga memiliki keterbatasan.

Saya tersenyum sendiri mengingat masa masa itu.

Geis Chalifah, alumnus HMI kini pimpinan Al-Irsyad