Boediono Kini Berani Melawan Presiden SBY: Menolak Reshuffle

HMINEWS.COM- Wapres Boediono menolak reshuffle, sementara SBY sudah memberikan sinyal perombakan kabinet. Silang pendapat agaknya terjadi antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Wakil Presiden Boediono soal reshuffle kabinet. SBY bilang pergantian menteri bisa saja terjadi, Boediono sebaliknya.

Boediono, aktor utama skandal Century,  menolak reshuffle karena dampak yang bisa ditimbulkan dari gonta-ganti menteri. Pembangunan yang selama ini dirancang dan berjalan bisa terganggu. Lain soal jika Indonesia sudah tergolong negara maju seperti Jepang.

Pernyataan mantan Gubernur Bank Indonesia ini dilontarkan dalam ramah tamah dengan warga negara Indonesia di Kedutaan BEsar RI di Cina, Beijing, Rabu 20 Oktober 2010, seperti dikutip Republika,

Penolakan Boediono terhadap reshuffle terlihat tidak seperti gaya yang dipakainya selama ini yang kalem dan tenang. Kali ini mantan Gubernur Bank Indonesia ini tidak manut, dan mulai berani ‘melawan’ Presiden SBY.

Presiden sudah menegaskan ada reshuffle kabinet itu. Menteri yang memiliki rapor merah harus digeser.

“Manakala ada menteri yang menurut saya di bawah standar, tapi bisa diperbaiki, saya akan minta diperbaiki karena menurut saya belum baik. Kecuali, bila ada kinerja menteri yang jauh di bawah standar, itu tentu sulit untuk mengemban tugas,” ujar SBY dalam wawancara dengan radio El Shinta, kemarin.

SBY Bakal Ditekuk Boed

Wakil Presiden Boediono mulai berani melawan isyarat reshuffe Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ada apa?

Para pengamat ekonomi-popilitik melihat Wapres jelas punya agenda ideologis yakni neoliberalisme yang didukung IMF/World Bank. Adapun SBY ialah seorang nasionalis yang pragmatis, yang sangat tergantung dukungan asing untuk berkuasa karena tak punya perspektif ekonomi-politik. Keberanian Boediono melawan SBY menunjukkan ada perbedaan persepsi dan perspektif ekonomi-politik kedua pemimpin Kabinet Indonesia Bersatu II itu.

“Keduanya berbeda secara persepsi maupun perspektif ekonomi-politiknya. Boediono dan Mafia Berkeley sudah berani memberi sinyal melawan SBY dalam soal reshuffle karena dia merasa dapat dukungan IMF/World Bank, meski sejatinya Boediono dan Mafia Berkeley itu pepesan kosong juga,” kata pengamat ekonomi-politik Frans Aba, kandidat PhD di National University of Malaysia.

Frans menambahkan Boediono yang terkesan klemar-klemer (lemah lembut) itu jelas punya ambisi dan agenda tersendiri, yang bisa menyerimpet SBY melalui jaringan asing Neolibnya.

“Boediono tahu bahwa SBY peragu dan lemah, sehingga Boediono yakin SBY mudah ditekuknya, kata Frans.

Silang pendapat agaknya terjadi antara Presiden SBY dengan Wakil Presiden Boediono soal reshuffle kabinet. SBY bilang pergantian menteri bisa saja terjadi, Boediono sebaliknya.

Boediono menolak reshuffle karena dampak yang bisa ditimbulkan dari gonta-ganti menteri. Pembangunan yang selama ini dirancang dan berjalan bisa terganggu. Lain soal jika Indonesia sudah tergolong negara maju seperti Jepang.

Pernyataan mantan Gubernur Bank Indonesia ini dilontarkan dalam ramah tamah dengan warga negara Indonesia di Kedutaan Besar RI di Cina, Beijing, Rabu 20 Oktober 2010.

Penolakan Boediono terhadap perombakan kabinet itu terlihat tidak seperti gaya yang dipakainya selama ini yang kalem dan tenang. Kali ini mantan Gubernur Bank Indonesia ini tidak manut, dan mulai berani ‘melawan’ Presiden SBY.[]rima/dni