Sindrom Menuju Kehancuran Bangsa

HMINEWS.COM- Mencermati berbagai kasus kekerasan di berbagai tempat Aceh, Medan, Padang, Tarakan, Ampera, Bogor dst.Membuktikan bahwa bangsa ini sedang menuju jurang kehancuran. Senjata begitu mudahnya didapat dan dimuntahkan untuk sebuah Nafsu Angkara Murka, Pemerintah sudah sejak lama kehilangan Kharismatika, dan Kewibawaannya

Bagaimana tidak,  mulai ditingkat Kades yang menggelapkan Raskin, Anggota Dewan yang menodai seorang (maaf) gadis, dan Maaf maaf jadi New Berjouis pengumpul Deposito utk 7 turunannya, Pelaku Koruptor kelas kakap yang dibebaskan dengan alasan Remisi, Kabareskrim yang menyalakkan suaranya kemudian harus duduk dipesakitan, BLBI dan CENTURY hilang tenggelam dibawa angin isu Teroris, para juru tafsir jalanan yang menghakimi dan membakar rumah paham serta aliran agama yg berbeda, tikus tikus sepanjang jalan Pantura yang tiada pernah henti, Aliran Listrik yang kian padam silih berganti, Gunung Emas, Minyak, Aneka Tambang Hasil Bumi, Kayu, Beras, Kopi, hatta Pasir di Rampok oleh oleh bangsa lain.

Tidak ada satupun yang siap menjadi Tumbal Meneriakkan ‘KEMBALIKAN KEKAYAAN BANGSA INI’. Kemiskinan kian tak terpecahkan, Perampok perampok Berdasi kian meraja lela baik Legislatif, Eksekutif maupun Yudikatif,Clean Goverment, hanya retorika dan bualan belaka, Pemberantasan Korupsi bak Api jauh dari Panggangnya.

Tidak akan ada lagi Tipikal BAHARUDDIN LOPA, yang menjadi tumbal Keadilan dan Kujujuran serta Kesederhanaan, Pemuka Agama marak mengisi Panggung panggung Agama sebagai Jualan Ayat dan Hadits, syiar syiar agama yang dilakoni tak ubahnya bagai Badut badut yang tdk mampu menggerakkan energi Positif utk menumbangkan TIRANI, KEZOLIMAN dan PEMERINTAHAN KORUP

Semestinya Syiar agama merupakan salah satu jalan penyampaian pesan-pesan agama yang kaya kandungan nilai-nilai moral. Syiar itu bertujuan mengajak umat beragama untuk menjalankan segenap ajaran-ajaran agama berupa perintah dan larangan Tuhan yang termaktub dalam Kitab Suci dan dicontohkan secara sempurna oleh Suri Tauladan Nabi Muhammad SAW. Salah satu ajaran agama yang esensial adalah mengenai moralitas, akhlak. Oleh karena itu, pesan-pesan moral pun banyak terkandung dalam ceramah-ceramah agama melalui berbagai media.

Persoalan yang muncul adalah terputusnya hubungan antara syiar agama dengan perilaku umat beragama dalam kehidupan nyata sehari-hari sehingga muncul kesan kuat bahwa tidak ada korelasi positif antara syiar agama dengan hidupnya nilai-nilai agama. Syiar agama pun cenderung dianggap sebagai entertainment (pertunjukan, show, hiburan), sebagai pelipur lara, bahkan tak jarang sebagai penghibur atau humor belaka. Dalam beberapa hal, semaraknya syiar agama memang mempunyai dampak seperti tumbuhnya rasa kebanggaan (ghirah) sebagian kaum Muslimin kepada Islam, tumbuh dan berkembangnya ritual-ritual Islam seperti shalat Jum’at, penuh dan banjir dg  jama’ah namun miskin untuk bergerak, untuk mengepung seluruh stasiun TV atas upaya upaya sistematik Pendangkalan Moralitas Bangsa…. untuk mengepung DPR mana pasal pasal yang memisal Rakyat banyak, mengepung Istana untuk menagih mana janji janji Gombalnya.

Pada saat yang sama, moralitas umat hampir tak terbangun. Betapa sulitnya kita mencari orang yang jujur, mengemban amanat, bertanggung jawab, integritas tinggi dan komitmen moral yang tak terbeli oleh apa pun. Kesadaran akan rasa bersalah (sense of guilty) dan rasa malu (sense of shame) untuk berkhianat, ingkar janji, KKN, fitnah, emosi tak terkendali seakan telah hilang atau kian menipis. Persoalan umat yang paling gawat dan krusial sekarang ini justru terletak pada rendahnya integritas moral kita, baik pada tataran individu maupun (terlebih lagi) pada tataran sosial.

Kenyataannya, yang terjadi sekarang ini adalah fenomena apa yang kita sebut sebagai “moralitas hujan”; banjir syiar, miskin moral. Di tengah-tengah semaraknya pesan-pesan moral dan syiar agama, kita justru menyaksikan kekeringan moralitas. Hal ini dapat diibaratkan dengan fenomena banjir air yang kita alami belum lama ini. Air, pada esensi maujudnya, bernilai baik. Demikian pula, syiar agama atau pesan moral bernilai baik pada dirinya. Namun, ketika turunnya air hujan tidak mampu kita tangani dengan baik atau dikelola dengan profesional, banjir air pun menimpa kita. Air yang semula anugerah menjadi sumber bencana. Demikian pula halnya, ketika syiar agama dan pesan moral tidak kita lakukan dengan kedalaman visi dan rasa tanggung jawab, banjir syiar yg miskin makna pun menerpa diri kita. Syiar moral yang semula petunjuk dan penggugah kesadaran nurani menjadi sumber penumpul ketajaman nalar dan kepekaan nurani kita.

Ulama, Pemuka Agama, Habaib, Asatidz, Umara, Zu’ama, sadarlah jangan lagi mengkambing hitamkan TAKDIR, ini semua adalah bukan semata takdir tapi karena ulah tangan tangan kita yang bablas serta salah menjadikan seorang Pemimpin.

ألم تروا أن الله سخر لكم ما في السموت وما في الارض واسبغ عليكم نعمه ظاهرة وباطنة

ومن الناس من يجادل في الله بغير علم ولا هدي ولا كتب منير   (   لقمان 20

Tidaklah kamu perhatikan, bahwa Allah telah mengadakan apa saja yang ada dilangit dan di bumi, dan mencukupkan karunia-Nya yang lahir dan yang bathin untuk kamu ? Tetapi diantara manusia ada yang membantah Allah dengan tiada pengetahuan, tiada pimpinan dan tiada kitab yang memberikan penerangan”. Surat Luqman 20.

Abu Haidar Abi