Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum

HMINEWS.COM- Beredar kabar bahwa pemilihan Timur itu terkait upaya balas budi. Timur disebut-sebut berhasil menyelamatkan muka para pengurus Partai Demokrat. Dia dianggap sukses menjaga keamanan sekaligus mengamankan kepentingan fungsionaris partai pada saat Kongres Partai Demokrat di Bandung, akhir Mei lalu.

Saat itu, Partai Demokrat diguncang isu miring. Salah seorang petinggi partai diduga berbuat mesum terhadap seorang gadis (Sale Promotion Girl), Dt, di satu hotel bintang di Bandung, Jawa Barat. Peristiwa itu terjadi di tengah Kongres Demokrat yang salah satu agendanya memilih ketua umum baru.

Isu politik balas jasa ini terus memanas. Pasalnya, kasus asusila itu seakan raib begitu saja. Tidak ada kelanjutan atau publikasi kalau memang kasus ini diberhentikan. Anggota Komisi III DPR yang akan menguji kepatutan dan kelayakan Timur harus meminta klarifikasi tentang kasus tersebut.

Menanggapi keresahan publik, SBY menegaskan bahwa pencalonan Timur tidak dipolitisasi. Namun, pernyataan sikap ini dinilai sangat naif dan harus ditelaah kembali. Kenyataannya, Presiden SBY justru mempolitisasi keputusannya mengusulkan Timur ke DPR.

Pasalnya, SBY hingga kini masih menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang tentu berkepentingan bahkan terafiliasi dengan jasa-jasa Timur. Presiden SBY pun berlindung di balik hak prerogatif dengan mengabaikan semua proses internal Polri yang dilandaskan pada hukum yang berlaku.

Dalam UU, tugas polisi jelas tertulis adalah sebagai pengayom masyarakat. Sedangkan dalam negara demokratis yang tertib, kepentingan rakyat didahulukan ketimbang kepentingan pribadi. Sangatlah keliru menunggangi independensi Polri dan hak prerogatif presiden untuk pencalonan pemimpin Polri tanpa memedulikan aspirasi publik.[]rima/dni