Pariwisata, Keuntungan dari Penyelesaian Konflik Israel-Palestina

Marc Gopin
HMINEWS.COM, Washington, DC
– Tersendat-sendatnya proses perdamaian antara Israel dan Palestina, dilanjutkannya pembangunan pemukiman Israel yang mematikan proses perdamaian itu – lagi-lagi – telah membuat orang sedunia menganga. Apa lagi yang baru dalam konflik tanpa ujung ini? Perundingan tidak berhasil tanpa visi, dan tidak ada visi bersama tentang perdamaian di antara orang-orang ini yang sebenarnya bisa mendorong para politisi mereka bergerak lebih maju.

Bagian terberat dari pembangunan perdamaian demi masa depan adalah membebaskan diri kita dari luka-luka masa lalu yang menciptakan perilaku brutal pada masa kini. Satu langkah yang bisa diambil mungkin adalah dengan menunda skeptisisme untuk sesaat, membebaskan pikiran untuk membangun sebuah “dunia kemungkinan” jika perdamaian tercapai. Dibekali dengan pengalaman berimajinasi ini, mungkin lebih mudah untuk merundingkan cara-cara praktis ke depan.

Mari membayangkan hal-hal berikut: pembentukan resmi sebuah negara Palestina di Tepi Barat dan Gaza dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya, sementara Yerusalem Barat menjadi ibukota Israel; sebuah pemerintahan sipil bersama untuk Lembah Suci di Kota Tua Yerusalem; para pengungsi Palestina diberi kewarganegaraan dan kompensasi di sejumlah negara termasuk Palestina sendiri; dan hubungan antara semua negara Arab dan Israel menjadi normal.

Hal pertama yang akan terjadi adalah ledakan wisata religi, yang membentang melampaui perbatasan-perbatasan hingga ke daerah-daerah yang terlarang dan eksotik, tempat-tempat yang sebelumnya hanya dilihat oleh nenek moyang. Ini bisa dinikmati semua orang Yahudi, Kristen dan Muslim, terlebih bagi keluarga Timur Tengah – yang Palestina dan Yahudi – yang tercabik-cabik oleh konflik selama beberapa dasawarsa. Dari seluruh dunia, ada banyak peziarah Muslim ke tempat-tempat suci dan paling kuno di Syria, Irak, Israel, Palestina dan banyak negara lain. Orang-orang Yahudi Arab yang berasal dari 22 negara Arab akan menjadi peziarah yang datang dari penjuru yang berlawanan. Mereka akan mengunjungi makam leluhur dan para wali mereka, mengunjungi ratusan kampung yang masih ada, bersama banyak keluarga Yahudi Israel, Prancis dan Amerika yang menemani mereka.

Puluhan perusahaan akan menyediakan rute bagi Muslim untuk bepergian dari tempat-tempat sejauh Malaysia dan Cina ke Yerusalem dan lalu ke Mekah, menapak tilas nabi mereka, dan perusahaan-perusahaan lainnya akan menekuni wisata Yahudi di seantero kawasan. Jalan tol, kereta api dan hotel akan meningkat drastis di sepanjang jalan antara Kairo, Gaza, Yerusalem, Haifa, Beirut dan Damaskus.

Pariwisata adalah industri pendulang uang yang paling demokratis, dan jutaan lapangan kerja akan diciptakan menjangkau semua komunitas agama, yang mayoritas maupun minoritas.

Bila identitas Yahudi dan Palestina berada terlindungi dengan baik, pencarian Timur Tengah kuno di bawah tanah akan tidak dipolitisasi dan mencapai tingkat kerja sama yang baru dan lebih canggih di Tanah Suci, sehingga mengakibatkan ekspansi penelitian arkeologis dan akademis, yang juga memunculkan lebih banyak lagi lapangan kerja.

Kemitraan bisnis, yang sebenarnya sudah terjalin sembunyi-sembunyi, akan muncul ke permukaan dalam semalam antara negara-negara Teluk dan orang Israel, antara perusahaan teknologi Israel dan para pemuda Timur Tengah yang ingin bekerja. Semua komunitas ini akan menemukan kembali tradisi yang lama tenggelam dari orang-orang Yahudi, Kristen dan Muslim Arab yang berdagang dan bekerja bersama di seantero Timur Tengah selama berabad-abad.

Sekadar untuk menyebut contoh pola kerja sama yang muncul, saya adalah salah seorang pendiri perusahaan sosial Palestina-Yahudi yang disebut MEJDI, Middle East Justice and Development Initiative. Kami tengah merintis wisata dan seminar akademis di Timur Tengah dan tempat lain, di mana kami membidani usaha-usaha kecil dengan reputasi upah yang layak. Keuntungan juga diinvestasikan kembali pada para narasumber seminar dan pemandu wisata yang merupakan para aktivis perubahan sosial terkemuka.

Ini adalah sebuah contoh kecil titik temu pemberdayaan usaha kecil dan perubahan sosial yang membelah garis-garis permusuhan. Tapi perhatian serius pada upah yang layak dan keadilan sosial harus dimulai dari sekarang, dan dukungan dana bagi para aktivis perubahan sosial harus diadakan sekarang sebagai sebuah teladan bagi masa depan.

Imajinasi memberikan eksplorasi akan apa yang bisa terjadi, tapi bukan jalan yang harus dilalui untuk mencapainya. Jalan itu membutuhkan langkah demi langkah pembangunan sikap saling percaya, berbagai cara untuk meyakinkan lebih banyak lagi orang-orang yang terluka ini untuk mendekati tetangga mereka dan dengan begitu mengantar para politisi mereka ke perundingan yang jujur, dan bukan permainan yang penuh lika-liku.

Dahulu sampai beberapa generasi orang Arab, Muslim, Kristen dan Yahudi membangun hubungan yang menguntungkan, bahkan selama berabad-abad. Inilah saatnya memulihkan kembali warisan mereka. Kunci menuju masa depan adalah imajinasi dengan nurani, dan semua rintangan pun akan lebih mudah dilewati.

###

* Marc Gopin adalah James Laue Professor di bidang resolusi konflik, George Mason University. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM  seizin pengarang.