illustrasi

HMINEWS.COM- Sekitar 150 orang mahasiswa berunjuk rasa di persimpangan jalan di depan pintu gerbang utama Istana Bogor di Jalan Ir Djuanda, Bogor Tengah, Kota Bogor, Rabu (20/10/2010). Sekitar dua jam mereka berorasi dan berteaterikal, yang intinya tidak puas dengan kinerja Presiden SBY-Wapres Boediono selama satu tahun ini.

Selama berunjuk rasa, sekitar 50 orang personel Polres Bogor Kota berjaga-jaga tepat di depan gerbang utama Istana Bogor. Perwira polisi yang terlihat di sana antara lain Wakil Kepala Polres Komisaris Guntur, Kepala Bagian Operasi AKP Irwansyah, Kasat Lantas AKP Zainal Abadin, dan Kasat Intel AKP Lanjar.

Para mahasiswa tersebut gabungan dari sejumlah organisasi kemahasiswaan, yang datang secara terpisah dalam tiga rombongan berbeda. Setiap rombongan itu, koordinator atau ketua aktivisnya masing-masing berorasi pada waktu yang bersamaaan, mencoba menarik perhatian masyarakat yang melintas perlahan dengan kendaraan. Akibatnya, apa yang diserukan “orator-orator” tidak jelas terdengar. Apalagi kekuatan megapon yang dipakainya terbatas.

Aksi teaterikal mereka juga tidak dapat ditonton pengguna jalan lain, karena dipertunjukan di depan barisan polisi di depan gerbang dan dikerubung sejumlah fotografer dan para mahasiswa itu sendiri.

Selama unjuk rasa tersebut, polisi cukup sigap dan cerdas dalam mengatur arus lalu lintas dan menangani aksi pengunjuk rasa yang kurang simpatik, seperti membakar ban bekas dan menghentikan sebuah mobil niaga. Sehingga tidak terjadi stagnasi arus lalu lintas di seputaran Kebun Raya Bogor.

Para mahasiswa tersebut berorasi dan berteaterikal, sambil menunggu tuntutan mereka dikabulkan, yakni perwakilan mereka masuk ke dalam Istana Bogor menemui perwakilan dari istana itu. Mereka ingin menemui pihak istana untuk memberikan lembaran pernyataan sikap mereka, dengan lembaran itu disampaikan kepada Presiden SBY.

Karena sampai pukul 13.30 tidak ada dari pihak istana yang menemui mereka, akahirnya mereka bubar. Sebab, sebagian besar mereka mengatakan akan ke Jakarta untuk unjuk rasa di Istana Negara. Orator pengunjuk rasa menyatakan kali ini mereka mengalah, namun tetap akan terus berjuang dan mengkiritisi kepemimpinan SBY.

Achmad Firman Wahyu, Ketua BEM IPB, yang juga perwakilan Aliansi BEM Seluruh Indonesia, mengatakan, 15 program unggulan SBY yang dielu-elukan sepanjang Piilpres 2009, sampai saat ini tidak maksimal pencapaiannya. SBY dan para pembantunya lebih sibuk membangun citra ketimbang bekerja untuk riil meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dua dari enam hal yang mereka tuntut kepada SBY – Budiono adalah mewujudkan ketahanan pangan serta penyelesaian tuntas kasus hukum Bank Century, kriminalitas pimpinan KPK, rekening gendut kepolisian, dan pelanggaran HAM atas para aktivis demokrasi.

Dody AH dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bogor menambahkan, mereka juga menuntut SBY menghentikan taktik pencitraannya, lalu berani dan tegas menghentikan segala bentuk kebusukan politik dan politisi yang semakin menyengsarakan rakyat.

Baik Achmad maupun Dody mengatakan tidak berniat menggulingkan SBY dari tampuk kepemimpinannya saat ini. “Kami hanya ingin mengingatkan Presiden bahwa ada kebijakannya yang salah dan tidak berpihak pada rakyat akibat dia tidak tegas dalam memimpin,” kata Dody.[]kompas/qi