HMINEWS.COM

 Breaking News

Gugatan Ditolak, RMS Kian Bersinar dan Makin Eksis

October 07
10:29 2010

RMS Terus Tunjukkan Eksistensi Diri pasca Batalnya SBY ke Belanda

HMINEWS.COM- Republik Maluku Selatan  (RMS) sebenarnya hanya gerombolan separatis yang  sudah tidak relevan. Namun, kini mereka meraih  momentum nternasional untuk  memperlihatkan eksistensi diri mereka sendiri di panggung dunia pasca batalnya kunjungan SBY ke Belanda. Mengapa?

Di masa lalu, beberapa aksi nekat simpatisan RMS membuat mereka kehilangan dukungan. Misalnya, penyanderaan 18 tenaga staf KBRI pada 1966, pendudukan Wisma Duta pada 13 Agustus 1970, dan penyanderaan di Konsulat Jenderal RI di Amsterdam tahun 1975.

Puncaknya ketika mereka menyandera penumpang kereta api di Wijster dekat Beilen, Juli 1975, yang menewaskan dua orang di antaranya; pembajakan kereta api dari Assen dan Groningen, utara Belanda, pada 1977; dan penyanderaan 110 orang, sebagian besar anak sekolah, di Bovensmilde pada tahun 1978.

Masyarakat Belanda yang semula bersimpati lalu menjauh dan acuh dengan mereka. RMS kehilangan dukungan moral maupun keuangan. RMS pun kalang kabut. Setelah sekian tahun tidak memiliki panggung guna melakukan ‘’artikulasi internasional’’, hari-hari ini para simpatisan dan anggota Republik Maluku Selatan (RMS)  mendapatkan ‘’momentum’’  untuk menggaungkan kepentingan separatisnya di  Belanda.

Dengan momentum itulah, mereka ngotot berunjuk rasa meskipun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) batal berkunjung ke Belanda. Organisasi penyelenggara demontrasi, yakni Zelfbeschikking Molukkers en Papoea, sebagaimana diberitakan ANP, menyatakan unjuk rasa itudigelar oleh orang-orang Maluku di Malieveld, Den Haag. Melalui aksi itu, mereka ingin dunia melihat bahwa di Indonesia terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Di tengah situasi itu,  pemerintah Indonesia masih menganggap kondisi politik di Belanda belum konklusif (belum bisa disimpulkan) dan benar-benar bersih dalam proses hukum. Anggapan ini masih ada meskipun pengadilan Belanda telah menolak gugatan sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan Republik Maluku Selatan terkait dengan tuduhan adanya pelanggaran hak asasi manusia di Ambon, Maluku.

Ada dua gugatan hukum yang masih belum bisa diputuskan oleh Pengadilan Belanda sampai sekarang. Yang pertama, tuntutan kepada Pemerintah Belanda untuk meminta penjelasan kepada Pemerintah RI tentang makam pencetus dan sekaligus pimpinan Republik Maluku Selatan (RMS), almarhum Dr R Soumokil.

Kedua, gugatan lainnya adalah tuntutan kepada pemerintah belanda agar dilakukannya dialog antara Pemerintah RI dan RMS tentang penentuan nasib sendiri (self determination) Maluku.

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto membenarkan informasi bahwa sejak Selasa lalu, ada proses percepatan  untuk dilaksanakannya pengadilan Belanda atas tuduhan pelanggaran  hak asasi manusia di Indonesia dan tuntutan kepada pengadilan distrik Den Haag untuk menangkap SBY sebagai pemerintah Indonesia yang dianggap telah melakukan pelanggaran HAM di Maluku dan Papua.

Di Den Haag, juru bicara kepolisian  menyebutkan aksi massa itu berusaha  menarik ribuan orang untuk datang.  Sebelumnya, para simpatisan RMS itu akan menggelar demontrasi besar-besar ketika SBY berada di Belanda pada 5 hingga 9 Oktober 2010.

Para analis politik melihat,  SBY kehilangan momentum untuk menghadirkan keperkasaan Indonsia, dan sebaliknya  RMS kini merebut momentum untuk menunjukkan kekuatannya. Ini berbeda dengan era Soeharto dulu.  Sejarah mencatat, meski disambut aksi demonstrasi oleh anggota Republik Maluku Selatan (RMS) di Den Haag pada 1970, Presiden Soeharto tetap tampil tenang dan penuh senyuman.

Dalam rekaman video dokumentasi yang didapat INILAH.COM, tampak Presiden Soeharto tiba di Istana Huis Ten Bosch dengan menumpangi helikopter. Begitu mendarat, Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto disambut Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard. Presiden tampak sangat tenang dan tak terganggu sama sekali oleh aksi demonstrasi RMS. Dari bibirnya terlembar senyuman khas.[]rima/dni

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.