Mantan Menko Ekuin Rizal Ramli

HMINEWS.COM- Pemikir ekonomi-politik dan mantan menko ekuin Rizal  Ramli menilai, demonstrasi  mahasiswa dan pemuda hari-hari ini  untuk memperingatkan setahun kegagalan kabinet SBY, harus menjadi cambuk untuk Presiden SBY dalam melakukan perombakan kabinet secara menyeluruh karena terjadi krisis kepercayaan dari  kalangan kampus dan civil society kepada SBY.

”’Nama baik SBY dan keluarga besarnya tergerus habis jika  demo-demo tersebut tidak menjadi  dorongan pagi perubahan haluan ekonomi dari neolib ke ekonomi konstitusi atau  kerakyatan, mengingat kini  kemiskinan membludak, pengangguran meluas dan tak satupun anggota kabinet yang mampu mengatasi masalah,” kata tokoh nasional yang tumbuh dari  dunia pergerakan mahasiswa ITB itu.

Rizal, mantan penasehat ekonomi TNI dan mantan pengajar pasca sarjana UI serta SESKOAD itu juga menilai, satu  tahun prestasi pemerintahan SBY-Boed,  sangat  minim,  bahkan hak-hak asasi  sebagian umat beragama mengalami pembiaran represi dan kekerasan,sedangkan capaian ekonomi amat pas-pasan. Neoliberalime membuat  rakyat makin miskin dan marginal karena harga-harga pangan, pendidikan dan kesehatan kian mahal, disesuaikan dengan harga internasional. Padahal pendapatan rakyat kita relatif kecil, kelas Melayu bukan kelas global. Ini tidak adil dan tidak bisa dibenarkan. Presiden SBY, katanya,harus melakukan reshuffle menyeluruh untuk perbaiki kinerja pemerintahan agar mewariskan legasi yang bermakna bagi bangsa ini.SBY harus sadar bahwa pembangunan ekonominya berkualitas sangat rendah.

”Legasi Bung Karno adalah proklamator,Pak Harto Bapak Pembangunan,Habibie Bapak Demokrasi dan Teknologi,Gus Dur Bapak Pluralisme. Kini banyak pertanyaan: Lalu apa legasi Pak SBY? Hal ini perlu dijawab dan direnungkan,”kata Rizal Ramli, seorang tokoh nasional, dalam dialog di Metro TV, Minggu senja (17/10/10)

‘’Namun tidak ada inisiatif  para menteri kabinet untuk mengatasi masalah pangan, pendidikan dan seterusnya. Karena itu, Pak SBY justru memerlukan reshuffle menyeluruh untuk memperbaiki  kinerja kabinet . Situasi sudah mendesak,dan para pemimpin kita bermental inlander, berkarakter lembek. Akibatnya, rakyat kehilangan  harapan pada pemerintah, namun presiden masih punya waktu dan kesempatan beberapa tahun ke depan,’’kata mantan Menko Perekonomian itu.

Rizal mengingatkan,sumber daya alam kita terus dikuasi asing, ekspor bahan mentah terus berlanjiut dan akibatnya, negara kita hanya meneruskan jalan kolonial lama. ‘’Presiden SBY di tengah sempitnya  kesempatan yang kian menyempot dan terbatas, tetap punya peluang jika mau mengubah haluan ekonomi dari neoliberalisme ke ekonomi konstitusi. Tinggakan neoliberalisme, sebab ekonomi konstitusi yang kita perjuangkan justru akan membuatnya bisa berpeluang mengatasi kemiskinan dan pengangguran,” kata Rizal .

SBY, katanya, jangan malu belajar dari Brasil era Presiden Lula. ‘’Presiden SBY sebaiknya belajar dari keberhasilan pemimpin Brasilia,Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, 64 tahun,dalam membangun pertanian dan perekonomian rakyatnya, bukan semata membangun pasar modal dan sektor nontradable yang jelas tidak menguntungkan rakyat,’’tutur PhD lulusan Boston University,AS itu

Dalam dua periode kepemimpinan (2002-2006 dan 2006-2010), Lula berhasil mengangkat derajat Brasil dari negara miskin menjadi salah satu negara terkaya dunia.

Di bawah kepemimpinan Lula, ungkap Rizal Ramli (mantan menteri perekonomian) puluhan juta rakyat Brasil lepas dari belenggu kemiskinan dan berhasil menjadi orang-orang kaya baru.

” Presiden SBY sebaiknya belajar dari Presiden Lula di Brasil. Rakyat Brasil  bebas dari kemiskinan, sebagian besar kaum taninya kini sejahtera . Prsedien Lula melakukan pembangunan pro-rakyat, pro-poor dan pro-job di sektor pertanian.  Dalam delapan tahun, Presiden Lula mampu mensejahterakan jutaan rakyat Brasil lebih banyak membicarakan presiden yang akan pergi daripada presiden yang akan datang. Hal itu karena selama delapan tahun memimpin, Lula berhasil mengubah jutaan rakyat miskin Brasil menjadi kelas menengah yang leluasa membelanjakan uang. Lula juga berjasa dalam mengubah Brasil menjadi satu pemimpin ekonomi dan diplomasi serta raksasa ekonomi Amerika Latin,” kata mantan demonstran ITB yang dipenjara Orde Baru itu.

Dalam bidang infrastruktur, menurut Rizal, kita juga tertinggal sangat jauh dibanding Cina, Malaysia dan sejumlah negara lainnya. Padahal, kita belasan tahun lebih dahulu membangun daripada negara-negara tersebut. Seperti dalam pembangunan jalan tol, Cina dan Malaysia sudah membangun ribuan kilometer jalan tol, sedangkan kita hanya 650 km, padahal kita 15 tahun lebih dahulu membangun jalan tol daripada kedua negara tersebut.

Kabinet SBY, menurut Rizal, terlalu banyak berwacana dan berkata-kata, sementara sangat minim hasilnya yang nyata.[]rima/qi