illustrasi

HMINEWS.COM- Unjuk rasa terkait setahun pemerintahan rezim Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono juga terjadi di Blitar, Jawa Timur, Rabu (20/10/2010), meskipun daerah itu dikenal punya ikatan dengan SBY dan Boediono.

Lazim diketahui, ibunda SBY lama sekali tinggal di Jl Bali, Blitar sejak bercerai dengan suaminya di Pacitan, hingga menjelang Pemilu 2004 lalu. Sedangkan Boediono memang lahir dan besar di Blitar, sebagaimana Presiden Sukarno menjalani masa kecil hingga remaja di Blitar.

Namun, jumlah pengunjuk rasa di kota kecil itu tak semassif di kota-kota lain. Ia hanya diikuti belasan mahasiswa.

“Perekonomian nasional lebih banyak dikuasai pihak asing, seperti tambang, minyak dan gas, perbankan, hingga industri jasa maupun pasar modal. Belum tampak keberhasilan pemerintah menangani negeri ini,” ujar koordinator aksi, Sujiono, di Blitar.

Ia menilai, kabinet Indonesia Bersatu ini telah gagal mengemban amanat rakyat. Terbukti, selama satu tahun kepemimpinan SBY-Boediono, belum tampak kemajuan apapun. Bahkan, mereka menilai Indonesia tampak mundur saat ini.

“Bukan kemajuan yang tampak, melainkan kemunduran. Ini sungguh ironis sekali,” ujarnya.

Kegiatan ini dilakukan di perempatan dekat Apotek Lovi, sekitar 1 Km di selatan makam Bung Karno, Kota Blitar. Mahasiswa membawa berbagai macam poster yang isinya kecaman pemerintahan SBY-Boediono.

Selain membawa berbagai macam spanduk yang isinya kecaman, mereka juga membagi-bagikan selebaran kepada para pengguna jalan di sepanjang jalur tersebut.

Dalam orasinya, mereka juga menuntut pasangan duet SBY-Boediono mundur dari jabatannya, karena dinilai lebih berpihak pada asing.

Massa juga menggalang tanda tangan lewat kain yang digelar di perempatan tersebut. Aksi itu sebagai bentuk ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintah yang dinilai cenderung berpandangan neoliberal.

Aksi itu juga sempat memacetkan arus lalu lintas antarkota. Jalur itu adalah jalur utama untuk melintas ke beberapa instansi, mengingat jalur itu hanya satu arah.

Praktis, dengan kondisi itu, arus lalu lintas menjadi terganggu. Polisi terpaksa turun, agar para pengguna jalan dapat melanjutkan perjalanan, mencegah kemacetan.

Massa akhirnya membubarkan diri setelah melakukan orasi dan pengumpulan tanda tangan. Seluruh tanda tangan itu rencananya akan dikirimkan ke pemerintah, sebagai wujud apresiasi ketidakpercayaan masyarakat akan kinerja pemerintah.[]kompas/qi