John Wattilete Presiden RMS

HMINEWS.COM- Pembatalan mendadak kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke negeri kincir angin, Belanda membuat nama Republik Maluku Selatan (RMS) kian mencuat seiring dengan keberaniannya menggugat presiden Republik Indonesia.

Tak hanya nama RMS yang mencuat, John Wattilete, Presiden RMS di pengasingan juga mendadak tenar di Indonesia. Dialah yang meminta pengadilan menangkap SBY.

Pria yang bernama lengkap Johannes Gerardus Wattilete ini lahir di negeri Belanda pada tahun 1955  orang tua yang berbeda kewarganegaraan dimana ayahnya berasal dari Maluku Selatan dan ibunya orang Belanda.

Johannes Gerardus Wattilete lulus dari Katholieke Universiteit Nijmegen (Universitas Katolik Nijmegen) pada 1983. Sehari-hari ia bekerja sebagai advokat di firma hukumnya, Wattilete Advocaten di Amsterdam.

Pada 1993 dia menjabat sebagai salah satu pengurus RMS. Posisinya di RMS makin menanjak. Sejak tahun 1995 ia menduduki pos dalam kabinet sebagai Menteri Urusan Umum RMS.

Pada tahun 1999 ia sempat pergi ke Indonesia, bahkan dua kali. Ia pergi sebagai delegasi RMS bersama pendeta Otto Matulessy.

Pada 18 Oktober, mereka bertemu dengan Presiden Habibie. Dia juga sempat bertemu dengan Presiden Abdurrahman Wahid pada 16 Desember. Pertemuan itu terkait konflik Islam dan Kristen di Maluku.

April 2003, John Watilete, menggantikan Pieter Thenu sebagai Perdana Menteri merangkap Wakil Presiden RMS. Pada April 2009, John Wattilete menggantikan Frans Tutuhatunewa yang telah berusia 85 tahun sebagai Presiden RMS.

Dalam wawancaranya dengan harian Belanda, Nederlands Dagblad, Wattilete menyatakan RMS tidak serta-merta memperjuangkan kemerdekaan Maluku Selatan. Menurutnya RMS sekarang bersedia menerima bentuk otonomi khusus seperti Aceh, tentu pernyataan ini sangat melegakan pemerintah Indonesia. []viva/ham