Ekonomi SBY-BOED yang Jomplang

HMINEWS.COM- Istilah anomali di atas berangkat dari fakta di lapangan adanya kesenjangan pertumbuhan sektor ekonomi makro & mikro yang cukup jomplang, dalam struktur pertumbuhan ekonomi yang didengungkan pemerintahan SBY-Beodiono. Dimana para usaha kecil menengah seperti berada di antara dua sisi, mau maju tidak bisa. Mau mundur, So pasti! Alias bangkrut!! Ingin usaha berkembang & menguntung tapi di sisi lain ketersediaan akses guna mengembangkan usaha akhirnya mengakibatkan usaha ‘kolaps’ dan berhenti. Akhirnya yang terjadi jutaan orang menganggur, padahal terbukti sector UMKM menjadi pelopor menciptakan lapangan kerja luas & tahan krisis financial global yang sempat menghantam 1998 & 2008.

Salah satu persolakan ‘klasik’ yang dihadapi dunia usaha khususnya kelas menengah ke bawah adalah tersumbatnya akses modal dalam rangka mengembangkan usaha. Visi pemerintahan SBY Boediono yang telah dikampanyekan dalam 2 kali pelaksanaan pemilu silam, masih menyisakan pertanyaan tentang sejauh mana keberpihakan sector keuangan / pembiayaan dalam menggelontorkan kreditnya untuk menggenjot sector riil.

Harap maklum, sebenarnya angka-angka statistic tentang kemajuan ekonomi yang selalu disampaikan pemerintah adalah sector sector ekonomi yang ‘melangit’ jauh dari persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. Angka angka tersebut adalah kemajuan kemajuan sector keuangan alias pasar modal yang didalamnya penuh dengan ‘spekulasi’ serta pemain dari masyarakat kelas menengah ke atas.

Sedangkan golongan masyarakat bawah, seperti sector pertanian, peternakan, perikanan serta industry rumah tangga (home manufacture) ‘menjerit’ bahkan banyak yang sudah gulung tikar akibat keterbatasan akses permodalan.

Kalangan bankir pun seperti ‘tutup mata’ tentang perlunya dukungan perbankan terhadap sector riil masyarakat ini agar kesejahteraan masyarakat pada umumnya bisa naik. Bagi kalangan perbankan, untuk mengajukan kredit/mendapatkan fasilitas pembiayaan tidak ada yg gratis, bung! Semua harus ada syarat & syarat it hampir pasti tidak dimiliki para petani, peternak, nelayan yang rata-rata tidak memiliki agunan/jaminan serta asset yang layak dijadikan agunan.

Kalangan perbankan lebih asyik memberikan akses modal khusus untuk perusahaan perusahaan besar, perusahaan perusahaan pertambangan, energy, migas dst – yang perusahaan di atas disamping memiliki akses modal/jaminan yang kuat, juga didukung ‘link/network’ politik karena rata rata pengusaha saat ini juga menjadi penguasa!! Lihat saja background anggota DPR RI periode 2009-2014 saat ini, sebagaimana pernah penulis baca diskusi di Tempo TV banyak anggota DPR RI saat ini berlatang berlakang pengusaha. Apalagi aturan agar tidak terjadi ‘benturan kepentingan’ juga belum jelas agar kekuasaan, bisnis bisa berada pada jalur yg beda! Sehingga Good Governance & Good Corporate Governance benar benar dijalankan dengan benar.

Memang, sudah ada KUR alias Kredit Usaha Rakyat! Ini program yang pada ulang tahun Partai Demokrat penulis temui di baliho jalan-jalan bahwa KUR telah disalurkan sebesar 9,5 Triliun! Angka 9,5 Triliun dibandingkan dengan dana ‘nganggur di Bank-Bank yang mencapai 512 Trilun, tentu sangat memprihatinkan!!! Keberpihakan para bankir pada ekonomi mikro masyarakat UMKM perlu ditegaskan & diberikan sebuah punishment jika lebih ‘asyik’ menyimpan rapat-rapat uang di instrumen-instrumen ‘semu’ seperti Pasar Modal, SBI, SUN, Obligasi dst.

Ingat! Krisis Amerika 2008 telah memberikan pelajaran betapa institusi keuangan ‘hantu’ ini – (karena tidak jelas wujud barang transaksinya hanya angka-angka) telah menenggelamkan Amerika Serikat sebagai pusat ekonomi dunia. Dan saat ini digoyahkan oleh China yang pertumbuhan ekonomi didasarkan pada peningkatan produktifitas barang-barang, pabrik, jasa yang di ekspor ke berbagai belahan dunia.

Sepertinya langkah nyata yang dilakukan Muhammad Yunus di Bangladesh yang mendirikan Bank untuk memberikan kredit tanpa agunan bagi sector ekonomi rumah tangga bakal menjadi ‘pepesan kosong’ karena paradigm atau sudut pandang penguasa, perbankan yang tutup mata terhadap ekonomi riil. Mereka lebih senang melihat angka angka statistic makro, angka angka di pasar modal, valuta asing yang kesemua it sebenarnya ‘perdagangan semu’ yang dimainkan oleh spekulan spekulan yang hanya cari untung!!

Saatnya ‘saudagar, entrepeneur muda, pengusaha UMKM, pedagang ikan, pecel lele, peternak ayam/ikan, pengusaha rumah makan diberikan porsi terbesar Perbankan Nasional untuk menyalurkan kreditnya mulai 2010!! Amien

Rony Setyawan