Anti Rokok jangan cuman ke Perokok

HMINEWS.COM- Hari sabtu dan ahad kemarin untuk pertama kalinya saya mengunjungi kota Jember dan Bondowoso, dua kota di blok timur provinsi jawa timur. Perjalanan yang biasa karena tujuan utamanya sebenarnya hanya sekedar untuk bersilaturahim dengan sanak saudara baru yang tinggal disana. Namun tak urung, ada satu hal yang menarik dan membuat saya merasa harus menuliskannya disini.

Dari kegiatan silaturahim tersebut, kami sempat pergi ke salah satu kerabat yang kebetulan berprofesi sebagai petani. Sudah menjadi hal yang umum di daerah tersebut bahwa komoditas pertanian yang utama bukanlah padi, jagung, kedelai atau tanaman pakan lain sebagaimana pertanian di daerah umumnya. Komoditas utama di daerah saudara saya tersebut adalah tembakau.

Ya, betul,  tembakau yang biasa digunakan untuk rokok itu (emang ada yang gak dibuat rokok??)

Saudara saya ini mengeluh karena sudah beberapa hari ini tak ada panas menerpa daerah itu. Mendung dan hujan senantiasa menyertai hari-harinya. Bagi petani padi dan kebanyakan petani lain, tentu hujan adalah berkah yang patut disyukuri. Namun lain cerita bagi petani tembakau. Seperti yang kita tahu, tembakau tidak bisa menghasilkan kualitas terbaiknya jika terkena hujan. Tak hanya itu, tembakau yang sudah dipanen pun jadi rusak gara-gara tak bisa djemur.

Tembakau kering yang biasanya bisa dihargai 24.000-28.000 per kilonya langsung drop jadi hanya 4.000 hingga 5.000 perak per kilonya. Semua gara-gara hujan dan hujan yang membuat proses pengeringan tembakau berjalan tak sempurna. “Kalau begini jadinya rugi”, kata saudara saya ini.

ya jelas saja, bagaimana tidak rugi, proses mulai panen, perajangan, dan pengeringan semuanya perlu ongkos, terutama ongkos buruh yang membantunya. Sedangkan disisi lain harga jual 4.000 hingga 5.000 perak perkilo tersebut tentu sangat tak cukup untuk menutup ongkos produksi.

Dan hal ini tentulah tak hanya menimpa saudara saya ini saja. Sepanjang perjalanan dari Jember ke Bondowoso, saya lihat kebun-kebun tembakau yang bertebaran. Di sisi jalan pun banyak pula warga yang menjemur tembakaunya. Mengutip lirik lagu anak-anak, tentulah bunyinya, “kiri… kanan… kulihat saja… banyak… kebun tembakau…. “.

Meski oleh pemerintah setempat sudah disarankan untuk tidak menanam tembakau, mengingat ramalan cuaca untuk Indonesia kedepan katanya diprediksi masih banyak hujannya, namun tetap saja para pemilik lahan menanami kebunnya dengan tembakau. Maklum, musim tahun ini sedang tak menentu sebagaimana tahun-tahun dahulu. Sepanjang tahun ini seolah adalah musim hujan, seolah tak ada jeda satu bulan pun yang tak ada hujan.Dan kejadian ini tak hanya terjadi di Jember dan Bondowoso saja, para petani tembakau di madura, di jawa tengah, dan daerah lain, saya yakin juga mengalami nasib yang sama karena hujan ini.

Tapi bagaimanapun juga meski jika rugi bisa memang sangat rugi, tapi agaknya komoditas tembakau masih menjadi satu komoditas yang sangat diharapkan mampu mendongkrak ekonomi warga sekitar. Bagaimana tak menggiurkan, satu kilo tembakau kering bisa berharga 28 ribu di perusahaan rokok. Itu artinya, jika punya satu kuintal tembakau kering, maka 2,8 juta sudah pasti akan didapat.

Di satu sisi sebenarnya saya bersyukur bahwa hujan pembawa berkah ini berarti berkurangnya produksi rokok di Indonesia. Di sisi lain saya pun sebenarnya kasihan dengan para petani tembakau ini yang merugi gara-gara hujan. Semoga saja mereka ini tak sampai mencaci hujan, apalagi mencaci Tuhan yang menurunkan berkah hujan bagi mereka.

Namun tak urung, akhirnya saya sebagai orang yang ANTI ROKOK pun akhirnya mau tak mau berpikir, bahwa agaknya selama ini ada yang kurang dari apa yang dilakukan penggiat kampanye anti rokok, baik dari pemerintah maupun dari organisasi lain.

Selama ini kegiatan kampanye anti rokok cenderung berpusat pada end user, alias para perokok itu sendiri. Seandainya (ini hanya seandainya) tak ada lagi orang yang merokok di negeri ini satu pun,  kira-kira pernahkah terpikir bagaimana kiranya nasib berpuluh ribu manusia yang selama ini menggantungkan hidupnya dari industri hisap menghisap asap ini? bagaimana kira-kira dengan nasib buruh-buruh pabrik rokok, dan tentu yang utama dengan nasib ribuan  petani tembakau ini.

Apakah Anda sudah merasa kasihan? Ya, dalam hati saya pun sebenarnya juga kasihan. Namun jika kita mau jeli, justru ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan penggiat kampanye Anti rokok.

Sebagaimana yang kita sama-sama tahu, motivasi terbesar para petani menanam tembakau adalah karena faktor ekonomi. Ya, tentu saja harga tembakau kering berkualitas memang sangat menggiurkan petani manapun. Jika proses penanaman sampai siap jual berjalan lancar, bayangan puluhan juta rupiah per hektar sudah ada di depan mata.

Disini para aktivis anti rokok, tak cukup hanya berkampanye di sisi end user para perokok untuk berhenti merokok karena ini itu, dll. Sudah saatnya mereka pun ikut terjun ke industri hulu rokok yakni sisi pertanian tembakau ini dengan memikirkan bagaimana cara agar para petani tembakau ini tak lagi bertani tembakau. Entah dengan mencarikan alternatif komoditas tanam yang lebih menjanjikan dari tembakau, baik dari segi harga jual, masa panen, maupun pemeliharaan, atau dengan kampanye penyadaran para petani tembakau ini. Banyak cara, dan ini wajib dilakukan kepada para petani tembakau agar kampanye anti rokok bisa berhasil.

Ketika petani tak lagi menanam tembakau, maka tentu produksi tembakau akan menurun. Artinya pula pasokan bahan baku utama rokok ke pabrik rokok akan berkurang, berakibat pada berkurangnya jumlah produksi rokok. Jika mengikuti prinsip ekonomi sederhana,  ketika penawaran berkurang dan permintaan tetap, maka harga akan naik. Para perokok pun akan berpikir ulang, atau setidaknya semakin berhemat untuk memenuhi kebutuhan hisap menghisap asap beracun ini.

Tentu akan banyak sekali hambatan yang akan diterima aktivis anti rokok ketika mereka menggarap industri hulu ini. Boleh jadi bermacam konspirasi akan dilancarkan produsen rokok untuk menghentikan niat aktivis ini mengurangi jumlah petani tembakau. Namun jika tak dilaksanakan, kampanye anti rokok hanya jalan ditempat di sisi end-user, bahkan bisa-bisa justru mendapat perlawanan dari para penanam tembakau ini. Jika jumlah perokok berkurang, tentulah pendapatan mereka dari bertanam tembakau akan ikut berkurang pula, Petani waras mana yang mau hasil panennya tak laku?? .

Dengan cara seperti ini tentulah menjadi sebuah sinergi yang lebh efektif, untuk lambat laun, mengurangi dampak tembakau ini secara nasional. Sudah saatnya penggiat kampanye anti rokok ikut memikirkan nasib para petani tembakau, bukan dengan cara membiarkannya, namun juga dengan memberikan solusi alternatif terbaik agar kontributor asap penyakit ini  pun mau dan tak lagi menanam tembakau.Sudah saatnya untuk tak sekedar pasif dan reaktif terhadap rokok, namun juga aktif ofensif memerangi rokok secara total.

Semoga dengan begini, kelak akan kita temukan puisi Taufiq Ismail “Tuhan Sembilan Senti” dalam buku sejarah ekonomi republik ini. Stigma Indonesia sebagai negeri produsen rokok pun akan selesai.Semoga tak ada lagi nyanyian “kiri… kanan… kulihat saja…. banyak… kebun tembakau….. ”

Natsir Alexander