Emha Ainun Nadjib

Oleh : Emha Ainun Nadjib

HMINEWS.COM- Kalau Anda orang Islam alangkah indahnya kalau serajin dan sedalam mungkin Anda menggali nilai-nilai Islam untuk Anda kontribusikan kepada seluruh bangsa kita, agar proses-proses demokrasi, keadilan dan penyejahteraan yang kita lakukan bareng-bareng ini semakin efektif.

Di kulit luar Al-Qur’an bagian belakang, biasanya ditulis firman Allah La yamassuhu illal muthahharun. Biasanya ustadz-ustadz kita mengartikan bahwa kalau kita sedang dalam keadaan batal dan belum berwudlu, maka dilarang menyentuh Al-Qur’an. La itu tidak atau jangan. Yamassu itu menyentuh. Hu itu kata ganti untuk Al-Qur’an. Illa itu kecuali. Muthahharun itu orang-orang yang dalam keadaan suci.

Sekali lagi, sebelum pegang Qur’an, kita berwudlu dulu, supaya muthahhar. Itu tidak salah, dan bagus untuk pendidikan dasar etika vertikal keislaman. Tapi sebaiknya tidak tertutup bagi pengembangan interprestasi. Misalnya, kita ambil dua hal. Yang pertama, yang disebut Qur’an dalam tafsir dasar di atas sebenarnya adalah mushaf. Terdiri dari kertas dan goresan tinta.

Itu yang jangan dipegang kalau dalam keadaan batal. Pastilah Qur’an bukan kertas dan tinta. Qur’an adalah suatu rumusan dan tuturan firman, yang bersifat rohaniah (intelektualitas itu rohaniah), yang diantarkan oleh bahasa atau peralatan budaya manusia melalui kertas dan tinta.

Dulu malaikat Jibril tidak datang dari langit kepada Muhammad SAW. membawa berkas buku, melainkan membawa titipan ucapan Tuhan. Ketika dikatakan ‘Bacalah !’, bukan berarti Jibril menyodorkan kertas yang ada tulisannya dan Muhammad disuruh membaca. ‘Membaca’ di situ memiliki pengertian yang sangat-sangat luas. Intinya: membaca kehidupan. Utsman ibn Affan yang kemudian mempelopori pe-mushaf-an rohani Qur’an itu.

Jadi mushaf adalah suatu sarana budaya atau fasilitas teknologi yang mengantarkan Qur’an kepada manusia. Maka, la yamassuhu, tidak (bisa, boleh) menyentuh, sasarannya bukan terutama mushaf, melainkan substansi Qur’an itu sendiri.

Oleh karena itu pengembangan interpretasi atas ayat Allah yang menghiasi kulit belakang mushaf itu, bisa begini: Kalau jiwamu tidak berada dalam keadaan muthahhar, enlighted, tersucikan, maka engkau tidak berada di dalam koridor hidayah dan fungsi Qur’an bagi kehidupanmu.

Katakanlah ada beberapa fungsi Qur’an, umpamanya: ia bukan hanya informasi, tapi juga informasi yang pasti benar. Ia bukan sekedar pemberitahuan, tetapi petunjuk. Ia bukan sekedar berita, tapi kabar gembira. Ia bukan hanya penuturan ilmu, tapi juga rahmat. Ia bukan hanya perintah, tapi rahasia ilmu. Ia bukan hanya ketegasan kebenaran, tapi juga cinta dan kedamaian yang matang. Ia bukan hanya selebaran tentang iblis dan setan, tapi juga rangsangan eksplorasi fisika, biologi, astronomi. Serta banyak lagi.

Manusia yang pikirannya skeptis terhadap Qur’an, yang hatinya blocked-out dari firman pamungkas Allah itu, yang sikap hidupnya mempergelap dirinya sendiri, logis kalau tidak memperoleh sentuhan apapun dari multi-probabilitas rahmat Allah melalui Qur’an. La yamassuhu illal muthahharun. Tidak memperoleh apa-apa darinya kalau menolak enlightment. Dan kalau memang kita memilih yang ini, tak ada masalah bagi Tuhan, Muhammad atau siapa pun saja. Allah tidak menangis, Muhammad tidak merugi, Islam tidak merasa kurang suatu apa. Sebab Islam tidak akan mendapatkan risiko apa-apa, ia bukan manusia yang harus bertanggung jawab kepada sumbernya.

Emha Ainun Nadjib.

(Sumber: ” Kitab Ketentraman Emha Ainun Nadjib ” ]