foto : Illustrasi

Mehnaz M. Afridi
HMINEWS.COM, Los Angeles-
Muslim Amerika, dengan menggandeng masyarakat Yahudi dan Kristen, tengah mengadakan pekan nasional dialog terbuka antariman, yang dimulai pertengahan Oktober. Ada kebutuhan nyata bagi komunitas Muslim dan non-Muslim di Amerika untuk lebih saling mengerti dan berinteraksi, mengingat berbagai perdebatan tentang Islam akhir-akhir ini dan meningkatnya sentimen anti-Muslim di seantero Amerika Serikat.

Demi menjawab pertanyaan “Mengapa Muslim Amerika tidak berusaha untuk lebih gaul?” Muslim Amerika mengundang penganut semua agama untuk mengunjungi masjid selama pekan ini, dan pada saat yang sama mendorong Muslim untuk mendatangi tempat-tempat ibadah non-Muslim.

Upaya pendekatan ini menampilkan berbagai program dan diskusi, seperti yang diadakan di Pusat Kegiatan Islam California Selatan pada 17 Oktober, yang dijadikan sebagai Hari Masjid Terbuka. Di sana para pembicara menanggapi isu-isu hangat dan membedah landasan-landasan historis dan moral bagi dibangunnya hubungan antara Muslim dan non-Muslim secara positif. Diskusi ini membahas pertanyaan: “Bagaimana seharusnya Muslim berinteraksi dengan non-Muslim pada zaman yang dipenuhi permusuhan dan konflik ini, dengan tetap berpedoman pada Islam?” Selain itu, sebuah pusat kegiatan Islam yang tak jauh di Irvine juga ‘membuka pintu’ pada Hari Masjid Terbuka untuk mengajak semua orang Amerika lebih tahu tentang Islam, dan menyatakan bahwa dengan melakukan itu, mereka: “Mengakui kemanusiaan kita bersama. Merayakan keragaman kita. Dan menghargai satu sama lain.”

Selama beberapa tahun, Muslim telah berintegrasi ke dalam lanskap kehidupan Amerika, dan meningkatnya sentimen anti-Muslim adalah fenomena yang relatif baru. Retorika anti-Muslim telah mengejutkan banyak orang karena menampakkan ketidaktahuan orang Amerika tentang Islam. Memang, sistem pendidikan umum Amerika tidak cukup memberikan tinjauan yang komprehensif terhadap ajaran-ajaran ataupun sejarah Islam, sehingga memunculkan ketakutan pada Muslim dan Islam di kalangan banyak warga Amerika, khususnya setelah 11 September.

Debat publik mengenai agama dan pendidikan tetap jarang padahal penting, karena warga Amerika Serikat semakin beragam agamanya. Baru-baru ini misalnya, Dewan Pendidikan Negara Bagian Texas mengeluarkan keputusan yang mencoba membatasi pembahasan tentang Islam dalam buku-buku ajar di sekolah umum Texas, dan sebagian anggota dewan ini memperingatkan apa yang mereka sebut “menyusupnya pengaruh Timur Tengah” dalam industri penerbitan Amerika.

Pekan upaya pendekatan Muslim bisa mengawali perubahan pandangan negatif tentang Muslim yang tampaknya dibentuk oleh penggambaran media sejak akhir 1970-an tentang Khomeini, pada 1980-an tentang Qaddafi, pada 1990-an tentang Saddam Hussein dan, sejak 2001, tentang Osama Bin Laden.

Sedangkan kontribusi positif dan prestasi kaum Muslim diabaikan atau tetap tak dikenal. Muslim Amerika telah meraih sukses di bidang usaha, pendidikan dan bahkan politik di Amerika. Misalnya, seorang mahasiswa Muslim Amerika, Ali Hussain, mendapat gelar Harry S. Truman Scholar di Cornell University dan tengah membangun karir dalam hubungan internasional dengan fokus pada Pakistan dan Afghanistan. Dan baru-baru ini seorang mahasiwa Muslim Amerika, Ayesha Siddiqui, menjadi Muslim pertama yang menyampaikan pidato perpisahan di College of Technology, City University, New York.

Di Los Angeles, Ferial Masry, perempuan Amerika kelahiran Arab Saudi, mencalonkan diri menjadi anggota Majelis Negara Bagian California dari Distrik ke-37 dari Partai Demokrat. Ia sebelumnya adalah pemilik usaha kecil, penulis otobiografi, dosen dan kini guru sekolah umum. Keith Ellison, Perwakilan Distrik ke-5 Minnesota, adalah contoh lain figur Muslim Amerika, seperti halnya André D. Carson, Perwakilan Distrik ke-7 Indiana.

Komitmen mereka pada nilai-nilai Amerika dan Islam memperlihatkan bahwa Muslim Amerika telah berintegrasi dengan baik.

Tentu, sebagai Muslim Amerika kita harus mau menerima bahwa sebagian citra negatif Islam yang dirasakan oleh non-Muslim didasarkan pada apa yang muncul dalam berita-berita dari kejadian nyata. Tapi kampanye-kampanye seperti pekan dialog ini semestinya memperlihatkan pada non-Muslim bahwa 1,2 miliar Muslim di dunia cukup beragam dalam hal budaya dan pendidikan.

Perdebatan seputar pusat kegiatan Islam Park51 di New York City menantang semua Muslim Amerika. Kita sakit hati oleh Islamofobia yang menjalar ke percakapan sehari-hari, dan merasa sedih ketika media menayangkan suasana protes-protes anti-Islam dan anti-Muslim. Namun, kita berjuang sebagai orang Amerika, menuntut hak konstitusional kita dan menjelaskan pada dunia bahwa orang tak perlu takut pada Muslim. Seorang Muslim bisa menjadi teman, tetangga, teman berenang atau bahkan teman dalam berdoa.

Dengan menggandeng orang-orang Amerika lainnya – termasuk yang Yahudi dan Kristen – pekan upaya pendekatan Muslim Amerika ini bisa menjadi awal dialog yang sesungguhnya di mana kita membincangkan tujuan-tujuan bersama: keragaman, kemanusiaan, dan sikap saling menghargai.

###

* Dr. Mehnaz M. Afridi adalah pengajar Yudaisme, Islam dan Kajian Genosida di Antioch University. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground dan HMINEWS.COM.