Membalas Kebaikan dengan Toleransi

Joseph Mayton
Kairo – Idaho terkenal dengan pandangan-pandangan yang ultra-konservatif. Jadi ketika ayah saya, yang seorang guru besar psikologi di Lewis-Clark State College, bicara tentang bagaimana hampir seluruh mahasiswanya – kecuali seorang – berpendapat bahwa pusat kegiatan Islam yang dibangun di New York bukanlah sebuah ancaman bagi masyarakat Amerika, saya terhenyak.

Apa yang ayah saya lakukan sederhana saja. Ia menunjukkan mahasiswa-mahasiswanya klip-klip berita dari berbagai sumber – termasuk FOX News, The Daily Show-nya Jon Stewart, CNN dan yang lain – yang menanggapi pusat kegiatan ini. Sebelum menunjukkan video-video itu kepada mahasiswa, ia menanyakan apa yang mereka tahu tentang kontroversi tersebut. Hanya segelintir mahasiswa yang mengatakan mereka tahu tentang kontroversi itu, dan yang mereka tahu itu pun terbatas dan miskin informasi. Mereka mengulang pandangan-pandangan yang mereka pernah lihat atau dengar di program bincang-bincang di radio, dari para narasumber dan politisi di FOX News, atau melalui obrolan sehari-hari.

Setelah menyaksikan rekaman-rekaman berita itu, kemudian kelas mendiskusikan masalahnya. Mereka kemudian mengatakan kepada ayah saya bahwa “pusat kegiatan ini punya hak untuk ada di sana.” Para mahasiswa menambahkan bahwa “tidak masalah” bila orang Muslim Amerika punya tempat berkumpul mereka sendiri.

Apa yang mengubah pikiran mereka adalah kombinasi informasi dan dialog. Melalui rekaman-rekaman berita itu, mahasiswa – yang sebelumnya tidak melihat banyak liputan media tentang pusat kegiatan itu – bisa mendapatkan pemahaman yang lebih saksama tentang pandangan-pandang yang ada dalam perdebatan. Melalui diskusi, mereka kemudian diminta untuk mengemukakan argumen berdasarkan rekaman-rekaman itu.

Yang lebih menginspirasi adalah bahwa banyak di antara mahasiswa itu yang kemudian mengatakan kepada ayah saya bahwa mereka telah memulai dialog dengan teman-teman mereka dan, setelah mereka menjelaskan situasinya, teman-teman mereka juga mengubah sikap mereka terhadap pusat kegiatan Islam itu. Mereka membalas kebaikan dengan berbuat baik ke orang lain melalui pendidikan, mendorong berpikir kritis dan toleransi budaya.

Kenyataan yang diungkap mahasiswa ayah saya adalah sebuah paradigma yang memengaruhi kita secara global. In Idaho, konservatisme bisa berbelas kasih, toleran dan berguna, tapi tanpa benar-benar mengerti masalahnya secara langsung, para mahasiswa ini akan terus seperti katak dalam tempurung yang tak memahami yang sebenarnya terjadi. Untungnya, ada orang-orang di luar sana, para profesor di seantero Amerika, yang mencoba mendorong mahasiswa untuk berpikir sendiri.

Dibangkitkannya kefanatikan itu menakutkan, tapi yang lebih menakutkan adalah bila cara berpikir tidak kritis melanda anak-anak muda Amerika. Namun, melalui pendidikan yang tepat, ini bisa berubah.

Dari pengamatan saya di Kairo, “bencana” Park51 telah mengejutkan banyak orang, dan berakibat pada berlanjutnya kekecewaan dan langgengnya stereotipe bahwa orang Amerika rasis dan membenci Muslim.

Orang Mesir dan orang Arab lainnya telah menyaksikan klip-klip berita FOX News yang mencoba mengaitkan Park51 dan mereka yang mendukungnya, dengan terorisme dan ekstremisme. Ini tak banyak membantu menciptakan masyarakat global yang toleran.

Saya mengangkat perkuliahan ayah saya karena kerja-kerja yang demikian bisa dibawa ke tempat-tempat lain di Amerika Serikat, dan juga ke Timur Tengah.

Di Mesir, masalah perpecahan agama tidak saja telah berbuntut pada kesalahpahaman, tapi juga kekerasan – yang diperlihatkan oleh benturan yang terjadi antara Muslim dan Kristen di Kairo pada 2008 ketika komunitas Kristen setempat ingin mengubah sebuah gudang terlantar menjadi tempat ibadah.

Masalahnya, saya kira, adalah pendidikan. Sekolah-sekolah Mesir sering terkotak-kotakkan antara sekolah Muslim dan sekolah Kristen, yang masing-masing mengajarkan pendidikan “agama” sendiri menurut keyakinan mereka sendiri dan tidak memperkenalkan keyakinan orang lain.

Ini tidak membantu menghapus stereotipe dan mengurangi ketidakpercayaan terhadap orang lain. Masyarakat Mesir tidak bisa melangkah maju dalam hal dialog dan toleransi agama, salah satunya karena orang Mesir tidak benar-benar memahami orang lain. Ini persis sama dengan apa yang terjadi di New York dan tempat lain di Amerika di mana masjid-masjid ditentang oleh komunitas non-Muslim setempat.

Sistem pendidikan di kedua negara memungkinkan para siswa untuk melihat hanya satu perspektif, dan tidak memberikan pengenalan dan pemahaman tentang “orang lain” yang ada dalam masyarakat. Pengajaran ayah saya menunjukkan kepada kita bahwa melalui pendidikan yang tepat yang membuat para siswa melihat banyak sisi dari sebuah masalah, anak muda bisa menyikapi dunia dengan cara yang toleran dan adil.

Anak muda kita sekarang pintar-pintar, berpikiran terbuka dan mau belajar, tapi kita butuh lebih banyak guru yang memanfaatkan waktu untuk menguak potensi mereka. Kalau tidak, kita, sebagai masyarakat global, akan terus melihat lebih banyak kontroversi Park51 muncul.

* Joseph Mayton adalah pemimpin redaksi kantor berita Bikya Masr (www.bikyamasr.com). Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM