Duta Muda Arab Amerika Temukan Kesamaan

Natasha Nassar
HMINEWS.COM, Groton, Massachusetts – Saya anak Arab-Amerika berumur 16 tahun. Orangtua saya dari Lebanon dan Palestina. Keduanya tinggal di Timur Tengah sementara saya sekolah di Amerika Serikat. Meski saya selalu tahu identitas saya, saya merasa aneh karena di Timur Tengah saya dianggap orang Amerika, sementara di Amerika Serikat saya dianggap orang Arab.

Terkadang saya merasa telah kehilangan kedua tanah air itu, meski di hati dan jiwa saya, saya merasa masih milik keduanya. Untungnya, kombinasi budaya dan tradisi Amerika dan Arab telah memberi saya peluang untuk menjadi seorang “duta besar” bagi kedua tempat itu.

Berbekal semangat “duta besar” ini, musim panas ini saya menghabiskan waktu sepekan di Yordania bersama Habitat for Humanity, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk membangun rumah sederhana. layak dan terjangkau yang bermitra dengan orang-orang yang membutuhkan. Saya membantu membangun sebuah rumah bagi sebuah keluarga Yordania yang rumah mereka hanya terdiri atas satu kamar yang, herannya, lebih kecil dari ukuran kamar saya di asrama sekolah. Satu kamar ini menjadi ruang tamu, ruang makan, dapur sekaligus kamar mandi – semua jadi satu.

Saat saya bekerja di tengah terik panas di Yordania utara, membangun dinding dan memasang jendela, saya belajar beberapa hal tentang diri saya, tentang orang lain dan tentang mudahnya menemukan kesamaan di antara orang-orang dari budaya yang berbeda.

Saya banyak berbincang dengan keluarga Yordania ini, teman-teman dan anak-anak mereka tentang mengapa saya mau bekerja untuk Habitat for Humanity. Perbincangan-perbincangan ini berkembang menjadi perbincangan yang membahas kesamaan jalan, budaya dan tanah air kita. Lega rasanya mendengar tentang apa kesamaan budaya Arab dan Amerika, alih-alih mendengar perbedaan mereka.

Setiap orang yang saya temui sangatlah ramah dan murah hati. Mereka mengundang saya ke rumah mereka dan mereka membuatkan saya masakan. Mereka bicara tentang hal-hal yang biasanya juga dibicarakan keluarga di seluruh dunia: anak-anak, sekolah, naiknya inflasi, pengangguran, perdamaian dan, yang paling penting, harapan akan masa depan.

Saya berjumpa Huda, anak muda berusia 19 tahun yang mengunjungi keluarganya pada musim panas. Ia, seperti saya dan banyak teman kami, meninggalkan kampung halaman di Yordania utara untuk menempuh pendidikan. Kami berbagi pengalaman tinggal jauh dari rumah dan tanggung jawab yang muncul sebagai akibatnya.

Huda adalah satu-satunya orang di keluarganya yang tinggal di luar kampung halaman. Mengingat kesibukan akademisnya ia tak bisa sering menyambangi keluarganya. Untuk mengatasi tak adanya kerabat yang di dekatnya, ia menjalin keakraban dengan banyak teman dan para gurunya yang bertindak selaku orang-orang pendukungnya. Pengalaman saya tak berbeda. Saya sangat bergantung pada guru dan teman saya di sekolah untuk menjadi pendukung saya. Bagi saya, Huda adalah “teman Yordania yang senasib”.

Sama seperti saya bangga dengan identitas saya, setiap orang yang saya jumpai juga bangga menjadi orang Yordania. Foto Raja Abdullah terpampang di banyak tempat di desa dan orang-orang setempat berseri-seri saat bercerita tentang Ratu Rania. Mereka bertanya banyak tentang keluarga presiden di Gedung Putih, yang punya banyak kesamaan dengan keluarga muda istana di Yordania.

Pelajaran paling berharga yang saya pelajari adalah bahwa menemukan kesamaan di antara budaya yang berbeda tidak perlu lebih dulu meraih sejumlah gelar akademis, atau segudang prasyarat lain. Yang paling penting adalah mempunyai hati yang mau terbuka kepada orang lain. Hati yang terbuka bisa muncul akibat menikmati beberapa hal yang sangat sederhana: keluarga, makanan, musik, seni dan anak-anak.

Saya kembali ke Amerika Serikat dengan antusiasme untuk mengajak orang lain terlibat menjembatani jarak di antara budaya. Saya bergabung dengan klub keragaman di sekolah saya untuk mendorong hal ini. Saya berencana mengunjungi Nablus di Palestina musim panas tahun depan untuk mengetahui bagaimana saya bisa semakin membangun kesamaan dengan orang-orang di sana. Meski saya tentu adalah juga bagian dari Timur Tengah dan ingin melihat lebih banyak interaksi antara orang Arab dan Amerika, saya mendorong semua anak muda untuk meluangkan lebih banyak waktu kembali ke masyarakat di mana pun di dalam atau luar negeri. Pikiran anak muda bisa berbuat banyak untuk membuat perbedaan, khususnya yang berfokus pada hal-hal sederhana.

* Natasha Nassar adalah siswi sekolah menengah di Groton, Massachusetts. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM