illustrasi

Susan Douglass
Washington, DC –
Minggu lalu [akhir September—red.], Dewan Pendidikan Texas mengambil sebuah keputusan lewat voting, dengan hasil 7 suara berbanding 6 suara, yang menuduh “penerbit buku ajar lebih menyukai Islam dibanding Kristen dan meminta mereka menghentikannya.” Meskipun keputusan ini tidak mengikat pada anggota dewan mendatang atau penerbit-penerbit buku ajar, keputusan tersebut berupaya membuat preseden dan menggambarkan diterimanya sangkaan yang, meski tak terbukti, bisa saja muncul di negara-negara bagian yang lain. Keputusan ini sebetulnya tidak ada sangkut-pautnya dengan buku ajar yang kini digunakan di Texas.

Dugaan bahwa buku-buku ajar lebih memfavoritkan Islam ketimbang Kristen tidaklah berdasar, dan Dewan Pendidikan Texas telah keliru.

Jika melihat buku-buku ajar di AS umumnya, tuduhan itu terbukti tidak benar, dan mendistorsi peran pengajaran tentang agama di sekolah-sekolah umum AS. Standar konten pelajaran ilmu sosial menuntut diajarkannya keyakinan, praktik dan sejarah agama-agama besar dunia dalam batas-batas pedoman konstitusi soal pembelajaran agama. Sehingga, buku-buku ajar diteliti saksama sebelum digunakan di setiap negara bagian.

Keputusan itu didasarkan pada uraian-uraian tentang Islam dan Kristen di buku-buku ajar. Bagaimana dengan agama-agama lain? Sebagai seorang peninjau buku selama dua puluh tahun, saya tegaskan bahwa sebagian besar buku ajar cukup mirip sehingga bisa digeneralisasikan dalam hal pembahasan agama-agama. Sebuah indeks buku ajar sejarah dunia boleh jadi memuat lebih banyak entri tentang Islam daripada Kristen, tapi dengan adanya kata-kata kunci seperti Gereja, pendeta, biara, katedral, paus, Reformasi, Protestan dan Bibel, maka perbandingannya menjadi sebaliknya. Buku-buku ajar membahas akar-akar Kristen dalam sejarah Yudaisme, dan tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama seperti Ibrahim dan Musa. Konten tentang Kristen awal hanyalah satu bagian dari seluruh konten tentang agama ini.

Sejarah Kristen sebetulnya ditampilkan secara bagus di kebanyakan buku ajar sejarah. Mengapa? Karena Kristen sepenuhnya terpadu dengan sejarah peradaban Eropa. Buku-buku ajar menggambarkan kemunculannya pada akhir masa Imperium Romawi dan persebarannya ke Asia, Afrika dan Eropa. Buku-buku itu menceritakan pengaruh Gereja Katolik Romawi terhadap Eropa abad pertengahan, dan pemisahannya dari Gereja Ortodoks Timur. Buku-buku ajar menyebut kontribusi kultural Kristen dalam pendidikan, seni dan kehidupan sosial.

Buku-buku itu mengurut perubahan-perubahan dalam tradisi Kristen – gerakan intelektual, interaksi dengan sistem politik dan sosial – selama berabad-abad. Buku-buku tersebut mengulas peran Kristen dalam Perang Salib, Renaisans dan Reformasi, Abad Eksplorasi, Revolusi Sains dan sejarah Amerika.

Dibanding dengan Kristen, pembahasan tentang agama-agama dunia lainnya statis dan terbatas. Yahudi ditekankan dalam konteks zaman kuno, tapi menghilang dari cerita seiring munculnya Kristen. Rujukan-rujukan pada rabbi dan filsuf abad ke-13 Maimonides, atau pembantaian minoritas selama Perang Salib tidak cukup untuk menebus kurangnya bahasan intelektual dan kontribusi Yahudi terhadap budaya Eropa, atau komunitas pedagang Yahudi dari Mediteranea terhadap China, di buku-buku tersebut.

Buku-buku ajar menggambarkan Hindu dan Buddha dalam konteks India kuno. Persebaran agama Buddha melalui Jalur Sutra menambah cerita, tapi para pembaca tak banyak diberi tahu tentang perubahannya dari masa ke masa. Buku-buku ajar memang menunjukkan orang-orang yang mengamalkan agama-agama ini sekarang, tapi jurang antara asal-usulnya di zaman kuno dan agama-agama kontemporer sangatlah lebar.

Para pelajar boleh jadi menyimpulkan dari ketidakseimbangan ini bahwa hanya Kristenlah yang memiliki tradisi yang kaya dan multi-aspek. Tudingan bahwa Kristen dikecilkan dalam buku-buku ajar didasarkan pada pembacaan yang distortif terhadap buku-buku tersebut, yang dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa-menjadi-korban di kalangan orang Kristen.

Pembahasan tentang Islam dalam buku-buku ajar serupa dengan Hindu, Buddha dan Yahudi dalam hal fokusnya pada asal-usul awalnya, dan bukan pada perubahannya dari waktu ke waktu. Banyak indeks buku dipengaruhi oleh penggunaan berlebihan istilah-istilah keagamaan dari “Imperium Islam” ketimbang istilah-istilah geografis. Pemakaian istilah-istilah ini berasal dari akademisi Barat, bukan penerbit buku ajar. Istilah-istilah seperti “jihad” dan “syariat” menghadirkan masalah lain. Para pengkritik ingin melihat istilah-istilah kompleks seperti itu ditegaskan sebagai “baik” atau “buruk”, sedangkan para sarjana mengakui kompleksitas istilah-istilah itu dari waktu ke waktu.

Ketrampilan berpikir historis membutuhkan pandangan-pandangan disesuaikan pada konteks. Buku ajar tidak seharusnya memproyeksikan konsep-konsep yang disebarluaskan oleh para ekstremis dewasa ini ke dalam sejarah yang terjadi berabad-abad lalu.

Konten tentang agama-agama dunia bukan hal baru dalam buku ajar, tapi ulasan tentang agama-agama “non-Barat” sering kali tidak akurat dan tidak memadai. Orang-orang Hindu Amerika baru-baru ini mengkritik pembahasan buku ajar atas dasar ini, sebagaimana para sejarawan dan pendidik Muslim telah berupaya memperbaiki akurasi konten tentang Islam.

Hasilnya, pembahasan buku ajar tentang Islam dan agama-agama lain telah diperbaiki dalam beberapa tahun belakangan. Buku-buku ajar sekarang mencerminkan perhatian terhadap keberimbangan dalam jumlah halaman, topik, gambar dan kutipan dari kitab suci. Para editor meminta pendapat dari para peninjau buku dan mempertimbangkan pedoman Amandemen Pertama untuk pengajaran tentang agama.

Reaksi terhadap perbaikan dalam pembahasan tentang agama-agama – tak hanya Islam – telah menghasilkan klaim bahwa pembahasan itu terlalu baik. Sebagian orang ingin memproyeksikan ketakutan terhadap Islam ke dalam sejarah yang berlangsung berabad-abad, sehingga mereduksi hubungan dunia Muslim dengan Barat sebagai benturan peradaban. Upaya-upaya untuk memperbaiki akurasi dirancukan dengan dakwah atau upaya menutupi kesalahan, yang bukan merupakan maksud ataupun hasil dari mengajarkan agama di sekolah umum.

First Amendment Center – lembaga advokasi di Amerika Serikat yang berupaya memelihara dan melindungi kebebasan-kebebasan dalam Amandemen Pertama melalui informasi dan pendidikan – telah mendorong kesalingmengertian di kalangan orang Amerika akan keyakinan yang beragam selama beberapa dasawarsa, dengan menggunakan kerangka yang menawarkan sebuah model yang patut ditiru pada negara-negara lain yang berjuang dengan masalah pluralisme agama. Standar negara mencerminkan konsensus nasional bahwa warga negara harus tahu tentang agama-agama dunia. Oportunisme politik tidak boleh menghalangi para pelajar untuk belajar dalam bingkai kewarganegaraan Amerika.

* Susan Douglass adalah seorang pendidik dan pengarang yang dulu bergabung dengan Council on Islamic Education (kini Institute for Religion and Civic Values). Ia adalah Konsultan Pendidikan di Prince Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown University, dan mahasiswa doktoral di George Mason University. Artikel ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM  seizin pengarang.