HMINEWS.COM – Sekolah online menjadi salah satu alternatif belajar di London. Namun metode ini mengundang kontroversi dari para guru.

Sekali seminggu enam pelajar SD Ashmount di London Utara belajar matematika secara online dengan gurunya yang berjarak ribuan kilometer. SD Asmount adalah satu dari tiga sekolah negeri di Inggris yang memutuskan mengontrak sebagian guru dari India mengajar melalui internet. Mereka dilayani oleh Brightspark Education, sebuah perusahaan yang berkantor di London yang berdiri setahun lalu.

Timbal balik dari murid, sekolah dan orang tua sejauh ini cukup positif. Brightspark mengatakan lebih dari selusin sekolah dan orang tua lebih banyak tertarik mendaftar pelajaran ini.

“Metode ini tak hanya separo lebih murah untuk biaya per orangnya tapi juga dikenal pelajar yang menikmati pemecahan masalahnya,” ujar Rebecca Stacey, Kepala asisten guru Ashmount.

Alternatif ini tentu tak menyenangkan semua pihak. Terutama para guru yang terancam kehilangan pekerjaan ketika pemerintah menekan anggaran belanja.

Pemerintah akan memangkas tiga persen dari anggaran pendidikan. Angka ini cukup kecil dibanding anggaran pensiun dan kesejahteraan.

Di waktu yang sama orang tua juga masih berjuang untuk menemukan guru pribadi yang terjangkau dari segi tempat dan biayanya. Dengan online mereka dapat mengawasi kemajuan anak mereka dengan mendengarkan pelajaran tersebut.

Kontroversi datang dari persatuan guru terbesar di Inggris, NASUWT. Dia mempertanyakan preseden dari Brightspark ini. “Tanpa guru, bagaimana kelanjutan pelajaran dari murid-murid dan interaksi dengan gurunya,” ujar Sekretaris Jenderal NASUWT Chris Keates.

Namun pendiri BrightSpark Tom Hooper mengatakan NASUWT salah paham. “Cara ini adalah tambahan bukan untuk menggantikan guru,” ujarnya.
Ashmount juga mengatakan metode ini hanya sebagai program tambahan bukan menggantikan, terutama pada kelas matematika tradisional.[]Tempointeraktif/Dian