Drama Remaja Lebanon Ciptakan Toleransi Beragama

Catherine Batruni
Mrouj, Lebanon – Kilna Bil Hayy (“Semua Kita Bertetangga”) adalah sebuah drama televisi mingguan di Lebanon yang mengisahkan cerita enam anak yang tinggal di lingkungan yang sama dan sekolah di tempat yang sama. Anak-anak ini berasal dari latar belakang agama dan etnis yang berbeda, yang ada di Lebanon: Lara anak Druze, Kevin anak Kristen, Nadim anak Sunni, Sara anak Syiah, Muhammad anak Palestina, dan Pateel anak Armenia.

Musim kedua memulai pengambilan gambar Agustus lalu, dan menampilkan para pemain drama baru.

Enam aktor utamanya dipilih dari kelompok agama dan etnis mereka sendiri untuk menghindari tudingan bahwa kelompok tertentu dimisrepresentasikan oleh yang lain; masing-masing dari enam tokoh utama itu tetap menggunakan nama pertama mereka dalam skrip drama. Namun, tokoh-tokoh tambahan dipilih murni berdasarkan kemampuan akting mereka dan, dalam banyak kesempatan, mereka memainkan peran seseorang dari luar agama atau etnisnya.

Kini dalam musim keduanya, tayangan ini akan menampilkan 13 episode yang menyinggung beragam isu. Semua episode ini didasarkan pada tema penerimaan terhadap orang lain. Ceritanya berkisar mengenai pengenalan orang lain dalam hal perbedaan agama, perbedaan sosial ekonomi, kesehatan dan cacat fisik, serta usia tua.

Tayangan ini diciptakan dan diproduksi oleh organisasi non-pemerintah Search for Common Ground (SFCG), dengan pendanaan dari Kementerian Luar Negeri Norwegia. Drama ini ditulis oleh Jean Kassis, seorang profesor di Universitas Lebanon yang juga ketua Actors Union, dan disutradarai oleh Elie Habib.

Tayangan ini mendukung sepenuhnya pesan toleransi dan meyakini bahwa tayangan yang berorientasi pada – dan diperankan – remaja adalah jalan terbaik menyampaikan pesan ini ke khalayak. “Ini negeri yang indah,” kata Pateel Hadidian, yang berusia 14 tahun. “Jika orang-orang bisa berhenti saling bertengkar, mereka akan mengerti Lebanon itu seperti apa.”

Bagi aktris pemula berumur 12 tahun dari Beirut, Lara Gharzeddine, ini adalah kesempatan untuk mencapai impian pribadi dan menyebarkan pesan yang benar. “Orangtua mendukung saya melakukan ini karena mereka selalu mengajari saya untuk berteman dengan anak-anak dari semua latar belakang,” katanya. “Anak-anak harus belajar berteman dengan aliran apa pun karena kita semua sama.”

“Ayah saya bilang bahwa saya harus melaksanakan pelajaran ini dengan benar dalam kehidupan nyata dan bahwa hanya anak-anaklah yang bisa menyampaikan pesan ini kepada Lebanon,” kata Kevin Kehdy, yang menambahkan bahwa teman-temannya cemburu padanya dan ingin juga tampil di televisi bersamanya.

Pengambilan gambar musim pertama dimulai dua tahun lalu dan disiarkan mulai musim panas tahun lalu di saluran televisi nasional LBCI. Tayangan ini didasarkan pada serial aslinya dari Macedonia yang berhasil meraik sukses besar.

Search for Common Ground menyatakan tayangan ini sebagai “media yang bertanggung jawab secara sosial” dan merupakan salah satu proyek organisasi ini. “Kita harus menindaklanjuti sehingga tayangan ini tidak berhenti menjadi sekedar hiburan,” kata Direktur Proyek SFCG di Lebanon, Sarah Shouman. “Tujuannya adalah melakukan transformasi sosial dengan saling mengaitkan semua proyek-proyek yang ada.”

Diskusi-diskusi kelompok terarah memberi penilaian positif bagi musim pertamanya, karena toleransi memang isu yang sangat pas di negara rapuh seperti Lebanon. Namun, sebagian orang boleh jadi menyatakan bahwa pertunjukan ini terlalu ambisius di sebuah negara di mana ketegangan – dan identitas – sektarian dan etnis sering mewarnai kehidupan sehari-hari.

Search for Common Ground yakin bahwa meskipun gagasan ini dinilai idealis oleh sebagian orang, budaya toleransi harus dimulai. Diskusi-diskusi kelompok terarah juga menunjukkan bahwa sebagian orang memandang tidaklah realistis ada enam kelompok berbeda tinggal di daerah yang sama, namun masukan dari kelompok-kelompok itu juga menunjukkan bahwa Kilna Bil Hayy telah berhasil mengubah perilaku. Karena banyak anak di Lebanon menerima pandangan orangtua mereka, mereka justru bisa fokus pada apa yang mereka miliki bersama dan menerima perbedaan, sementara orangtua mereka menjadi target audiens tidak langsung.

* Catherine Batruni adalah seorang mahasiswa Lebanon-Amerika yang tinggal di Paris. Ia tengah menempuh studi master dalam Kajian Hubungan Internasional dan Timur Tengah dan bercita-cita menjadi jurnalis. Artikel ringkasan ini disebarluaskan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan HMINEWS.COM seizin pengarang. Tulisan lengkap bisa dilihat di www.dailystar.com.lb.