HMINEWS.COM

 Breaking News

Cultural Studies sebagai Perlawanan Budaya

October 01
21:13 2010

CULTURAL STUDIES SEBAGAI PERLAWANAN BUDAYA

Jasman Al-Mandary

HMINEWS.COM- Mulai tahun-tahun terakhir ini Kompas seringkali menurunkan laporan-laporan menarik seputar peristiwa budaya yang dibahas secara cukup mendalam. Ada banyak tema yang diturunkan: mulai dari peristiwa menjamurnya makanan gaya McDonald, koleksi boneka barbie, gaya rambut punk, sampai pada erotisme dalam media. Semua itu adalah contoh-contoh praksis Cultural Studies (- selanjutnya disingkat C.S.). Laporan itu selalu mengajak pembacanya untuk melihat secara kritis apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang ia alami.

Ulasan budaya di Kompas menunjukkan bahwa C.S. bukanlah hal yang asing bagi kita. Namun, di lain pihak, belum banyak buku dalam bahasa Indonesia yang secara khusus membahas apa itu C.S. Dalam keadaan yang demikian itu, kita patut gembira dengan usaha penerbit Mizan menerjemahkan Cultural Studies For Beginners.

Buku-buku yang membahas C.S. biasanya mulai dengan pengakuan betapa sulitnya mendefinisikan C.S.. Demikian pula Cultural Studies For Beginners ini. Kesulitan ini pertama-tama muncul dari beragam dan luasnya definisi kebudayaan (Culture). Bagi E.B. Tylor (1832-1917), budaya adalah keseluruhan hal yang kompleks termasuk pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sementara itu, Margaret Mead (1910-1978) mendefinisikan budaya sebagai perilaku pembelajaran sebuah masyarakat atau subkelompok. Definsi yang lain lagi diberikan oleh Clifford Geertz. Menurut Geertz, budaya hanyalah serangkaian cerita yang kita ceritakan pada diri kita mengenai diri kita.

Sementara itu, Raymond Williams (1921-1988) berpendapat bahwa budaya mencakup organisasi produksi, struktur keluarga, struktur lembaga yang mengekspresikan atau mengatur hubungan sosial dan bentuk-bentuk komunikasi khas anggota masyarakat.

Dengan latar belakang definisi di atas, penulis buku ini melihat bahwa tampaknya budaya mencakup (hampir) segala sesuatu dan karena itu C.S. mempelajari (hampir) segala sesuatu. Ia mengkaji budaya dalam arti seluas-luasnya (subjek kajian tak terbatas) dan menerobos batas-batas disiplin ilmu konvensional (fiska, biologi, sosiologi, filsafat, lingustik, dst).

Dalam analisisnya, C.S. meminjam secara bebas teori-teori dan metodologi yang dipakai oleh seluruh cabang studi humaniora: sosiolagi, antropologi, psikologi, lingustik, kritik sastra, teori seni dan musikologi, filsafat, maupun ilmu politik.

Keinginan’ untuk mempelajari semua dan menggunakan semua kerangka disiplin ilmu ini merupakan salah satu bentuk perlawanan C.S. terhadap disiplin ilmu saat ini yang cenderung mempelajari subjek kajian dalam perspektif yang terbatas dan terkotak-kotak. Alasan lainnya adalah pandangan bahwa kegiatan intelektual pada bidang-bidang disiplin ilmu itu juga sebagai praksis kebudayaan.

Akibat kecenderungan dan cita-cita menembus batas ini, C.S. sering kali dituduh anti-disiplin dan anti-metode. Oleh mereka yang menjunjung tinggi kompetensi bidang-bidang ilmu, C.S. sering kali dicibir sebagai kegiatan yang ‘main-main’, mau seenaknya sendiri, tidak rigorus dan hanya bagian dari proyek kelangenan saja.

C.S. mengklaim diri sebagai kajian ilmiah sekaligus gerakan politik. Alasannya, pertama, kajian C.S. selalu bertolak dari praktik kebudayaan dan hubungannya dengan kekuasaan. Tujuannya mengungkapkan hubungan kekuasaan dan mengkaji bagaimana hubungan tersebut mempengaruhi dan membentuk praktik kebudayaan.

Kedua, C.S. berupaya memahami budaya dalam konteks sosial dan politik tempat kebudayaan itu mengejawantah. Ketiga, bagi C.S. kajian budaya selalu dipahami sebagai praktik kebudayaan. Kajian bertujuan mengintervensi praktik budaya. Ia tidak hanya meneliti tetapi juga mengkaji kegiatan meneliti itu sendiri serta pengaruhnya terhadap apa yang ia teliti Keempat, C.S. melibatkan dirinya dalam evalusi moral dan praksis politik. Ia mempunyai komitmen rekonstruksi sosial dengan melibatkan diri dalam praktik polik. Ia berupaya memahami dan mengubah struktur dominasi dalam masyarakat.

Mengapa budaya dikaji begitu serius? C.S., mengambil inspirasi dari marxisme, mengasumsikan, bahwa masyarakat industri kapitalis terbagi secara tidak seimbang menurut garis kelas, gender, dan etnik. Namun, C.S. melangkah lebih jauh dengan memandang budaya sebagai arena utama tempat stratifikasi sosial tersebut dimapankan dan diperjuangkan; budaya merupakan tempat kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan subordinat mungkin melawan pemaksaan makna yang mencerminkan kepentingkan kelompok dominan.

Sebagai ilustrasi, analisis C.S. tentang iklan-iklan perawatan kecantikan akan berupaya untuk menyingkap ideologi-ideologi yang ada dibalik imaji-imaji yang mewakili konsep apa itu yang cantik. Iklan-iklan pada umumnya menghubungkan kecantikan dengan “kulit putih”, “rambut lurus”, “kulit halus”, dan “tubuh langsing”. C.S. akan menunjukkan bahwa konsep kecantikan yang demikian ini meminggirkan mereka yang berkulit gelap, berambut ikal dan keriting, berkulit kasar dan mereka yang berbadan gemuk.

Jasman Al-Mandary

Tulisan ini dikirim oleh Yayasan Al Muntazhar melalui facebook.



About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.