Jakarta, HMINEWS.COM- Sebanyak 20 profesor Islam berkumpul di Jakarta (23-25/9/2010) untuk mengeksplorasi bagaimana menggunakan media untuk melawan radikalisme di Indonesia.

Selama 3 hari peserta mendiskusikan teknik untuk menangani topik-topik kontroversial yang mempengaruhi keberagaman di Indonesia baik di media dan di kampus.

“Pelatihan ini sangat penting karena kelompok fundamentalis di Indonesia sudah menggunakan media yang sangat efektif untuk mempengaruhi masyarakat dan menyebarkan budaya takut,” kata Inayah Rohmaniyah, profesor di departemen teologi Islam dan filsafat di Universitas Islam Negeri, Sunan Kalijaga, di Yogyakarta.

“Kami membutuhkan sebuah komunitas orang-orang seperti kita, yang memiliki latar belakang Islam dan pendidikan agama untuk berbicara tentang Islam untuk melawan radikalisme.”

Didin N. Rosidin, dosen di jurusan Humaniora di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Cirebon menjelaskan, “Setelah pelatihan, adalah kewajiban kita sebagai ahli dalam Islam untuk bekerja sama menggunakan media untuk meyakinkan orang-orang bahwa radikal dan ideologi fundamentalis tidak kompatibel dengan Islam, dan hal tersebut tidak mewakili kepentingan mayoritas Muslim. ”

“Ketika kami kembali ke universitas kami masing-masing, penting bagi kita untuk menyebarluaskan pendekatan toleran Islam dalam masyarakat maupun ruang kelas.”

Workshop yang didanai oleh Kedutaan Selandia Baru dan diselenggarakan oleh Search for Common Ground, diisi oleh Dr Muhammad Shafiq, seorang profesor dan direktur eksekutif Pusat Studi dan Dialog Interfaith di Nazaret College di Rochester. Selain itu, Juliette Schmidt, editor senior dari Search for Common Ground Kantor Berita Common dan Solahudin, praktisi media di Indonesia juga hadir mengisi acara.

Peserta yang hadir diantaranya datang dari Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. [] agung/lk