hari Gini, Masih ada saja warga yang ditemukan makan nasi aking

HMINEWS.COM- Negara ini sedang berada pada zaman yang sulit untuk dimengerti, kemanusiaan hampir tercabik-cabik, zaman yang jungkir balik akibat dari hilangnya nurani di dalam diri. Kehidupan rakyat semakin susah, bukan saja karena permasalahan kebijakan yang tak pernah berpihak pada mereka. Tapi juga ketidakpastian akan keberlangsungan hidup.

Setiap hari rakyat disuguhi tontonan sandiwara yang memuakkan, rakyat terus saja disuruh menonton padahal mereka sedang berjuang menyelamatkan hidupnya. Para peguasa tidak peduli apa yang ingin ditonton oleh rakyat, karena rakyat hanyalah benda atau instrumen untuk melengkapi kekuasaan mereka.

Maka tak jarang jika pertanyaan yang menyangkut nasib rakyat dijawab dengan jawaban-jawaban yang hanya sekedar menghibur, hampir tak ada kepastian akan nasib rakyat. Karena tidak adanya komitmen untuk menuntaskannya, sehingga persoalan yang dihadapi rakyat tak kunjung usai. Tak jelas juga apa yang ingin dicapai, mereka sering mengunakan simbol bahwa masalah sedang diatasi. Namun, pada kenyataannya rakyat masih saja menghadapi permasalahan yang sama.

Padahal, tak tahukah mereka atau tak mau tahu bahwa sejak demokrasi lahir di negara ini. Segala otoritas ada di tangan rakyat, tak ada pemerintahan jika tak ada rakyat. Tetapi rakyat bisa hidup meskipun tidak adanya pemerintah. Kekuasaan yang dimiliki oleh rakyat itulah yang kemudian membuat rakyat merasa perlu mengangkat jajaran-jajaran yang mengatur dan mengurusi segala kepentingan mereka, mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah, mulai dari presiden sampai ke pengurus RT.

Sehingga diharapkan dengan adanya pembantu rakyat tersebut, segala kepentingan rakyat dapat teratasi dengan baik. Rakyatlah yang memilih dan mengangkat mereka jika masih dipandang perlu, dalam kurun beberapa tahun yang diatur oleh hukum negara. Hukum yang dibuat untuk mengatur segala kepentingan rakyat.

Mereka digaji dengan uang rakyat, dilengkapi dengan segala fasilitas. Disediakan kantor, diberikan rumah dinas, kendaraan dinas, rakyat menyediakan dana untuk studi banding dan segala perlengkapan untuk membantu pekerjaan mereka. Maka segala sesuatu yang digunakan oleh penguasa di negara ini, baik itu rumah dinas, kendaraan dinas, dan apa saja yang berada di badan mereka yang berasal dari keuangan negara itu adalah milik rakyat.

Mereka diberikan kepercayaan oleh rakyat, dipilih oleh rakyat, diberikan kekuasaan untuk mengatur anggaran, sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, agar dapat mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sehingga dipundak merekalah kesejahteraan rakyat dititipkan.

Rakyat tetap ada dan tetap hidup meskipun tidak ada presiden, gubernur, bupati, walikota, anggota DPR/DPRD, tetapi mereka semua ada dan menjadi seperti itu semata-mata karena adanya rakyat. Pemerintah adalah abdi rakyat, yang bekerja untuk memenuhi amanat rakyat. Betapa besar kekuasaan yang dimiliki oleh rakyat, yang saat ini malah sebaliknya.

Kekuasaan Terbalik

Demi rakyat.. Demi indonesia 5 tahun kedepan… SBY-BOEDIONO …Janji Kampanye SBY

Hampir setiap hari rakyat selalu disuguhi tontonan elite, pejabat negara, anggota dewan, petinggi pemerintahan melakukan korupsi. Mereka hidup dalam kemewahan, bergelimangan harta, terus mendapatkan pelayanan, sibuk memperkaya diri sendiri, merasakan kekenyangan sendiri, padahal disisi lain rakyat menderita kelaparan, busung lapar, tak punya pekerjaan, penyakit menular dan berbagai derita lainnya.

Kepercayaan yang diberikan oleh rakyat untuk mengatur segala kepentingan mereka diabaikan begitu saja, rakyat yang sejatinya menjadi penguasa dan memegang otoritas tertinggi malah diabaikan begitu saja. Mereka malah menjadi penguasa atas rakyat, orang yang seharusnya menjadi pelayan rakyat tapi malah kebalikannya, mereka malah dilayani oleh rakyat. Orang yang sejatinya menjadi abdi rakyat malah menjadi pecundang, yang sepatutnya memelihara ternyata ikut merusak dan yang sewajarnya melindungi ternyata malah mengancam, menggusur.

Kekuasaan pun cenderung korup dan penyalahgunaan terhadap wewenang semakin kentara. Para penegak hukum yang seharusnya melindungi rakyat malah menjadi pemeras rakyat, menakuti-nakuti rakyat dengan seragamnya. Rakyat dibiarkan hidup dalam ketidakpastian, ketidakpastian dalam persediaan pangan, kenaikan harga bahan pokok, kesempatan kerja, keamanan dalam perjalanan, ketidakpastian akan hak milik ketika berhadapan dengan investor-politikus-pengusaha yang rakus dan mata duitan.

Rakyat terus mengais dalam pengharapan akan diperhatikan, didengarkan tapi pada kenyataannya mereka tak dipedulikan, diacuhkan, ditinggalkan, tak pernah diberikan hak untuk mengambil keputusan mengenai nasib mereka, tak pernah diajak berrembug jika menyangkut kepemilikan mereka. Maka tak salah jika kesejahteraan yang dititipkan oleh rakyat bak ke langit tak sampai, ke bumi tak nyata.
Pemimpin Teladan

Mengapa Kami hidup Miskin di negeri yang kaya raya hasil buminya

Satu-satunya milik rakyat yang paling berharga dan bernilai adalah kebebasannya. Jika rakyat telah memilih dan mengangkat para penguasa, berarti mereka telah rela menyerahkan kebebasan mereka tersebut kepada para penguasa itu.

Hal inilah yang diwasiatkan Ramawijaya ketika adiknya Barata hendak mengantikannya menjadi raja Ayodya. Sehingga Rama berpesan agar Barata harus menghargai dan menghormatinya. Tugas seorang pemimpin yang pertama-tama adalah menyuburkan hidup rakyat bukan untuk memerintah mereka.

“Seorang raja harus mampu memerintah dan menjadi raja bagi dirinya sendiri sebelum dia memerintah dan menjadi raja bagi rakyatnya”, yang dimaknai Rama dengan penguasaan terhadap nafsu diri sendiri, kehendak yang bebas. Sehingga tidak ada keinginan untuk memaksakan apa pun kepada rakyat. Dengan kebebasan terhadap kehendak dan kemauan diri yang kaku membuat seorang penguasa terbuka untuk mendengarkan rakyat, menerima aspirasi mereka.

Bagi Rama jika seorang penguasa telah mampu keluar dari kehendak dirinya sendiri, bebas dari segala kemauannya saat itulah ia dapat mencintai rakyatnya. Karena baginya keinginan seorang penguasa tidak selamanya sama dengan keinginan rakyatnya.

Bayangkanlah bagaimana seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menangis dan sholat taubat kepada Allah SWT hanya karena seekor unta yang terpeleset, yang letaknya begitu jauh tetapi masih dalam wilayah kekhalifahannya. Begitu juga dengan suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW, yang menjadi pemimpin selama dua puluh tiga tahun.

Bukan seperti pemimpin di negeri ini yang sibuk memperkaya diri sendiri setelah lama berkuasa, Nabi memilih karakter abdan nabiyya, nabi yang rakyat jelata bukan mulkan nabiyya, nabi yang raja diraja. Seorang pemimpin yang mencintai umatnya lebih dari dirinya sendiri. Umurnya pun dibatasi Tuhan sampai dengan enam puluh tiga tahun, karena bagaimana nasib umat jika berada dibawah kepemimpinan seorang pemimpin yang tua dan pikun. Tidak seperti para penguasa di negeri ini yang semakin tua semakin haus akan kekuasaan.

Yesrita Er

Guru SMP Negeri 2 Riau Silip

Email : yer1903@yahoo.com