illustrasi : Mahasiswa mengekspresikan aspirasinya dengan aksi teatrikal gantung diri saat penanganan kasus korupsi di Asahan mandeg (foto:antara)

HMINEWS.COM, Kisaran– Aksi tetrikal ‘gantung diri’ mewarnai aksi unuk rasa yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEMNUS) di bundaran Tugu Perjuangan, Jalan Imam Bonjol, Kisaran, Kamis (23/9). Aksi itu sengaja dilakukan aktivis itu sebagai bentuk protes atas lambannya Kejaksaan Negeri (Kejari) Kisaran mengungkap kasus dugaan korupsi Rp5,8 miliar di Dinas PU Asahan.

Teatrikal gantung diri itu diprankan Abby Hernanda Manurung, salah seorang mahasiswa Universitas Asahan (UNA) bersama rekannya dari perguruan tinggi lainnya seperti Husni Mustafa, Wiga Hariadi, Baron Kelana, Nasrun ,Subiakto G dan dihadiri Kajian Informasi Perempuan Asahan (Kipas) diwakili Siti Nurbaya SH dan rekannya.

Sekira pukul 11.30 WIB, para pengunjuk rasa sudah tiba di lokasi tempat dilaksankannya terikal itu. Mereka yang berjumlah puluhan orang datang dengan mengenderai sepedamotor.

Setelah beberapa saat tiba di bundaran tugu perjuangan itu, di antara mereka ada yang mempersiapkan gantungan dari papan broti yang sengaja di bawa ke tempat itu.

Setelah papan broti dua batang sepanjang 2,5 meter di letakkan di atas aspal, lalu satu batang broti lagi dengan ukuran 1 meter diletakkan di ujung dua broti tersebut dan kemudian di pakukan.

Setelah itu, diikat tali gantungan di papan broti yang dipalangkan di ujung dua batang broti itu. Lalu didirikan dan kemudian di ujung tali yang diikatkan tadi, dibuat bentuk lingkaran. Setelah itu leher Abi dijerat ujung tali tersebut sehingga tampak dengan jelas posisi Abi gantung diri.

Abi yang tergantung beberapa saat diiringi dengan orasi yang disampaikan rekan-rekannya yang lain. Dalam orasi itu disebutkan bahwa tetrikal gantung diri tersebut merupakan gambaran bahwa hukum di Asahan telah mati suri. Hal itu tidak lain karena kasus dugaan korupsi senilai Rp5,8 miliar di Dinas PU yang telah dilaporkan ke Kejari sudah lebih dari setahun, namun tidak jelas jantrungnya.

Sedang dana senilai Rp5,8 miliar semula diperuntukkan untuk pengerjaan 4 paket proyek perencanaan teknis pada tahun 2008. Bahkan mereka menilai keempat paket proyek perencanaan teknis tahun 2008 itu fiktif karena tidak diumumkan Dinas PU sebagaimana pengumuman pelelangan umum Nomor:21/PAN-PU/DPU-AS/APND/2008. Sedang dalam LKPJ Bupati Asahan tahun 2008, keempat paket proyek diduga tak pernah ditenderkan, tapi dinyatakan telah terealisasi.

Adapun perencanaan pembangunan jalan disebutkan telah terealisasi 98,96 persen dengan anggaran dicairkan sebesar Rp2.111.850.000, perencanaan pembangunan jembatan terealisasi 99,40 persen, anggaran Rp745.500.000. Perencanaan teknis pembangunan pengairan terealisasi 99.40 persen, senilai Rp1.152.750.000.

Perencanaan teknis pembangunan pemukiman dan penataan lingkungan terealisasi 99,52 persen senilai Rp1.181.165.000. Total realisasi anggaran dalam pembukuan Rp5.851.265.000.

Selama aksi itu digelar, tampak petugas Polres Asahan melakukan pengawalan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Aksi itu juga menarik perhatian banyak orang, khusus yang lalu lalang dari jalan protokoldi inti kota Kisaran itu.

Di tempat terpisah, Sekjen LS-ADI Aditia Prahmana yang diketahui telah melaporkan secara resmi kasus dugaan korupsi ini ke Kejari Kisaran setahun lalu juga menyayangkan kinerja Kejari Kisaran yang dinilainya lamban. Sehingga kasus ini tidak jelas ujung pangkalnya.

Kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum harusnya segera menyatakan proses kasus tersebut, sehingga masyarakat Asahan tidak tertunggu-tunggu. “Jika dinilai kasus ini tidak cukup bukti, tolong di SP 3 kan dan jangan dibiarkan mengambang . Kejari harusnya bersikap jentelmen dan transparan, kalau tidak terbukti, katakan tak terbukti, kalau terbukti tolong dilimpahkan ke pengadilan,” ucapnya.[]metro/dni